Referensi
Shuang Zhou et al., “Impact of Global Short-Term Landscape Fire Sourced PM2.5 Exposure on Child Cause-Specific Morbidity: A Study in Multiple Countries and Territories,” Nature Communications 16 (2025): 9347, https://doi.org/10.1038/s41467-025-64411-0.
Budi Haryanto, Fitri Kurniasari, Indang Trihandini, Fajar Nugraha, Nabila Gayatri Widayana, dan Nurul Laksmi Winarni, “Climate Change Adaptation to Smoke Haze for Improved Child Health in Southeast Asia: Analysis Situation in Palembang, Indonesia,” Annals of Global Health 92, no. 1 (2026): 52, https://doi.org/10.5334/aogh.5211.
Mary E. Crocker dan Jonathan D. Cogen, “Wildfire Smoke and Pediatric Lung Health: What the Clinician Needs to Know,” Pediatric Pulmonology 61, no. 2 (2026): e71484, https://doi.org/10.1002/ppul.71484.
World Health Organization, “Wildfires,” diakses 4 November 2026.
Paparan Asap Karhutla Berkaitan dengan Naiknya Risiko Rawat Inap Anak

Studi di tujuh negara dan wilayah menemukan bahwa kenaikan PM2.5 dari kebakaran berkaitan dengan peningkatan risiko relatif rawat inap anak akibat penyakit respirasi.
Studi di Palembang mengaitkan PM2.5 dengan pneumonia dan PM10 dengan ISPA anak, tetapi belum mengukur rawat inap atau membuktikan jumlah pasien akibat asap.
Data ISPA tidak bisa dianggap sebagai data pneumonia dan tren rumah sakit belum cukup untuk membuktikan sebab-akibat.
Asap kebakaran hutan dan lahan, atau karhutla, dapat memicu gangguan pernapasan. Pada sebagian anak, terutama yang memiliki asma atau penyakit paru, gejala dapat memburuk hingga mereka perlu dirawat di rumah sakit.
Sebuah studi lintas negara yang terbit dalam jurnal Nature Communications pada 2025 menemukan hubungan antara paparan partikel halus dari kebakaran dan risiko rawat inap anak.
Table of Content
Kenaikan PM2.5 kebakaran berkaitan dengan rawat inap
Peneliti menganalisis data rawat inap harian anak dan remaja usia 0–19 tahun dari 1.012 komunitas di tujuh negara dan wilayah, selama tahun 2000–2019. Mereka mencocokkan data tersebut dengan perkiraan paparan PM2.5 yang berasal dari kebakaran vegetasi atau lahan. Sebagai catatan, Indonesia tidak termasuk dalam lokasi penelitian.
Setiap kenaikan 10 mikrogram per meter kubik (µg/m³) PM2.5 sumber kebakaran berkaitan dengan peningkatan risiko relatif rawat inap akibat penyakit respirasi sebesar 1,9 persen. Risiko relatif rawat inap akibat penyakit infeksi meningkat 1,5 persen. Hubungan ini tampak pada hari paparan dan hari berikutnya.
Angka 1,9 persen adalah perubahan risiko relatif pada kelompok populasi. Angka itu bukan berarti 1,9 dari setiap 100 anak pasti dirawat, dan bukan tambahan 1,9 poin persentase pada peluang seorang anak untuk masuk rumah sakit. Temuan tersebut juga menggambarkan penyakit respirasi secara umum.
Studi yang sama menemukan hubungan lebih kuat pada anak usia 5–9 tahun serta anak yang tinggal di wilayah dengan tingkat sosial ekonomi lebih rendah.
Apa yang ditemukan di Indonesia?

ilustrasi anak kecil dirawat di rumah sakit (magnific.com/lifeforstock) Studi di Palembang yang terbit pada tahun 2026 menganalisis data 2011–2020, mencakup 366.632 kasus ISPA dan 27.574 kasus pneumonia pada anak. Peneliti menemukan bahwa konsentrasi PM2.5 lebih konsisten berkaitan dengan kasus pneumonia, sementara PM10 lebih berkaitan dengan kasus ISPA.
Studi ini menggunakan data tingkat kota untuk melihat hubungan antara polutan dan jumlah kasus. Peneliti tidak secara khusus mengukur rawat inap, sehingga hasilnya mendukung kaitan antara polusi dan penyakit pernapasan anak di Indonesia, tetapi tidak menunjukkan berapa banyak anak yang dirawat akibat paparan asap.
Hal serupa menjadi tantangan dalam membaca data daerah. Dalam acara seminar media Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) pada Selasa (3/11), dr. Khairiyadi Ismail, Sp.A, Subsp.Respi (K) dari UKK Respirologi IDAI menyampaikan bahwa data yang ia peroleh dari Dinas Kesehatan Kalimantan Selatan mencatat 182.710 kasus ISPA pada September 2026. Namun, data itu tidak memisahkan pneumonia dari infeksi saluran napas atas.
“Untuk mencari jumlah kasus pneumonia memang belum kami dapatkan, tapi yang saya dapatkan itu adalah ISPA,” kata Khairiyadi.
Ia juga menjelaskan, ISPA merupakan kelompok diagnosis yang mencakup infeksi saluran napas atas maupun bawah. Karena itu, angka ISPA tidak bisa langsung dibaca sebagai jumlah kasus pneumonia.
Tren rumah sakit belum membuktikan penyebab
Dalam pemaparannya, dr. Khairiyadi membeberkan data RSUD Ulin untuk Januari–November 2025: 116 entri rawat inap dengan diagnosis pneumonia, 60 bronkopneumonia, dan 30 asma. Ia juga menyebut bahwa kenaikan titik panas pada Agustus diikuti peningkatan kasus pneumonia dan asma pada akhir Agustus, dengan puncak pada September.
Namun, kesamaan waktu antara peningkatan titik panas dan kasus rumah sakit belum membuktikan bahwa paparan asap menyebabkan rawat inap tersebut. Mengenai turunnya jumlah pasien pada Oktober 2026, Khairiyadi mengatakan, "Apakah ini disebabkan karena Oktober kemarin sudah hujan ataukah sistem rujukannya berjalan, masih perlu ditelaah.”
Jumlah pasien dapat berubah karena berbagai faktor, termasuk pola rujukan dan perubahan cuaca. Data yang tersedia juga belum menghubungkan paparan PM2.5 setiap anak dengan waktu dan lokasi saat ia jatuh sakit.
Asap dapat memperburuk beberapa kondisi

ilustrasi asma anak kambuh (pexels.com/cottonbro studio) Asap kebakaran mengandung partikel halus dan gas yang dapat mengiritasi saluran napas. Tinjauan klinis tentang kesehatan paru anak menyebutkan bahwa paparan asap kebakaran dapat memperburuk asma dan penyakit paru lain, serta berkaitan dengan infeksi saluran napas bawah. Anak-anak lebih rentan terhadap dampak polusi karena paru-paru dan sistem tubuhnya masih berkembang.
Keluhan setelah terpapar asap tidak selalu berarti pneumonia. Dikatakan oleh dr. Khairiyadi, dokter perlu mempertimbangkan beberapa kemungkinan, termasuk peradangan akibat iritasi asap, serangan asma, atau pneumonia karena infeksi. Gejalanya bisa serupa, sehingga diagnosis perlu ditentukan melalui pemeriksaan, bukan cuma riwayat paparan.













![[QUIZ] Cek Apakah Sakit Kepala Kamu Biasa atau Tanda Bahaya](https://image.idntimes.com/post/20260715/upload_1f4fad55d736c0857d28717d4f5ad568_9f044a0b-3a74-43ca-bf9f-4bb408840b9c.png)





