- Telinga berdenging yang menetap.
- Sulit mendengar suara bernada tinggi.
- Sulit mengikuti percakapan di tempat ramai.
- Merasa perlu menaikkan volume lebih tinggi dari biasanya.
Volume Earphone 60 Persen, Apakah Selalu Aman?

Volume 60 persen adalah patokan praktis, bukan jaminan aman untuk semua perangkat dan semua kondisi.
Risiko gangguan pendengaran dipengaruhi oleh volume, durasi, dan seberapa sering telinga terpapar suara keras.
Gunakan earphone yang pas atau noise-cancelling, batasi durasi, aktifkan fitur pemantau audio, dan segera periksa bila telinga berdenging atau suara terasa mendem setelah mendengarkan audio.
Volume earphone tidak melewati 60 persen, tidak mendengarkan audio terlalu, dan memberi telinga waktu untuk beristirahat sering menjadi panduan sederhana dalam menjaga kesehatan pendengaran. Namun, volume 60 persen ini tidak selalu memberi tahu seberapa keras suara yang benar-benar diterima oleh telinga.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), keamanan pendengaran tidak hanya ditentukan oleh volume earphone. Durasi mendengarkan dan seberapa sering telinga terpapar suara keras sama pentingnya.
Suara 80 dB dapat didengarkan hingga sekitar 40 jam per minggu, tetapi bila naik menjadi 90 dB, waktu aman turun menjadi sekitar 4 jam per minggu.
Table of Content
1. Volume 60 persen bukan ukuran suara sebenarnya
Persentase volume adalah angka dari perangkat, bukan ukuran desibel. Dua smartphone berbeda, dua jenis earphone berbeda, atau dua aplikasi audio berbeda bisa menghasilkan tingkat suara yang tidak sama meski sama-sama diatur pada 60 persen.
Sebuah studi yang mengukur keluaran suara dari beberapa model smartphone menemukan bahwa tingkat suara pada volume yang dianggap berisiko tidak sama antarperangkat dan genre musik.
Pada beberapa model, level volume berisiko pertama berada sekitar 84,1 dBA, sedangkan model lain mencapai 92,4 dBA; pada volume maksimum, salah satu perangkat mencapai 113,1 dBA.
Para peneliti menyimpulkan bahwa tanda risiko volume dan keluaran suara perlu distandarkan karena hasilnya berbeda antarperangkat.
Memang, 60 persen umumnya lebih aman dibanding volume maksimal, tetapi yang lebih penting adalah berapa desibel yang masuk ke telinga dan berapa lama kamu mendengarkannya.
2. Durasi bisa membuat volume yang terasa sedang tetap berisiko
Masalah earphone sering bukan hanya karena terlalu keras, tetapi karena terlalu lama. Mendengarkan podcast, rapat online, video pendek, musik, dan game dalam satu hari bisa membuat total paparan suara menumpuk.
Risiko gangguan pendengaran ditentukan oleh seberapa keras suara, berapa lama paparan berlangsung, dan seberapa sering paparan itu berulang. Untuk konteks kebisingan kerja, batas rekomendasi 85 dBA rata-rata selama 8 jam; setiap kenaikan 3 dBA membuat waktu paparan yang disarankan berkurang setengah.
Contoh yang mudah dipahami: 80 dB masih bisa ditoleransi lebih lama, tetapi 100 dB hanya sekitar 20 menit per minggu. Jadi, lama pakai earphone juga perlu dibatasi walaupun volumenya tidak keras.
3. Lingkungan bising sering membuat volume naik tanpa sadar

Saat memakai earphone di KRL, bus, motor, kafe ramai, atau gym, orang cenderung menaikkan volume agar suara terdengar jelas. Dalam kondisi seperti ini, mendengarkan dengan volume 60 persen mungkin tidak cukup.
Penggunaan earphone yang pas dan fitur noise-cancelling disarankan karena dapat mengurangi kebutuhan menaikkan volume di tempat bising. Kamu juga disarankan menggunakan aplikasi atau fitur bawaan ponsel untuk memantau paparan suara.
Kalau kamu harus menaikkan volume agar bisa mendengar jelas, itu tanda lingkungan mungkin terlalu bising. Lebih aman menunda mendengarkan audio, memakai fitur noise-cancelling, atau pakai speaker jika memungkinkan.
4. Jangan mengabaikan tanda gangguan pendengaran ini
Gangguan pendengaran akibat bising sering terjadi perlahan. Awalnya, kamu mungkin cuma mengalami telinga berdenging (tinitus) setelah melepas earphone, suara terdengar redam, atau sulit menangkap percakapan di tempat ramai.
Paparan suara keras dapat membuat sel sensorik di telinga lelah. Keluhan seperti penurunan pendengaran sementara atau telinga berdenging bisa membaik. Namun, paparan keras yang berulang dapat menyebabkan kerusakan permanen dan gangguan pendengaran akibat bising.
Tanda yang perlu diwaspadai antara lain:
Jika mengalami tanda-tanda di atas, sebaiknya periksa ke dokter THT atau audiolog.
5. Cara paling aman memakai earphone
Berikut cara aman memakai earphone agar pendengaranmu terjaga:
- Terapkan aturan 60 persen sebagai batas awal, bukan satu-satunya aturan.
- Jika memungkinkan, unduh fitur pemantau level audio headphone; usahakan rata-rata paparan tetap di bawah 80 dB.
- Ambil jeda setelah mendengarkan audio dalam waktu lama.
- Pilih earphone yang pas di telinga atau noise-cancelling agar kamu tidak perlu menaikkan volume di tempat bising.
- Hindari tidur sambil memakai earphone semalaman karena durasinya panjang dan kamu tidak sadar jika volume terlalu tinggi.
- Untuk anak-anak, disarankan penggunaan speaker bila memungkinkan, headphone dengan fitur pembatas volume, serta jeda dari perangkat agar telinga bisa beristirahat.
Jadi, volume earphone 60 persen bukan garansi pendengaran pasti aman, karena keamanan telinga juga ditentukan oleh kombinasi volume dalam desibel, durasi mendengarkan, frekuensi paparan, jenis perangkat, dan kebisingan sekitar.
Referensi
World Health Organization. “Deafness and Hearing Loss: Safe Listening.” Diakses Juli 2026.
National Institute for Occupational Safety and Health. “Noise-Induced Hearing Loss.” Centers for Disease Control and Prevention." Diakses Juli 2026.
Kim, Gibbeum, and Woojae Han. “Sound Pressure Levels Generated at Risk Volume Steps of Portable Listening Devices: Types of Smartphone and Genres of Music.” BMC Public Health 18 (2018).
Dillard, Lauren K., et al. “Prevalence and Global Estimates of Unsafe Listening Practices in Adolescents and Young Adults: A Systematic Review and Meta-Analysis.” BMJ Global Health 7, no. 11 (2022): e010501.
![[QUIZ] Pilih Waktu Larimu, Kami Tebak Kebiasaan Sehat yang Perlu Kamu Pertahankan](https://image.idntimes.com/post/20260709/upload_8acff9f1de8b26c968870d3b35b3e89b_70dfa521-21d0-4420-a20f-ca9b889bb18c.jpg)






![[QUIZ] Berapa Usia Otak Kamu, Berani Tes?](https://image.idntimes.com/post/20251001/milad-fakurian-58z17lnvs4u-unsplash_371012b9-b4c4-4084-93f2-e0f7a69a46ee.jpg)










