Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Nonton Konser Tanpa Earplug, Apa Risikonya untuk Telinga?
Ilustrasi nonton konser (pexels.com/Maor Attias)
  • Suara konser dapat mencapai sekitar 94–110 desibel, sedangkan durasi aman makin pendek ketika suara makin keras.

  • Telinga berdenging atau pendengaran terasa teredam setelah konser merupakan tanda telinga mengalami tekanan akibat kebisingan.

  • Earplug yang terpasang dengan benar terbukti mengurangi risiko gangguan pendengaran sementara dan tinnitus setelah paparan musik keras.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Konser usai, lampu panggung, sudah dimatikan, dan kamu pun bergegas pulang. Kamu merasa suara seperti teredam, seolah kedua telinga tersumbat. Kondisi ini sering dianggap sebagai bagian normal dari pengalaman menonton konser.

Padahal, pendengaran yang terasa teredam atau telinga berdenging setelah konser merupakan tanda bahwa sistem pendengaran baru saja menerima paparan suara berlebihan. Kondisi ini memang biasanya bisa membaik, tetapi bukan berarti tidak ada risiko, terutama jika pengalaman serupa terjadi berulang kali.

Menonton konser tanpa earplug tidak selalu langsung menyebabkan tuli permanen. Namun, kombinasi antara volume tinggi, posisi dekat pengeras suara, dan durasi acara yang panjang dapat meningkatkan risiko gangguan pendengaran sementara hingga kerusakan permanen.

1. Pendengaran bisa terasa teredam untuk sementara

Konser dan acara olahraga dapat menghasilkan suara sekitar 94–110 desibel. Sebagai perbandingan, percakapan normal berada di kisaran 60–70 desibel. Makin keras suaranya, makin sedikit waktu yang dapat dianggap aman bagi telinga.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kamu dapat mendengarkan suara 80 desibel hingga sekitar 40 jam per minggu. Pada 90 desibel, waktunya turun menjadi sekitar empat jam. Ketika suara mencapai 100 desibel, durasi amannya hanya sekitar 20 menit per minggu, jauh lebih singkat dibanding konser yang biasanya berlangsung selama beberapa jam.

Paparan tersebut dapat menyebabkan temporary threshold shift, yaitu ambang pendengaran meningkat untuk sementara. Suara menjadi terasa lebih pelan atau tidak jernih, telinga terasa penuh, dan kamu mungkin kesulitan mengikuti percakapan. Pendengaran dapat pulih dalam 16–48 jam, tetapi pemulihan yang terasa normal tidak selalu menjamin bahwa telinga benar-benar bebas dari dampak jangka panjang.

2. Memicu tinitus atau telinga berdenging

Tinitus adalah suara yang terdengar tanpa sumber dari luar, misalnya denging, desis, dengung, atau suara seperti siulan. Keluhan ini sering muncul setelah paparan musik keras dan dapat berlangsung beberapa menit, jam, atau lebih lama.

Dalam uji klinis acak terhadap 51 orang yang menghadiri festival selama 4,5 jam dengan rata-rata tingkat suara 100 desibel, tinitus baru muncul pada 40 persen peserta yang tidak menggunakan earplug. Pada kelompok yang memakai earplug, angkanya 12 persen.

Denging yang hilang keesokan harinya tetap perlu dianggap sebagai peringatan. Tinitus dapat menjadi menetap setelah paparan yang berulang, terutama jika telinga terus kembali terpapar kebisingan sebelum benar-benar pulih.

3. Kerusakan pendengaran dapat menumpuk dan menjadi permanen

ilustrasi nonton konser (pexels.com/george charry)

Di dalam koklea terdapat sel rambut sensorik yang membantu mengubah getaran suara menjadi sinyal listrik untuk otak. Suara keras dapat merusak dan akhirnya mematikan sel-sel tersebut. Berbeda dari sebagian hewan, sel rambut pada telinga manusia tidak tumbuh kembali setelah hilang.

Kerusakan akibat kebisingan sering berkembang perlahan. Kamu mungkin masih bisa mendengar suara, tetapi mulai kesulitan memahami kata-kata di tempat yang ramai. Nada tinggi, seperti suara burung, bel, maupun beberapa konsonan dalam percakapan, juga bisa menjadi sulit didengar.

Satu paparan yang sangat keras dapat menyebabkan gangguan permanen secara langsung. Namun, pada pengunjung konser, risikonya lebih sering terakumulasi dari paparan berulang—konser, festival, klub malam, lalu dilanjutkan mendengarkan musik keras melalui earphone.

4. Suara sehari-hari bisa terdengar terlalu keras

Paparan kebisingan juga dikaitkan dengan hiperakusis, yaitu berkurangnya toleransi terhadap suara. Suara biasa seperti piring beradu, anak menangis, kendaraan lewat, atau orang berbicara dapat terasa terlalu keras dan tidak nyaman.

Kondisi ini tidak terjadi pada setiap orang yang menonton konser tanpa earplug. Namun, sebuah tinjauan ilmiah menyimpulkan bahwa paparan musik dan kebisingan rekreasional dapat berkontribusi pada gangguan pendengaran, tinitus, dan hiperakusis, bahkan ketika pemeriksaan audiometri awal masih terlihat normal.

Apakah earplug efektif?

Dari uji klinis di festival musik, gangguan pendengaran sementara ditemukan pada 42 persen telinga peserta tanpa perlindungan, dibanding hanya 8 persen pada kelompok yang menggunakan earplug. Berdasarkan penelitian tersebut, penggunaan earplug pada sekitar tiga orang dapat mencegah satu kasus gangguan pendengaran sementara.

Earplug khusus musik atau high-fidelity earplugs dirancang untuk menurunkan tingkat suara secara lebih merata sehingga karakter musik dan percakapan dapat tetap terdengar lebih jelas. Earplug busa biasa juga dapat melindungi telinga, asalkan dimasukkan dengan benar dan tidak sering dilepas selama pertunjukan.

Namun, mentang-mentang pakai earplug bukan berarti aman untuk menikmati konser dekat pengeras suara. Perlindungan yang sebenarnya bergantung pada jenis produk, kecocokan ukuran, cara pemasangan, dan apakah earplug tetap terpasang sepanjang paparan.

Cara lebih aman menikmati konser

ilustrasi earplug (unsplash.com/Mark Paton)

Pasang earplug sebelum pertunjukan utama dimulai, bukan setelah telinga mulai berdenging.

Jauhi pengeras suara dan pilih posisi yang tidak langsung berhadapan dengan sumber suara. Ambil jeda beberapa menit di area yang lebih tenang jika acara berlangsung lama.

Jika kamu harus berteriak agar dapat didengar oleh teman yang berdiri sejauh satu lengan, lingkungan tersebut kemungkinan sudah terlalu keras. Aplikasi pengukur desibel dapat memberikan perkiraan tingkat suara, meskipun ponsel bukan pengganti alat ukur profesional.

Setelah konser, beri telinga waktu istirahat. Hindari melanjutkan malam dengan earphone bervolume tinggi, klub malam, atau lingkungan bising lainnya. Tidak ada makanan, vitamin, obat tetes, atau metode rumahan yang dapat menetralkan paparan suara keras setelah kerusakan terjadi.

Kapan perlu memeriksakan telinga?

Lakukan pemeriksaan ke dokter THT atau audiolog jika denging atau pendengaran teredam tidak membaik setelah satu hingga dua hari, sering muncul setiap selesai terpapar suara keras, atau kamu mulai kesulitan mengikuti percakapan di tempat ramai.

Penurunan pendengaran yang muncul mendadak dan jelas, terutama hanya pada satu telinga, sebaiknya jangan dibiarkan. Begitu pula jika disertai pusing berputar, nyeri hebat, keluar cairan atau darah dari telinga, maupun terjadi setelah suara ledakan. Kondisi tersebut butuh evaluasi medis segera.

Nonton konser tanpa earplug dapat menyebabkan pendengaran teredam, tinitus, dan kerusakan yang terakumulasi menjadi permanen. Dengan melindungi telinga, kamu bisa menikmati konser berikutnya dengan pendengaran yang tetap optimal.

Referensi

National Institute for Occupational Safety and Health. “Understand Noise Exposure.” Diakses Juli 2026.

National Institute on Deafness and Other Communication Disorders. “Noise-Induced Hearing Loss.” Diakses Juli 2026.

Pienkowski, Martin. “Loud Music and Leisure Noise Is a Common Cause of Chronic Hearing Loss, Tinnitus and Hyperacusis.” International Journal of Environmental Research and Public Health 18, no. 8 (2021): 4236. https://doi.org/10.3390/ijerph18084236.

Ramakers, Geerte G. J., Véronique J. C. Kraaijenga, Guido Cattani, Gijsbert A. van Zanten, and Wilko Grolman. “Effectiveness of Earplugs in Preventing Recreational Noise–Induced Hearing Loss: A Randomized Clinical Trial.” JAMA Otolaryngology–Head & Neck Surgery 142, no. 6 (2016): 551–58. https://doi.org/10.1001/jamaoto.2016.0225.

World Health Organization. “Deafness and Hearing Loss: Safe Listening.” Diakses Juli 2026.

WHO. "Hearing Protection Use in Recreational Music Exposure." Diakses Juli 2026.

Curated For You

Editorial Team

Related Article