Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Vaksin HPV Dikaitkan dengan Risiko Kanker Kepala-Leher Lebih Rendah

Vaksin HPV Dikaitkan dengan Risiko Kanker Kepala-Leher Lebih Rendah
ilustrasi seorang anak mendapatkan vaksinasi HPV (magnific.com/magnific)
  • Studi terhadap sekitar 1,4 juta orang menemukan vaksinasi HPV berkaitan dengan risiko kanker kepala dan leher yang lebih rendah.

  • Hubungan paling kuat terlihat pada kanker orofaring, yaitu kanker di bagian belakang tenggorokan, termasuk pangkal lidah dan tonsil.

  • Penelitian ini bersifat observasional sehingga belum dapat membuktikan sebab-akibat, tetapi hasilnya memperkuat potensi vaksin HPV dalam mencegah kanker selain kanker serviks.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Vaksin HPV lekat dengan pencegahan kanker serviks. Faktanya, human papillomavirus (HPV) juga dapat menyebabkan kanker pada bagian tubuh lain, termasuk bagian belakang tenggorokan.

Studi besar terbaru yang diterbitkan dalam International Journal of Infectious Diseases memberikan bukti dunia nyata bahwa orang yang mendapat vaksin HPV memiliki risiko kanker kepala dan leher yang lebih rendah dibandingkan dengan orang yang tidak mendapat vaksin tersebut.

HPV memang merupakan penyebab penting kanker orofaring. HPV tipe 16 khususnya diketahui dapat menyebabkan kanker pada orofaring, wilayah yang mencakup bagian belakang tenggorokan, pangkal lidah, dan tonsil.

  1. Hanya 40 kasus pada kelompok yang divaksinasi

    Para peneliti menggunakan rekam medis elektronik dari 66 organisasi pelayanan kesehatan di Amerika Serikat (AS). Mereka memasangkan 716.630 orang usia 9–45 tahun yang pernah mendapat vaksin HPV dengan jumlah yang sama dari kelompok pembanding yang mendapat vaksin lain, tetapi bukan vaksin HPV. Totalnya lebih dari 1,4 juta orang.

    Setelah pencocokan berbagai faktor seperti usia, jenis kelamin, ras, kondisi kesehatan, penggunaan layanan medis, serta beberapa faktor gaya hidup, kedua kelompok kemudian dibandingkan.

    Dalam periode hingga 10 tahun, ditemukan 40 kasus kanker kepala dan leher pada kelompok vaksin HPV dibanding 130 kasus pada kelompok pembanding. Hazard ratio-nya 0,315, yang secara statistik setara dengan sekitar 68,5 persen risiko relatif lebih rendah pada kelompok yang divaksinasi. Namun, terlihat hasil yang mencolok saat para peneliti melihat lokasi kanker secara khusus.

  2. Hubungan paling kuat terlihat pada kanker orofaring

    Ilustrasi vaksin HPV sebagai langkah pencegahan kanker serviks pada perempuan melalui imunisasi rutin.
    ilustrasi vaksin HPV, kanker serviks (magnific.com/wayhomestudio)

    Untuk kanker orofaring, hazard ratio (rasio laju kejadian antara dua kelompok selama periode waktu penelitian) pada kelompok yang mendapat vaksin HPV hanya 0,087 dibandingkan kelompok pembanding—atau sekitar 91 persen lebih rendah secara relatif. Untuk kanker rongga mulut, hazard ratio tercatat 0,241.

    Karena orofaring merupakan lokasi kanker kepala dan leher yang paling kuat hubungannya dengan HPV. HPV-16 adalah tipe virus yang paling dominan pada kanker orofaring terkait HPV.

    Penelitian sebelumnya juga sudah menunjukkan bahwa vaksinasi dapat mencegah infeksi HPV di mulut. Studi yang dikutip para peneliti, misalnya, menemukan penurunan infeksi HPV oral hingga sekitar 93 persen setelah vaksinasi.

    Hingga kini, penurunan infeksi oral lebih sering digunakan sebagai petunjuk bahwa vaksin berpotensi mencegah kanker orofaring karena kanker butuh waktu bertahun-tahun untuk berkembang.

  3. Manfaat terlihat lebih jelas pada usia yang lebih muda

    Ketika peserta dipisahkan berdasarkan usia, kelompok 9–26 tahun menunjukkan hubungan yang jelas antara vaksinasi dan penurunan risiko kanker kepala-leher, dengan hazard ratio 0,323.

    Pada kelompok usia 27–45 tahun, hazard ratio-nya 0,681, tetapi rentang kepercayaannya cukup lebar dan melewati angka 1. Artinya, penelitian ini belum bisa memastikan adanya penurunan risiko pada kelompok usia yang lebih tua.

    Pola ini sesuai dengan cara kerja vaksin HPV. Vaksin mencegah infeksi HPV baru, bukan mengobati infeksi yang sudah ada, sehingga manfaatnya paling besar ketika diberikan sebelum seseorang terpapar virus.

    Vaksinasi rutin umumnya direkomendasikan pada usia 11–12 tahun dan dapat dimulai sejak usia 9 tahun; vaksinasi kejar direkomendasikan hingga usia 26 tahun.

  4. Kekurangan penelitian

    Ilustrasi anak laki-laki menerima vaksin HPV sebagai upaya pencegahan infeksi human papillomavirus.
    ilustrasi vaksinasi HPV pada anak laki-laki (magnific.com/prostooleh)

    Besarnya penurunan risiko, terutama angka sekitar 91 persen untuk kanker orofaring, perlu ditafsirkan secara hati-hati.

    Jumlah kasus kanker dalam penelitian relatif kecil karena mayoritas peserta masih muda. Para peneliti sendiri mencatat hanya ada 40 kanker kepala-leher pada kelompok vaksin dan 130 pada kelompok pembanding. Analisis berdasarkan lokasi kanker memiliki jumlah kasus yang lebih sedikit lagi sehingga estimasinya menjadi kurang presisi.

    Data rekam medis juga tidak memberi informasi lengkap mengenai riwayat seksual peserta, padahal ini memengaruhi peluang terpapar HPV.

    Para peneliti tidak dapat memastikan apakah semua peserta telah menyelesaikan seluruh dosis vaksin, dan tidak memiliki data jaringan tumor untuk memastikan bahwa kanker yang terjadi benar-benar disebabkan oleh HPV.

    Yang terpenting, desain retrospektif tidak dapat membuktikan bahwa vaksinasi secara langsung menyebabkan penurunan kanker kepala dan leher. Faktor yang tidak tercatat dalam data masih mungkin berpengaruh.

    Meski demikian, fakta bahwa hubungan terkuat justru terlihat pada kanker orofaring membuat temuan ini secara biologis masuk akal. Studi ini menambah bukti bahwa manfaat vaksin HPV kemungkinan melampaui pencegahan kanker serviks.

    Referensi

    Ching-Nung Wu, Wei-Chun Cheng, Sheng-Dean Luo, Kuo-Chung Lan, Shiow-Ing Wang, and James Cheng-Chung Wei, “HPV Vaccination and Risk of Head and Neck Cancers: A Large Real-World Cohort Study,” International Journal of Infectious Diseases (2026), doi:10.1016/j.ijid.2026.109067.

    National Cancer Institute, “Oral Cavity, Oropharynx, Hypopharynx, & Larynx Cancer Prevention (PDQ®),” diakses Agustus 2026.

    Elissa Meites et al., “Human Papillomavirus Vaccination for Adults: Updated Recommendations of the Advisory Committee on Immunization Practices,” Morbidity and Mortality Weekly Report 68, no. 32 (2019): 698–702.

    CIDRAP, "People Vaccinated against HPV Have Lower Risk of Head and Neck Cancer," diakses Agustus 2026.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More