Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Penyebab Fatty Liver pada Usia Muda, Bukan Cuma Alkohol

4 min read
Penyebab Fatty Liver pada Usia Muda, Bukan Cuma Alkohol
ilustrasi kelelahan akibat fatty liver (magnific.com/magnific)
  • Pada remaja dan dewasa muda, fatty liver sering berkaitan dengan gangguan metabolik seperti resistensi insulin, diabetes tipe 2, dan kadar lemak darah yang tidak sehat.

  • Pola makan dan kurang gerak dapat ikut meningkatkan risiko, tetapi kondisi ini bukan akibat satu jenis makanan saja.

  • Alkohol, obat tertentu, malnutrisi, dan penyakit genetik juga dapat menyebabkan penumpukan lemak di hati. Jadi, penyebabnya perlu dinilai satu per satu.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Hasil pemeriksaan yang menunjukkan adanya lemak di hati bisa mengejutkan, apalagi jika orang yang mengalaminya masih berusia belasan atau 20-an tahun. Namun, perlemakan hati bukan cuma masalah orang lanjut usia atau orang yang mengonsumsi alkohol.

Fatty liver atau perlemakan hati menggambarkan adanya penumpukan lemak di hati. Temuan itu belum menjelaskan penyebabnya.

Sejak tahun 2023, sejumlah organisasi hepatologi mengganti istilah non-alcoholic fatty liver disease (NAFLD) menjadi steatotic liver disease (SLD), dengan beberapa kategori berdasarkan penyebab. Salah satunya adalah metabolic dysfunction-associated steatotic liver disease (MASLD), yaitu penumpukan lemak di hati yang disertai setidaknya satu faktor risiko kardiometabolik.

  1. Gangguan metabolik menjadi faktor utama

    Pada usia muda, salah satu penyebab yang sering berkaitan dengan perlemakan hati adalah gangguan metabolik. Kondisi ini mencakup kelebihan berat badan atau obesitas, resistensi insulin, diabetes tipe 2, tekanan darah tinggi, serta kadar trigliserida atau kolesterol yang tidak sehat. Faktor-faktor tersebut dapat muncul bersamaan dan meningkatkan kemungkinan lemak menumpuk di hati.

    Resistensi insulin terjadi ketika tubuh tidak merespons insulin dengan baik. Akibatnya, pengaturan gula dan lemak dalam tubuh dapat terganggu. Seiring waktu, hati bisa menerima atau memproduksi lebih banyak lemak daripada yang dapat digunakannya.

    Tinjauan sistematis pada 2026 menyebut bahwa faktor yang paling konsisten terkait MASLD pada dewasa muda adalah obesitas, resistensi insulin, dan gangguan lemak darah. Penelitian itu juga menemukan kaitan dengan pola makan yang kurang sehat, aktivitas fisik rendah, serta waktu sedentari yang panjang. Namun, mutu bukti untuk berbagai faktor berbeda-beda; kaitan dalam studi tidak selalu membuktikan bahwa satu faktor secara langsung menyebabkan penyakit pada seseorang.

    Pola makan tinggi minuman atau makanan manis dan asupan energi berlebihan dapat ikut mendorong risiko, terutama jika berlangsung bersama kurang gerak dan faktor metabolik lain.

    Pola makan tinggi fruktosa pada anak menjadi salah satu faktor yang diduga berperan dalam terjadinya fatty liver. Meski demikian, fatty liver tidak terjadi hanya karena satu kali mengonsumsi minuman manis. Risiko berkembang melalui interaksi berbagai faktor yang berlangsung bersamaan.

  2. Berat badan normal tidak selalu menyingkirkan risiko

    Ilustrasi seseorang berdiri di atas timbangan untuk mengukur berat badan sebagai bagian dari pemantauan kesehatan.
    ilustrasi menimbang berat badan (magnific.com/jcomp)

    Fatty liver juga dapat terjadi pada orang yang berat badannya berada dalam rentang normal. Pada sebagian orang, lemak lebih banyak tersimpan di sekitar organ, atau terdapat resistensi insulin, faktor genetik, maupun gangguan metabolik lain.

    Gen juga dapat memengaruhi cara tubuh menyimpan dan mengolah lemak. Riwayat keluarga bisa menjadi petunjuk adanya kerentanan, khususnya pada perlemakan hati yang muncul lebih awal. Namun, faktor genetik bukan kepastian bahwa seseorang akan mengalami penyakit ini.

  3. Alkohol bukan satu-satunya penyebab

    Alkohol dapat menyebabkan penyakit hati berlemak. Jika seseorang memiliki faktor metabolik sekaligus mengonsumsi alkohol dalam jumlah yang berisiko, dokter dapat mempertimbangkan kategori gabungan yang disebut metabolic and alcohol-related liver disease (MetALD). Karena itu, selain hasil pemindaian atau berat badan, evaluasi fatty liver perlu memperhitungkan pola konsumsi alkohol, bukan hanya hasil pemindaian atau berat badan.

    Ada pula penyebab yang lebih jarang. Beberapa obat—misalnya kortikosteroid, amiodaron, tamoxifen, atau methotrexate—dapat berkaitan dengan penumpukan lemak di hati. Pada anak, faktor lain yang perlu dipertimbangkan antara lain malnutrisi atau penurunan berat badan yang cepat, penyakit celiac, serta penyakit genetik tertentu seperti penyakit Wilson.

    Obat yang diresepkan dokter tidak boleh dihentikan sendiri karena dikhawatirkan menyebabkan fatty liver. Apabila hasil pemeriksaan menunjukkan penumpukan lemak, dokter akan mempertimbangkan obat yang digunakan, kondisi metabolik, konsumsi alkohol, riwayat keluarga, dan kemungkinan penyebab lain.

  4. Usia muda tidak menentukan penyebabnya

    Perlemakan hati sering tidak menimbulkan gejala yang jelas, terutama pada anak. Karena itu, kondisi ini bisa ditemukan saat pemeriksaan dilakukan untuk alasan lain. Anak dengan fatty liver dapat memiliki sedikit atau bahkan tidak memiliki gejala.

    Temuan lemak di hati sebaiknya menjadi alasan untuk mencari tahu penyebabnya, bukan langsung menyimpulkan bahwa seseorang terlalu banyak makan, minum alkohol, atau mengalami obesitas. Pemeriksaan dokter membantu membedakan MASLD dari penyakit hati akibat alkohol, obat, atau kondisi lain. Penilaian ini penting karena penyebab dan penanganannya dapat berbeda.

    Referensi

    Mary E. Rinella et al., “A Multisociety Delphi Consensus Statement on New Fatty Liver Disease Nomenclature,” Journal of Hepatology 79, no. 6 (2023): 1542–56, https://doi.org/10.1016/j.jhep.2023.06.003.

    European Association for the Study of the Liver, European Association for the Study of Diabetes, and European Association for the Study of Obesity, “EASL-EASD-EASO Clinical Practice Guidelines on the Management of Metabolic Dysfunction-Associated Steatotic Liver Disease (MASLD),” Journal of Hepatology 81, no. 3 (2024): 492–542, https://doi.org/10.1016/j.jhep.2024.04.031.

    Moirangthem Jeena Devi et al., “Predictive Factors of MASLD in Young Adults: A Systematic Review and Narrative Synthesis,” Diabetes & Metabolic Syndrome: Clinical Research & Reviews 20, no. 5 (2026): 103435, https://doi.org/10.1016/j.dsx.2026.103435.

    National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases, “Symptoms & Causes of NAFLD & NASH in Children,” diakses Oktober 2026.

    Mary E. Rinella et al., “AASLD Practice Guidance on the Clinical Assessment and Management of Nonalcoholic Fatty Liver Disease,” Hepatology 77, no. 5 (2023): 1797–1835, https://doi.org/10.1097/HEP.0000000000000323.

Share Article
Editorial Team

Dari Kebun Nilam ke Pasar Dunia

Related Articles

See More