"Hunger Games: Winning the Battle Against Cravings During Your Fast". ProMD Health. Diakses pada Februari 2026.
"The Effect of Intermittent Fasting on Appetite: A Systematic Review and Meta-Analysis". Nutrients. Diakses pada Februari 2026.
"Fasting may change the body’s hunger response – here’s what to do about it". Diabetes UK. Diakses pada Februari 2026.
Mengapa Nafsu Makan Justru Naik di Awal Puasa?

Momen awal puasa Ramadan sering kali terasa lebih menantang. Pasalnya, rasa lapar muncul lebih kuat dari biasanya, meski waktu makan justru berkurang. Kondisi ini dialami banyak orang dan bukan semata-mata karena perubahan kebiasaan makan.
Tubuh sebenarnya membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan jadwal makan yang baru saat berpuasa. Sementara, sinyal lapar masih bekerja mengikuti ritme lama, sehingga rasa ingin makan muncul di jam-jam biasanya. Memahami proses ini penting agar lonjakan nafsu makan tidak berujung pada pola makan berlebihan saat berbuka puasa. Yuk, simak penjelasan kenapa nafsu makan terasa naik di awal puasa!
1. Perubahan jadwal makan membuat tubuh salah membaca rasa lapar

Tubuh manusia terbiasa bekerja berdasarkan jam biologis yang terbentuk dari kebiasaan makan sehari-hari. Ketika puasa dimulai, jam makan yang biasanya teratur tiba-tiba bergeser cukup jauh, sementara tubuh belum sempat menyesuaikan diri. Akibatnya, sinyal lapar tetap muncul di jam-jam lama meski sebenarnya tubuh masih memiliki cadangan energi. Inilah alasan mengapa rasa lapar di awal puasa sering terasa lebih “ramai” dibanding hari biasa.
Sinyal tersebut bukan tanda tubuh kekurangan nutrisi secara langsung. Sistem pencernaan dan hormon lapar hanya membutuhkan waktu untuk mengenali jadwal baru. Umumnya, proses penyesuaian ini berlangsung beberapa hari pertama puasa. Setelah itu, rasa lapar akan muncul lebih mendekati waktu berbuka. Kondisi ini wajar dan tidak menandakan puasa dijalani dengan cara yang keliru.
2. Penurunan gula darah terjadi lebih cepat di awal puasa sehingga memunculkan rasa lapar

Pada hari-hari awal puasa, tubuh masih mengandalkan glukosa sebagai sumber energi utama. Ketika asupan makanan berhenti lebih lama dari biasanya, cadangan gula darah dapat menurun lebih cepat. Penurunan ini memicu rasa lapar sebagai sinyal agar tubuh segera mendapat asupan. Sensasi lapar yang muncul sering kali terasa mendadak dan cukup kuat.
Namun, kondisi ini tidak selalu berarti tubuh sedang kekurangan energi. Tubuh sedang belajar beralih menggunakan sumber energi lain, terutama dari simpanan lemak. Proses peralihan ini tidak instan dan bisa menimbulkan rasa lapar yang lebih terasa. Setelah tubuh terbiasa, penggunaan energi menjadi lebih stabil. Pada fase ini, nafsu makan biasanya tidak lagi melonjak berlebihan.
3. Menu sahur menentukan kuat atau tidaknya nafsu makan

Pilihan menu sahur memiliki peran besar terhadap rasa lapar di siang hari. Sahur dengan kandungan gula tinggi atau karbohidrat sederhana dapat membuat gula darah naik cepat. Sayangnya, kenaikan ini juga diikuti penurunan yang sama cepatnya. Kondisi tersebut membuat tubuh kembali mengirim sinyal lapar lebih awal.
Sebaliknya, sahur yang mengandung protein, serat, dan lemak sehat membantu menjaga rasa kenyang lebih lama. Protein memperlambat rasa lapar, sementara serat membantu pencernaan bekerja lebih stabil. Lemak sehat juga membantu pelepasan energi secara bertahap. Kombinasi ini membuat puasa terasa lebih terkendali tanpa harus menambah porsi makan secara berlebihan.
4. Asupan cairan yang kurang sering disalahartikan sebagai rasa lapar

Tubuh sering kali memberikan sinyal yang mirip antara rasa haus dan lapar. Saat asupan cairan kurang, sensasi yang muncul bisa terasa seperti keinginan makan. Di awal puasa, kebiasaan minum belum sepenuhnya tertata sehingga kondisi ini lebih sering terjadi. Akibatnya, rasa lapar terasa lebih intens padahal tubuh sebenarnya membutuhkan cairan.
Kekurangan cairan juga dapat memengaruhi kerja saluran pencernaan. Perut bisa terasa tidak nyaman, kembung, atau kosong lebih cepat. Sensasi ini kerap diterjemahkan sebagai lapar. Mengatur minum sejak berbuka hingga sahur membantu mengurangi sinyal yang keliru ini. Tubuh yang cukup cairan cenderung lebih tenang dalam menghadapi puasa.
5. Metabolisme membutuhkan waktu untuk menyesuaikan pola puasa

Metabolisme tidak langsung berubah saat puasa dimulai. Tubuh masih bekerja dengan kecepatan dan kebutuhan energi seperti sebelum puasa. Hal ini membuat sinyal lapar muncul lebih sering di hari-hari awal. Kondisi tersebut merupakan bagian dari proses adaptasi alami.
Seiring waktu, tubuh mulai menyesuaikan cara menggunakan energi. Pembakaran energi menjadi lebih efisien dan tidak lagi bergantung pada asupan yang sering. Rasa lapar pun muncul lebih teratur dan tidak seagresif sebelumnya. Proses ini berbeda pada setiap orang dan dipengaruhi kebiasaan makan sebelumnya. Namun, sebagian besar orang akan merasakan puasa lebih ringan setelah fase awal terlewati.
Lonjakan nafsu makan di awal puasa bukan sesuatu yang perlu ditakuti atau dianggap tanda tubuh tidak kuat berpuasa. Respons tersebut muncul karena tubuh sedang menyesuaikan diri dengan jadwal makan, sumber energi, dan asupan cairan yang berubah cukup drastis. Dengan memahami ini, puasa bisa dijalani dengan lebih nyaman tanpa rasa lapar berlebihan, jadi, sudahkah tubuh diberi waktu untuk beradaptasi dengan caranya sendiri?
Referensi


















