Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Risiko Gelombang Panas bagi Jantung, Ginjal, dan Otak
ilustrasi penggunaan mist spray di jalan saat heatwave (unsplash.com/Evgeniy Beloshytskiy)
  • Gelombang panas membuat tubuh bekerja ekstra menjaga suhu, memicu dehidrasi, gangguan jantung, ginjal, dan otak jika paparan berlangsung lama tanpa akses ke tempat sejuk.
  • Risiko kesehatan mencakup heat cramps, heat exhaustion, hingga heatstroke yang bisa berujung darurat medis bila tidak segera ditangani dengan pendinginan dan hidrasi cukup.
  • Kelompok rentan seperti lansia, ibu hamil, anak kecil, dan penderita penyakit kronis disarankan menghindari aktivitas berat saat suhu ekstrem serta menjaga asupan cairan dan lingkungan sejuk.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Gelombang panas atau heatwave terjadi di beberapa wilayah dunia. Ini bukan lagi urusan cuaca, tetapi dampaknya bisa dirasakan fisik. Ketika temperatur naik jauh dari biasanya, tubuh harus bekerja keras untuk mempertahankan suhu inti tetap aman. Alhasil, keringat keluar lebih banyak, jantung memompa lebih cepat, pembuluh darah melebar, dan ginjal menyesuaikan keseimbangan cairan.

Persoalannya, tubuh punya batasan, apalagi jika suhu tinggi berlangsung beberapa hari, malam tetap panas, udara lembap, atau tidak ada akses ke tempat sejuk. Dalam kondisi seperti ini, gelombang panas bisa menjadi risiko kesehatan serius.

Berikut beberapa risiko kesehatan yang harus diwaspadai saat terjadi gelombang panas.

1. Dehidrasi

Saat cuaca sangat panas, tubuh kehilangan cairan lewat keringat. Jika cairan yang keluar tidak diganti, dehidrasi bisa terjadi.

Tanda dehidrasi meliputi haus berat, mulut kering, urine lebih sedikit atau berwarna gelap, pusing, lemas, sakit kepala, dan jantung terasa berdebar.

Pada orang yang lebih rentan, dehidrasi dapat memperberat masalah ginjal, tekanan darah, dan keseimbangan elektrolit.

Solusinya, minum secara teratur sebelum rasa haus terasa berat. Air putih cukup untuk sebagian besar orang. Namun, jika berkeringat banyak, bekerja di luar ruangan, atau olahraga lama, cairan dengan elektrolit dapat membantu.

Orang dengan penyakit ginjal, gagal jantung, atau pembatasan cairan dari dokter tetap perlu mengikuti anjuran medis dari dokter.

2. Heat cramps

Heat cramps adalah kram otot yang muncul saat tubuh kehilangan banyak cairan dan garam melalui keringat. Biasanya ini terjadi pada perut, lengan, paha, atau betis, terutama setelah aktivitas fisik di cuaca panas.

Kram ini sering menjadi tanda awal tubuh mulai kewalahan. Segera hentikan aktivitas, pindah ke tempat sejuk, minum, dan istirahat. Jangan memaksa lanjut berolahraga atau bekerja berat hanya karena kamu merasa kram masih bisa ditahan.

3. Heat exhaustion

ilustrasi heatwave (unsplash.com/Immo Wegmann)

Heat exhaustion terjadi ketika tubuh terlalu panas dan mulai gagal menjaga keseimbangan. Gejalanya bisa berupa keringat banyak, kulit dingin dan lembap, pusing, lemas, mual, sakit kepala, kram otot, denyut nadi cepat, dan rasa hampir pingsan.

Ini belum seberat heatstroke, tetapi tidak boleh dianggap ringan. Jika tidak ditangani, heat exhaustion dapat berkembang menjadi kondisi yang lebih berbahaya.

Pindahkan orang tersebut ke tempat sejuk, longgarkan pakaian, beri minum bila sadar dan tidak muntah, kompres dingin, atau bantu mandi air sejuk. Jika keluhan tidak membaik, orang tersebut tampak bingung, pingsan, atau memburuk, segera cari bantuan medis.

4. Heatstroke

Heatstroke adalah kondisi darurat. Ini terjadi ketika suhu tubuh naik berbahaya dan sistem pendingin tubuh gagal bekerja.

Tanda-tanda yang perlu dicurigai antara lain kebingungan, bicara kacau, kejang, pingsan, kulit sangat panas, napas cepat, denyut nadi kuat, atau suhu tubuh sangat tinggi.

Pada heatstroke, jangan menunggu. Segera hubungi layanan darurat. Sambil menunggu bantuan, pindahkan orang yang diduga mengalami heatstroke ke tempat sejuk, lepaskan pakaian berlebih, dan dinginkan tubuh dengan air, kain basah, kipas, atau kompres dingin di leher, ketiak, dan selangkangan.

5. Gangguan jantung dan pembuluh darah

Tubuh perlu mengalirkan lebih banyak darah ke kulit untuk melepas panas. Pada orang sehat, mekanisme ini biasanya masih bisa diimbangi. Namun, pada orang dengan penyakit jantung, hipertensi, atau usia lanjut, beban tambahan ini bisa berbahaya.

Gelombang panas dapat memperburuk nyeri dada, gagal jantung, gangguan irama jantung, dan risiko kejadian kardiovaskular.

Beberapa obat, seperti diuretik atau obat tekanan darah tertentu, juga dapat memengaruhi respons tubuh terhadap panas.

Karena itu, orang dengan penyakit jantung perlu lebih disiplin menghindari aktivitas berat saat jam-jam terpanas, menjaga cairan sesuai anjuran dokter, dan tidak mengubah dosis obat sendiri.

6. Cedera ginjal akut

Ilustrasi heatwave (vecteezy.com/Lugon Studio)

Ginjal sangat bergantung pada keseimbangan cairan. Saat tubuh kehilangan banyak cairan, aliran darah ke ginjal dapat menurun. Jika berlangsung cukup berat, risiko cedera ginjal akut meningkat.

Risiko ini lebih besar pada lansia, orang dengan penyakit ginjal, diabetes, hipertensi, atau orang yang bekerja dan olahraga di luar ruangan.

Perhatikan gejala seperti urine sangat sedikit, tubuh sangat lemas, mual, bengkak, atau kebingungan.

7. Masalah pernapasan dan polusi udara

Gelombang panas dapat berkaitan dengan kualitas udara yang memburuk. Suhu tinggi dapat meningkatkan pembentukan ozon permukaan, dan kondisi kering dapat meningkatkan risiko kebakaran hutan serta asap. Ini dapat memperburuk asma, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), alergi, dan penyakit paru-paru lainnya.

Kalau kualitas udara buruk, batasi aktivitas luar ruangan, terutama olahraga intens.

Orang dengan penyakit paru-paru sebaiknya selalu menyiapkan obat rutin dan/atau inhaler sesuai anjuran dokter.

8. Gangguan tidur, suasana hati, dan fungsi otak

Malam yang tetap panas membuat tubuh sulit pulih. Saat tidur, suhu inti tubuh seharusnya turun. Kalau kamar tetap panas, tidur bisa lebih dangkal, lebih sering terbangun, dan keesokan harinya tubuh masih dalam kondisi lelah.

Kurang tidur akibat panas dapat mengganggu konsentrasi, suasana hati, waktu reaksi, dan pengambilan keputusan. Ini tentu penting untuk pekerja luar ruangan, pengendara, atlet, dan orang yang harus bekerja dengan mesin atau alat berat.

9. Risiko pada kehamilan

ilustrasi ibu hamil menggunakan payung saat berada di luar ruangan (pexels.com/Jason Hu

Ibu hamil lebih rentan terhadap panas karena tubuhnya sedang bekerja lebih berat. Paparan panas ekstrem dikaitkan dengan peningkatan risiko dehidrasi, kelelahan panas, dan beberapa outcome kehamilan yang kurang baik, seperti kelahiran prematur atau berat lahir rendah dalam sejumlah studi.

Ibu hamil sebaiknya menghindari aktivitas berat saat suhu lingkungan paling tinggi, minum cukup air, mencari tempat sejuk atau ruangan ber-AC, dan segera memeriksakan diri ke dokter jika muncul pusing berat, kontraksi, perdarahan, gerak janin berkurang, atau merasa sangat lemas.

Siapa saja orang-orang yang berisiko?

Dampak dari gelombang panas bisa dialami siapa saja, tetapi beberapa kelompok lebih rentan, seperti:

  • Lansia.

  • Bayi dan anak kecil.

  • Ibu hamil.

  • Orang dengan penyakit jantung, paru, ginjal, diabetes, gangguan kesehatan mental.

  • Orang dengan disabilitas.

  • Pekerja luar ruangan.

  • Atlet.

  • Orang yang tinggal sendiri.

  • Orang yang tidak punya akses ke ruangan sejuk.

Saat ada gelombang panas ekstrem, cek orang tua, tetangga yang tinggal sendiri, teman yang sedang hamil, atau orang dengan penyakit kronis. Dalam kondisi seperti gelombang panas, tindakan sederhana seperti mengingatkan minum, membantu mencari tempat sejuk, atau memastikan obat tersedia bisa mencegah masalah serius.

Anjuran saat gelombang panas

  • Hindari keluar dan aktivitas berat pada jam-jam terpanas.

  • Cari tempat teduh atau ruangan sejuk setidaknya beberapa jam sehari.

  • Tutup tirai saat siang, buka ventilasi saat malam jika udara luar lebih sejuk.

  • Pakai pakaian longgar dan ringan.

  • Mandi atau kompres air sejuk.

  • Minum teratur.

Kalau pakai kipas angin, perhatikan suhu ruangan. Pada suhu yang sangat tinggi, kipas saja bisa tidak cukup dan justru meniupkan udara panas ke tubuh. Jika memungkinkan, gunakan pendingin ruangan, tempat umum yang sejuk, atau cooling center.

Gelombang panas merupakan stres fisiologis bagi tubuh. Makin cepat risikonya dikenali, makin besar peluang untuk mencegahnya berubah menjadi keadaan darurat.

Referensi

World Meteorological Organization. “Record-Breaking Heat Spreads through Europe.” Diakses Juni 2026.

World Health Organization. “Heat and Health.” Diakses Juni 2026.

World Health Organization Regional Office for Europe. “Strengthening Heat–Health Action Plans to Protect Public Health, with WHO Guidance.” June 2, 2026.

European Climate and Health Observatory. “Heat: Health Impacts.” Climate-ADAPT, European Environment Agency. Diakses Juni 2026.

Centers for Disease Control and Prevention. “People at Increased Risk for Heat-Related Illness.” Diakses Juni 2026.

Ebi, Kristie L., Anthony Capon, Peter Berry, Carolyn Broderick, Richard de Dear, George Havenith, Yasushi Honda, et al. “Hot Weather and Heat Extremes: Health Risks.” The Lancet 398, no. 10301 (2021): 698–708.

Ballester, Joan, Marcos Quijal-Zamorano, Raúl Fernando Méndez Turrubiates, Ferran Pegenaute, François R. Herrmann, Jean-Marie Robine, Xavier Basagaña, Cathryn Tonne, Josep M. Antó, and Hicham Achebak. “Heat-Related Mortality in Europe during the Summer of 2022.” Nature Medicine 29 (2023): 1857–1866.

Gallo, Elisa, et al. “Heat-Related Mortality in Europe during 2023 and the Role of Adaptation in Protecting Health.” Nature Medicine 30 (2024): 3101–3105.

Mayo Clinic. “Heat Exhaustion: Symptoms and Causes.” Diakses Juni 2026.

Mayo Clinic. “Heatstroke: Symptoms and Causes.” Diakses Juni 2026.

Editorial Team

Related Article