Karena kedua penyakit mirip, dokter dapat membutuhkan tes laboratorium untuk memastikan diagnosis.
Zika dapat dikonfirmasi melalui pemeriksaan RNA virus dengan RT-PCR atau pemeriksaan antibodi. Namun, karena Zika dan dengue masih satu keluarga virus, tes antibodi dapat mengalami reaksi silang, sehingga interpretasinya terkadang rumit.
Tidak ada obat antivirus spesifik untuk dengue maupun Zika. Penanganan umumnya meliputi istirahat, cukup cairan, serta obat untuk meredakan demam dan nyeri.
Jangan menggunakan aspirin atau obat antiinflamasi nonsteroid seperti ibuprofen ketika dengue belum dapat dikonfirmasi, karena obat tersebut dapat meningkatkan risiko perdarahan pada dengue.
WHO juga menganjurkan pasien yang diduga Zika tetapi belum dapat dipastikan bukan dengue untuk sementara ditangani mengikuti prinsip penanganan dengue.
Jadi, mata merah dan penyakit yang relatif ringan memang lebih mengarah ke Zika, sedangkan demam tinggi, sakit kepala berat, nyeri tubuh, dan trombosit turun lebih khas pada dengue. Namun, perbedaan gejala tidak cukup untuk memastikan diagnosis, terutama bagi ibu hamil atau jika muncul tanda peringatan dengue berat.
Referensi
Gabriel Yan et al., “Distinguishing Zika and Dengue Viruses through Simple Clinical Assessment, Singapore,” Emerging Infectious Diseases 24, no. 8 (2018): 1565–68, https://doi.org/10.3201/eid2408.171883.
Pablo F. Belaunzarán-Zamudio et al., “Comparison of Clinical Characteristics of Zika and Dengue Symptomatic Infections and Other Acute Illnesses of Unidentified Origin in Mexico,” PLOS Neglected Tropical Diseases 15, no. 2 (2021): e0009133, https://doi.org/10.1371/journal.pntd.0009133.
World Health Organization, “Dengue and Severe Dengue,” diakses Agustus 2026.
World Health Organization, “Zika Virus,” diakses Agustus 2026.
World Health Organization, "Dengue: Guidelines for Diagnosis, Treatment, Prevention and Control," diakses Agustus 2026.