- Hindari berendam dengan air sangat panas atau terlalu lama.
- Berdiri secara perlahan setelah berendam atau duduk lama.
- Jangan memaksakan diri mengejan berkepanjangan. Konstipasi yang berulang perlu diperiksakan agar penyebab dan penanganannya dapat ditentukan.
- Hentikan aktivitas jika muncul nyeri dada, jantung berdebar tidak biasa, sesak, pandangan menggelap, atau rasa hampir pingsan.
- Lansia dan orang dengan penyakit jantung sebaiknya memberi tahu anggota keluarga sebelum mandi serta menghindari mandi sendirian ketika sedang lemas, pusing, atau tidak sehat.
Mengapa Henti Jantung Bisa Terjadi di Kamar Mandi?

Kamar mandi bukan penyebab langsung henti jantung. Penyakit yang mendasari, perubahan tekanan darah saat berendam, atau mengejan dapat menjadi pemicu pada orang yang rentan.
Bukti mengenai risiko saat mandi terutama berasal dari kebiasaan berendam air panas di Jepang. Temuan ini tidak berarti mandi air hangat biasa berbahaya bagi orang sehat.
Kamar mandi merupakan ruang tertutup sehingga orang yang kolaps sering terlambat ditemukan. Keterlambatan CPR dan penggunaan AED memperkecil peluang bertahan hidup.
Pintu kamar mandi tertutup lebih lama dari biasanya. Ketika seseorang memanggil, tidak ada jawaban. Setelah diperiksa, orang di dalam sudah tidak merespons dan hanya terengah-engah.
Kejadian seperti ini sering dianggap sebagai akibat langsung dari mandi atau buang air besar. Kenyataannya, kamar mandi dapat menjadi tempat henti jantung terjadi atau ditemukan.
Table of Content
Pahami dulu bedanya henti jantung dan serangan jantung
Henti jantung terjadi ketika gangguan pada sistem listrik jantung membuat organ tersebut berhenti memompa darah secara efektif. Orang yang mengalaminya akan mendadak tidak merespons, tidak bernapas normal, atau hanya mengeluarkan napas tersengal.
Kondisi ini berbeda dari serangan jantung, yaitu kondisi tersumbatnya aliran darah menuju otot jantung. Serangan jantung tidak selalu membuat jantung berhenti, tetapi dapat memicu henti jantung pada sebagian kasus.
Beberapa kondisi di kamar mandi dapat menambah beban pada tubuh atau menjadi pemicu pada orang yang sudah memiliki penyakit jantung.
1. Berendam air panas dapat mengubah tekanan darah
Saat tubuh masuk ke air panas, pembuluh darah di kulit melebar. Tekanan air pada tubuh juga mendorong lebih banyak darah kembali ke dada. Kombinasi tersebut dapat mengubah tekanan darah, denyut jantung, dan beban kerja jantung.
Pada sebagian orang, tekanan darah dapat turun setelah beberapa menit berendam atau ketika berdiri untuk keluar dari bak. Kondisi ini dapat menyebabkan pusing hingga kehilangan kesadaran. Jika terjadi di dalam bak mandi, wajah dapat terendam sehingga risiko tenggelam ikut muncul.
Dalam penelitian pada orang lanjut usia di Jepang, 12 peserta mengalami perubahan elektrokardiogram ketika berendam, termasuk denyut tambahan dari serambi jantung dan takikardia ventrikel—irama sangat cepat yang berasal dari bilik jantung. Perubahan lebih besar terlihat saat musim dingin, ketika tubuh berpindah dari ruangan dingin ke air panas.
Namun, penelitian tersebut menelaah kebiasaan berendam air panas ala Jepang, bukan mandi dengan pancuran air hangat. Temuan ini tidak membuktikan mandi biasa dapat membuat jantung orang sehat mendadak berhenti.
Risiko lebih perlu diperhatikan pada lansia serta orang dengan penyakit jantung koroner, gangguan irama jantung, gagal jantung, atau tekanan darah yang tidak terkontrol, terutama apabila air sangat panas dan waktu berendam terlalu lama.
2. Mengejan saat buang air besar memengaruhi kerja jantung

ilustrasi mengejan saat buang air besar (vecteezy.com/nuttawan jayawan) Mengejan kuat dan berkepanjangan dikenal sebagai manuver Valsalva. Ketika seseorang menahan napas sambil mengejan, tekanan di dalam dada meningkat. Aliran darah yang kembali ke jantung untuk sementara berkurang, kemudian tekanan darah dan denyut jantung berubah lagi ketika mengejan dihentikan.
Tubuh orang sehat umumnya mampu mengimbangi perubahan tersebut. Namun, pada orang dengan kemampuan jantung yang sudah menurun, gangguan irama jantung, atau penyakit pembuluh darah, perubahan mendadak ini dapat menyebabkan pingsan dan mungkin memicu kejadian kardiovaskular.
Meski begitu, henti jantung di toilet tidak selalu disebabkan oleh mengejan. Studi terhadap 101 pasien yang mengalami henti jantung di toilet menemukan bahwa 23 persen memiliki penyebab berat di luar jantung, seperti perdarahan di sekitar otak, robekan aorta, pneumonia, perdarahan saluran cerna, dan emboli paru.
Dengan kata lain, penyakit tersebut bisa mulai menimbulkan gejala ketika seseorang sedang berada di toilet—atau justru membuatnya merasa ingin buang air—sebelum akhirnya kolaps.
3. Pertolongan sering datang terlambat
Kamar mandi memberikan privasi, tetapi privasi tersebut dapat menjadi masalah ketika seseorang kehilangan kesadaran.
Suara jatuh belum tentu terdengar, pintu mungkin terkunci, dan keluarga biasanya baru memeriksa setelah orang tersebut berada di dalam terlalu lama.
Dalam studi berbasis populasi di Osaka, Jepang, terdapat 733 kasus henti jantung di toilet yang dianalisis. Hanya 36,2 persen kejadian yang disaksikan orang lain dan 1,9 persen pasien bertahan satu bulan dengan kondisi saraf yang baik.
Studi lain mencatat bahwa hanya 10 persen kasus henti jantung di toilet yang disaksikan. Peneliti menyimpulkan bahwa rendahnya kelangsungan hidup terutama berkaitan dengan keterlambatan menemukan korban.
Angka di atas menunjukkan pentingnya pengenalan dini, resusitasi jantung paru (RJP atau CPR), dan akses cepat menuju pertolongan medis.
Cara mengurangi risiko
Orang dengan penyakit jantung, riwayat pingsan, atau gangguan irama jantung perlu lebih berhati-hati. Beberapa langkah yang dapat dilakukan meliputi:
Jika seseorang ditemukan tidak merespons

Ilustrasi resusitasi jantung paru (RJP) atau CPR (magnific.com/prostooleh) Pastikan lokasi aman, terutama dari genangan air dan sumber listrik. Panggil korban dan periksa pernapasannya. Jika ia tidak merespons serta tidak bernapas normal atau hanya terengah-engah, segera hubungi layanan darurat setempat.
Apabila aman, pindahkan korban dari air ke permukaan yang keras. Mulailah kompresi di tengah dada dengan kuat dan cepat, sekitar 100–120 kali per menit. Gunakan automated external defibrillator atau AED sesegera mungkin jika tersedia, ikuti petunjuk alat.
Henti jantung di kamar mandi bukanlah peristiwa dengan satu penyebab. Pada beberapa orang, mandi air panas atau mengejan dapat menjadi pemicu. Pada orang lain, serangan jantung, gangguan irama jantung, stroke, emboli paru, atau penyakit berat lainnya kebetulan mulai terjadi di tempat tersebut. Ruangan yang tertutup kemudian membuat pertolongan datang lebih lambat.
Referensi
American Heart Association, “Cardiac Arrest vs. Heart Attack,” diakses September 2026.
Takashi Chiba et al., “Risk Factors of Sudden Death in the Japanese Hot Bath in the Senior Population,” Forensic Science International 149, nos. 2–3 (2005): 151–58, https://doi.org/10.1016/j.forsciint.2004.04.085.
Robert Looga, “The Valsalva Manoeuvre—Cardiovascular Effects and Performance Technique: A Critical Review,” Respiratory Physiology & Neurobiology 147, no. 1 (2005): 39–49, https://doi.org/10.1016/j.resp.2005.01.003.
Joji Inamasu and Satoru Miyatake, “Cardiac Arrest in the Toilet: Clinical Characteristics and Resuscitation Profiles,” Environmental Health and Preventive Medicine 18, no. 2 (2013): 130–35, https://doi.org/10.1007/s12199-012-0301-y.
Kosuke Kiyohara et al., “Out-of-Hospital Cardiac Arrests in the Toilet in Japan: A Population-Based Descriptive Study,” Acute Medicine & Surgery 5, no. 4 (2018): 369–73, https://doi.org/10.1002/ams2.349.
Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, “Penanganan Darurat pada Henti Jantung: Apa yang Perlu Anda Lakukan,” diakses September 2026.
Referensi
Kosuke Kiyohara et al., “Out-of-hospital cardiac arrests in the toilet in Japan: a population-based descriptive study,” Acute Medicine & Surgery 5, no. 4 (June 25, 2018): 369–73, https://doi.org/10.1002/ams2.349.
Maureen P Tigga, “An Unusual Case of Defecation Syncope,” Journal of Mid-Life Health 10, no. 2 (January 1, 2019): 99, https://doi.org/10.4103/jmh.jmh_2_19.
"Why Does Cardiac Arrest Happen in the Bathroom?" Healthline. Diakses Juli 2025.
Hideto Suzuki, Wakako Hikiji, and Tatsushige Fukunaga, “Bath‐related Deaths: Preventive Strategies and Suggestions for General Physicians,” Journal of General and Family Medicine 18, no. 1 (March 1, 2017): 21–26, https://doi.org/10.1002/jgf2.17.
"Why do cardiac arrests happen in the bathroom?" Medical News Today. Diakses Juli 2025.
"Is Your Bathroom a Hidden Risk Factor for Heart Attacks? Here's What You Need to Know." Onlymyhealth. Diakses Juli 2025.












![[QUIZ] Pilih Warna Favoritmu, Kami Tebak Tingkat Anxiety Kamu](https://image.idntimes.com/post/20260714/upload_fb55bb03ef8e096afd1d12b06f081ef9_8b5cfdf7-0ac7-4ed9-a9bc-2057765b9daa.png)

![[QUIZ] Berdasarkan Karaktermu, Waspadai Gangguan Kepribadian Ini](https://image.idntimes.com/post/20260804/mwuep2hrca5w9qlbdxkci8rch_0a3c7963-22c0-42a8-afa2-de6c989c3307.png)







