Namun, istilah tersebut sebenarnya hanya menggambarkan jenis beban tertentu yang diterima tubuh, bukan berarti Pilates termasuk olahraga yang selalu mudah dilakukan. Sebelum menjadikannya bagian dari rutinitas, ada beberapa hal penting yang perlu dipahami.
Benarkah Pilates Merupakan Olahraga Low Impact? Ini Jawabannya!

- Pilates tergolong low impact karena minim lompatan dan benturan berulang pada sendi, dengan gerakan perlahan, terkontrol, serta banyak dilakukan di matras atau alat.
- Label low impact tidak berarti Pilates selalu ringan; otot tetap bekerja intens untuk menjaga posisi dan stabilitas, sementara durasi, pengulangan, serta resistensi dapat meningkatkan tantangan.
- Beban tiap gerakan Pilates berbeda, terutama pada reformer dan jumpboard. Pemilihan latihan perlu disesuaikan kondisi tubuh, ditingkatkan bertahap, dan rehabilitasi idealnya mengikuti arahan tenaga kesehatan.
Bagi orang yang memiliki keluhan pada sendi, sedang dalam masa pemulihan cedera, atau ingin menjaga tubuh tetap aktif tanpa banyak gerakan menghentak, Pilates sering menjadi salah satu pilihan. Sebutan low impact membuat latihan ini kerap dianggap lebih aman bagi persendian, terutama karena gerakannya tidak banyak melibatkan lompatan atau benturan keras.
1. Apa yang dimaksud dengan low impact dan mengapa penting bagi sendi?

ilustrasi sendi (pexels.com/Kindel Media) Low impact berkaitan dengan seberapa besar benturan yang diterima tubuh saat bergerak, bukan seberapa ringan sebuah latihan terasa. Saat seseorang berlari, melompat, atau melakukan gerakan yang membuat tubuh berulang kali terangkat lalu kembali menapak ke lantai, sendi seperti lutut, pinggul, dan pergelangan kaki akan menerima tekanan lebih besar ketika tubuh kembali bertumpu. Pada orang dengan kondisi sendi yang sehat, hal ini mungkin tidak menjadi masalah. Namun, bagi mereka yang sedang mengalami nyeri sendi atau dalam masa pemulihan cedera, gerakan seperti ini bisa terasa lebih berat dan perlu disesuaikan.
Sebagian besar gerakan Pilates dilakukan di atas matras atau menggunakan alat yang membuat tubuh tidak perlu menerima hentakan berulang. Gerakannya juga cenderung dilakukan secara perlahan, terkontrol, dan terarah sehingga tidak menghasilkan benturan sebesar olahraga yang banyak melibatkan lompatan. Inilah yang membuat Pilates digolongkan sebagai latihan low impact. Meski demikian, rendahnya benturan tidak berarti latihan ini sepenuhnya bebas risiko, karena teknik gerakan dan kondisi tubuh tetap sangat berpengaruh terhadap keamanan latihan.
2. Low impact bukan berarti latihannya ringan

ilustrasi pilates (pexels.com/Maria Charizani) Banyak orang mengira bahwa low impact berarti latihan yang ringan dan mudah dilakukan. Padahal, dalam Pilates, otot tetap bekerja cukup intens meskipun gerakannya tidak disertai hentakan. Gerakan sederhana seperti bridge misalnya, dapat membuat otot perut, bokong, dan paha aktif menahan serta mengontrol posisi tubuh. Begitu juga dengan gerakan kaki yang dilakukan perlahan, di mana otot harus terus bekerja agar gerakan tetap stabil dan tidak kehilangan kontrol.
Karena itu, Pilates tetap bisa terasa menantang dan melelahkan bagi sebagian orang. Tingkat kesulitannya bahkan bisa meningkat jika gerakan dilakukan lebih lama, diulang berkali-kali, atau menggunakan alat dengan resistensi tertentu. Dengan demikian, istilah low impact tidak bisa dijadikan patokan bahwa latihan ini pasti mudah. Bagi orang dengan kondisi kesehatan tertentu atau yang sedang dalam masa pemulihan, kemampuan tubuh tetap perlu diperhatikan sebelum meningkatkan intensitas latihan.
3. Tidak semua gerakan pilates memberikan beban yang sama

ilustrasi mat pilates (pexels.com/Anna Shvets) Pilates memiliki banyak variasi gerakan, sehingga tingkat beban yang dirasakan tubuh juga bisa berbeda-beda. Pilates matras umumnya dilakukan dengan posisi duduk, berbaring, atau bertumpu, sehingga tidak banyak memberikan tekanan berlebih pada sendi. Sementara itu, latihan dengan alat seperti reformer dapat dibuat lebih menantang dengan tambahan resistensi atau variasi gerakan tertentu. Bahkan ada penggunaan jumpboard yang membuat gerakan kaki menyerupai lompatan, meskipun tetap dalam kontrol alat.
Perbedaan ini penting untuk dipahami, terutama bagi orang yang memiliki masalah pada lutut, pinggul, pergelangan kaki, atau sedang dalam masa pemulihan cedera. Gerakan yang aman bagi satu orang belum tentu cocok untuk orang lain. Karena itu, latihan sebaiknya dimulai dari gerakan yang sesuai dengan kemampuan tubuh, lalu ditingkatkan secara bertahap. Jika Pilates dilakukan untuk tujuan rehabilitasi, pemilihan gerakan idealnya mengikuti arahan fisioterapis atau tenaga kesehatan yang menangani kondisi tersebut.
Pilihan latihan tidak perlu ditentukan hanya dari label low impact atau anggapan bahwa suatu olahraga lebih ringan daripada olahraga lainnya. Hal yang jauh lebih penting adalah bagaimana tubuh merasakan latihan tersebut dan apakah gerakannya sesuai dengan kemampuan masing-masing. Pilates bisa menjadi bagian dari kebiasaan aktif yang menyenangkan ketika dilakukan dengan teknik yang tepat dan tanpa memaksakan tubuh mengejar gerakan yang belum mampu dilakukan.
Referensi
"Pilates as Low – Impact Exercise: Improved Health Related Fitness and Functional Lung Capacity." International Journal of Medical Science and Clinical Research Studies. Diakses pada Agustus 2026.
"Is Reformer Pilates Low Impact? What Is a Low Impact Exercise?" Sultivate. Diakses pada Agustus 2026.









![[QUIZ] Dari Kuis Ini, Kami Tahu Jenis Vitamin yang Paling Kamu Butuhkan](https://image.idntimes.com/post/20260811/gambar-artikel-88_a0d2c204-98d6-41f0-954e-b4f448a7c9b1.png)








