Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Studi Ungkap Dampak Mikroplastik Polietilena pada Hati

Studi Ungkap Dampak Mikroplastik Polietilena pada Hati
ilustrasi air minum dalam kemasan botol (magnific.com/magnific)
Intinya Sih
  • Studi terbaru menemukan mikroplastik polietilena (PE) menyebabkan tanda cedera hati pada tikus, baik dengan pola makan standar maupun diet yang dirancang memicu penyakit hati berlemak.

  • Dampaknya lebih menonjol ketika paparan PE dikombinasikan dengan diet tinggi lemak, fruktosa, dan kolesterol, termasuk peningkatan trigliserida hati dan perubahan jaringan yang berkaitan dengan steatosis.

  • Penelitian ini belum membuktikan bahwa paparan plastik sehari-hari menyebabkan fatty liver pada manusia. Eksperimen dilakukan pada tikus dengan dosis, ukuran partikel, dan pola paparan yang dikontrol secara khusus.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Polietilena atau polyethylene (PE) ada di banyak benda sehari-hari, mulai dari kemasan makanan, plastik pembungkus, wadah penyimpanan, hingga beberapa lapisan gelas minuman.

Merupakan jenis plastik yang paling banyak diproduksi, tetapi dampak mikroplastik PE terhadap hati relatif belum banyak diteliti dibanding beberapa jenis plastik lainnya.

Studi terbaru yang diterbitkan dalam Science Advances pada Juni 2026 mencoba mengamati yang terjadi ketika partikel PE masuk ke tubuh. Peneliti dari University of Oklahoma, Texas A&M University, dan institusi lain melakukan serangkaian eksperimen pada sel hati serta tikus jantan.

Tikus dibagi berdasarkan pola makan. Sebagian mendapat diet kontrol dengan 10 persen kalori dari lemak, sedangkan kelompok lainnya mendapat diet tinggi lemak, fruktosa, dan kolesterol yang dirancang untuk memicu steatohepatitis terkait disfungsi metabolik atau metabolic dysfunction-associated steatohepatitis (MASH), yaitu bentuk penyakit hati berlemak metabolik yang disertai peradangan dan cedera sel hati.

Sebagian tikus pada masing-masing kelompok kemudian diberikan 2 miligram mikroplastik PE berdiameter 10–150 mikrometer setiap hari melalui oral gavage (pemberian langsung ke dalam perut hewan kecil) selama delapan minggu.

Mikroplastik PE memunculkan tanda cedera dan penumpukan lemak di hati

Setelah delapan minggu, para peneliti menemukan bahwa paparan PE meningkatkan kadar alanine aminotransferase (ALT) dalam darah pada tikus yang mendapat diet standar maupun diet pemicu MASH.

ALT merupakan enzim yang banyak terdapat di hati; peningkatan kadarnya dapat menjadi salah satu tanda terjadinya kerusakan sel hati.

Efek tersebut tampak lebih berat ketika mikroplastik dikombinasikan dengan pola makan yang tidak sehat.

Para peneliti menyebut, penanda cedera hati dalam darah pada tikus yang mendapat PE sekaligus diet tinggi lemak lebih dari dua kali lipat dibanding tikus yang mendapat PE bersama diet standar.

Jaringan hati kelompok diet pemicu MASH yang mendapat PE juga memiliki kadar trigliserida lebih tinggi dibanding kelompok dengan diet yang sama tetapi tanpa PE.

Pemeriksaan jaringan menunjukkan peningkatan steatosis atau penumpukan lemak di hati pada kelompok yang terpapar PE, serta kecenderungan peningkatan hepatocyte ballooning (kondisi sel hati yang membengkak dan berubah bentuk akibat kerusakan sel) dan inflamasi.

Tim peneliti menyimpulkan bahwa pada model tikus ini, pemberian PE selama delapan minggu menghasilkan hepatotoksisitas dan memperburuk steatohepatitis yang dipicu pola makan.

Paparan mikroplastik polyethylene mengubah aktivitas gen di hati

Ilustrasi tangan seseorang membawa kantong plastik belanja berisi barang saat berada di area luar ruangan.
ilustrasi seseorang menenteng kantong plastik belanja (pexels.com/Mathias Reding)

Para peneliti menggunakan bulk RNA sequencing dan spatial transcriptomics. Metode kedua memungkinkan peneliti melihat gen mana yang aktif sekaligus mengetahui di bagian jaringan hati mana perubahan tersebut terjadi. Dengan pendekatan ini, para peneliti menemukan area-area peradangan dengan pola aktivitas gen yang berbeda setelah paparan mikroplastik PE.

Secara keseluruhan, PE mengubah ekspresi ratusan gen. Pada tikus dengan diet standar, terdapat 503 gen yang berubah secara khusus akibat PE, sedangkan 182 gen berubah pada kelompok diet pemicu MASH dan 97 gen menunjukkan perubahan pada kedua kondisi. Beberapa perubahan tersebut berkaitan dengan regulasi metabolisme lemak, kolesterol, respons terhadap zat asing, dan inflamasi.

Salah satu jalur yang paling menarik melibatkan PPAR-alpha (PPARα), protein regulator yang berperan penting dalam metabolisme lipid di hati. Penelitian menunjukkan paparan PE memengaruhi aktivitas PPARα, sementara PPARα selanjutnya mengatur Anxa2, gen yang terlibat dalam respons terhadap kerusakan dan pemulihan jaringan.

Lewat studi ini, para peneliti berhasil menunjukkan jalur molekuler yang berpotensi menjelaskan bagaimana hati merespons paparan tersebut.

Para peneliti menganggap temuan ini mengejutkan karena PE cenderung kurang bereaksi atau kurang menimbulkan efek biologis pada tubuh dibanding beberapa jenis mikroplastik lain.

Belum bisa disimpulkan bahwa plastik sehari-hari menyebabkan fatty liver

Perlu digarisbawahi bahwa studi ini dilakukan terhadap hewan.

Jumlah tikus dalam masing-masing kelompok juga kecil—sekitar empat hingga lima ekor per kelompok—dan PE diberikan langsung melalui oral gavage setiap hari. Karena itu, penelitian ini tidak dapat menentukan apakah tingkat paparan mikroplastik yang dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari menghasilkan perubahan hati yang sama.

Studi juga belum menjawab apakah paparan tersebut dapat menyebabkan tahapan penyakit yang lebih lanjut seperti fibrosis atau jaringan parut hati.

Jadi, temuan ini bukan bukti PE menyebabkan fatty liver, dan juga belum dapat digunakan untuk menentukan batas aman paparan PE pada manusia. Yang ditunjukkan penelitian adalah bahwa pada model tikus, mikroplastik PE dapat memengaruhi metabolisme lemak, inflamasi, serta mekanisme pertahanan dan pemulihan hati, dan efeknya tampak lebih buruk ketika disertai pola makan yang sudah membebani hati.

Penelitian terhadap manusia masih diperlukan sebelum hubungan tersebut dapat diterjemahkan menjadi risiko kesehatan nyata atau rekomendasi klinis bagi masyarakat.

Referensi

Woncheol Jung et al., “Spatial Transcriptome Mapping Identifies Ppara-Anxa2 Cross-Talk in Microplastic-Induced Hepatotoxicity,” Science Advances 12, no. 25 (2026): eaec8681, doi:10.1126/sciadv.aec8681.

SciTechDaily, “This Widely Used Plastic Could Be Harming Your Liver,” diakses Agustus 2026.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More