Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Anak Sering Pakai Earphone, Orang Tua Perlu Tahu Ini

Anak Sering Pakai Earphone, Orang Tua Perlu Tahu Ini
ilustrasi anak remaja mendengarkan musik di headset (pexels.com/Karolina Grabowska)
Intinya Sih
  • Earphone tidak otomatis merusak pendengaran, tetapi risiko meningkat jika volumenya keras, durasinya lama, dan dipakai setiap hari tanpa jeda.

  • Remaja sering tidak sadar bahwa volume yang terasa biasa buat mereka bisa terlalu tinggi, apalagi saat dipakai di jalan, kendaraan umum, gym, atau tempat ramai.

  • Orang tua bisa membantu dengan membuat aturan volume, durasi, jeda mendengar, fitur pembatas volume, dan pemeriksaan bila anak sering telinga berdenging atau sulit mendengar percakapan.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Earphone sudah menjadi bagian dari kehidupan remaja untuk mendengarkan musik, menonton video, main game, ikut kelas online, menelepon teman, sampai sekadar menciptakan ruang pribadi di tengah kebisingan.

Kadang orang tua capek melihat earphone sering terpasang di telinga anak dalam waktu lama. Melarang rasanya tidak realistis, dibiarkan justru mengkhawatirkan.

Memakai earphone setiap hari tidak otomatis berbahaya. Yang membuatnya berisiko adalah kombinasi volume terlalu keras, durasi terlalu lama, dan paparan berulang. Sebagai gambaran, mendengarkan suara 80 dB bisa aman hingga sekitar 40 jam per minggu, tetapi pada 90 dB durasi aman turun menjadi sekitar 4 jam per minggu, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Table of Content

1. Risiko utamanya adalah gangguan pendengaran akibat bising

1. Risiko utamanya adalah gangguan pendengaran akibat bising

Gangguan pendengaran akibat bising bisa terjadi perlahan. Awalnya, anak mungkin cuma lebih sulit menangkap suara bernada tinggi, sering meminta orang mengulang ucapan, atau kesulitan mengikuti percakapan di tempat ramai.

Paparan suara keras bisa menyebabkan gangguan pendengaran akibat bising (noise-induced hearing loss). Suara pada atau di bawah 70 dBA umumnya kecil kemungkinannya menyebabkan gangguan pendengaran, tetapi paparan lama atau berulang pada suara 85 dBA ke atas dapat menyebabkan kerusakan pendengaran.

Sebagai catatan, mendengarkan musik melalui headphone pada volume maksimal dapat mencapai sekitar 94–110 dBA.

Pada remaja, isu ini penting karena kebiasaannya sering berlangsung lama dan berulang. Tinjauan sistematis dan metaanalisis dalam BMJ Global Health memperkirakan sekitar 0,67–1,35 miliar remaja dan dewasa muda di dunia berisiko mengalami gangguan pendengaran akibat praktik mendengarkan yang tidak aman, termasuk dari perangkat audio personal dan tempat hiburan bising.

2. Remaja sering tidak sadar volumenya sudah terlalu keras

Telinga bisa beradaptasi dengan suara keras. Volume yang awalnya terasa kencang lama-lama terasa normal, lalu anak menaikkannya lagi saat berada di tempat ramai.

American Academy of Pediatrics (AAP) menyebut anak dan remaja sering tidak mengenali paparan suara yang berbahaya, termasuk dari headphone atau acara yang bising. AAP juga menekankan bahwa gangguan pendengaran sensorineural akibat paparan bising berlebihan biasanya tidak dapat dipulihkan.

Petunjuk mudah bagi orang tua:

  • Kalau anak memakai earphone dan orang di sebelahnya masih bisa mendengar suara musiknya, volumenya kemungkinan terlalu keras.
  • Kalau anak harus menaikkan suara saat berbicara dengan orang yang jaraknya sekitar satu lengan, lingkungan sekitarnya juga mungkin terlalu bising untuk mendengarkan audio dengan aman.

3. Telinga berdenging setelah pakai earphone bukan hal sepele

ilustrasi telinga sakit (freepik.com/freepik)
ilustrasi telinga sakit (magnific.com/freepik)

Telinga berdenging, terasa penuh, atau suara sekitar terdengar teredam setelah melepas earphone adalah tanda telinga baru saja menerima paparan suara berlebihan. Keluhan ini bisa membaik, tetapi jika sering terjadi, risikonya perlu dianggap serius.

Tanda yang perlu diperhatikan antara lain telinga berdenging terus-menerus, sulit mendengar suara bernada tinggi seperti bel, kicau burung, telepon, atau alarm, serta sulit mengikuti percakapan di tempat ramai. Jika mengalaminya, sebaiknya temui dokter spesialis THT atau audiolog.

Orang tua juga perlu peka jika anak mulai sering menaikkan volume TV, tidak merespons saat dipanggil, tampak cuek padahal sebenarnya tidak mendengar, atau nilai dan konsentrasinya terganggu karena sulit menangkap instruksi.

4. Batas aman

Rekomendasi "60 persen volume” cukup membantu, tetapi tidak selalu sempurna. Sebab, 60 persen di satu perangkat belum tentu sama dengan 60 persen di perangkat lain. Jenis earphone, kebisingan sekitar, dan aplikasi yang digunakan juga memengaruhi paparan suara.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyarankan menjaga volume perangkat tidak lebih dari 60 persen dari volume maksimal, menggunakan headphone yang pas atau memiliki fitur peredam bising agar tidak perlu menaikkan volume di tempat ramai, memberi jeda, serta memantau level suara bila perangkat menyediakan fitur tersebut.

Untuk anak dan pengguna yang lebih sensitif, standar WHO-ITU untuk perangkat audio personal memakai acuan lebih rendah, yaitu 75 dB selama 40 jam per minggu.

Standar ini juga mendorong adanya fitur pemantauan paparan suara, pembatas volume, dan kontrol orang tua.

5. Orang tua tidak perlu melarang sepenuhnya

Pendekatan yang lebih realistis adalah membuat aturan yang jelas dan bisa dijalankan.

  • Batasan volume. Minta anak memilih volume paling rendah yang masih nyaman, bukan volume yang membuat suara luar benar-benar hilang. Jika anak sering menaikkan volume karena lingkungan bising, pertimbangkan headphone yang lebih pas atau noise-cancelling.
  • Atur jeda mendengar. Misalnya, setelah 45–60 menit memakai earphone, lepas dulu beberapa menit. Jeda ini memberi kesempatan telinga beristirahat.

Gunakan fitur bawaan ponsel. Banyak perangkat sudah memiliki pengaturan batas volume, peringatan headphone level, atau pemantauan paparan suara.

Untuk anak yang lebih muda atau remaja yang sulit mengontrol volume, fitur parental control bisa membantu.

Sebaiknya aturan ini tidak hanya dipasang diam-diam. Jelaskan alasannya agar anak belajar menjaga kesehatan pendengarannya sendiri.

6. Jangan lupakan keamanan dan kebersihan

Sepasang earphone nirkabel berwarna hitam dengan wadah pengisi daya terbuka diletakkan di atas permukaan meja gelap.
ilustrasi earphones (unsplash.com/Roger Cai)

Earphone juga bisa membuat anak kurang sadar lingkungan, terutama saat berjalan, menyeberang, naik sepeda, atau berada di jalan ramai. Dalam situasi seperti ini, minta anak menurunkan volume, memakai mode transparansi jika ada, atau melepas earphone sementara.

Kebersihan juga penting. Earphone yang dipakai setiap hari terpapar keringat, debu, dan kotoran telinga. Biasakan anak membersihkannya secara berkala, tidak saling meminjam earphone dengan teman, dan tidak memakainya jika telinga nyeri, gatal parah, keluar cairan, atau terasa penuh.

Bawa anak ke dokter THT atau audiolog jika ia mengalami:

  • Telinga berdenging setelah memakai earphone.
  • Pendengaran terasa menurun atau teredam.
  • Sering meminta orang mengulang ucapan.
  • Sulit mengikuti percakapan di tempat ramai.
  • Sering menaikkan volume TV atau ponsel.
  • Nyeri telinga, keluar cairan, atau rasa penuh yang menetap.
  • Keluhan hanya terjadi pada satu telinga.
  • Riwayat paparan suara keras, seperti konser, gim dengan headset keras, atau acara olahraga bising.

Gangguan pendengaran pada anak dan remaja bisa memengaruhi komunikasi, belajar, dan perkembangan sosial. Bahkan gangguan pendengaran ringan dapat berdampak negatif pada pemahaman bahasa, komunikasi, pembelajaran di kelas, dan perkembangan sosial anak.

Referensi

World Health Organization. “Deafness and Hearing Loss: Safe Listening.” Diakses Juli 2026.

World Health Organization and International Telecommunication Union. "Safe Listening Devices and Systems: A WHO-ITU Standard." Diakses Juli 2026.

National Institute on Deafness and Other Communication Disorders. “Noise-Induced Hearing Loss.” Diakses Juli 2026.

National Institute on Deafness and Other Communication Disorders. “How Loud Is Too Loud?” Diakses Juli 2026.

American Academy of Pediatrics. “Noise Exposure.” Diakses Juli 2026.

Dillard, Lauren K., Malachi Ochieng Arunda, Lucero Lopez-Perez, Ricardo X. Martinez, Lucía Jiménez, and Shelly Chadha. “Prevalence and Global Estimates of Unsafe Listening Practices in Adolescents and Young Adults: A Systematic Review and Meta-Analysis.” BMJ Global Health 7, no. 11 (2022): e010501.

Share Article
Curated For You
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F

Related Articles

See More