Penelitian yang dipublikasikan dalam International Journal of Environmental Research and Public Health ini merupakan tinjauan sistematis dan metaanalisis dari uji coba terkontrol secara acak (RCT), jenis penelitian yang dianggap memiliki kualitas bukti kuat dalam dunia medis.
Tim peneliti dari Italia dan Lebanon menganalisis 18 uji coba terkontrol secara acak, dengan data lebih lanjut dari 14 studi, melibatkan total 3.758 orang dewasa, dengan rata-rata usia 53 tahun.
Semua peserta termasuk dalam kategori overweight atau obesitas.
Penelitian membandingkan dua kelompok:
Para peneliti lalu membagi prosesnya menjadi dua fase, yaitu fase penurunan berat badan dan fase mempertahankan berat badan.
Hasilnya cukup menarik.
Kelompok yang menjalani program perubahan gaya hidup mengalami penurunan sekitar 4,4 persen dari total berat badan selama fase penurunan berat badan. Namun yang lebih penting, mereka juga berhasil mempertahankan sekitar 3,3 persen berat badan yang sudah turun saat memasuki fase maintenance.
Sebaliknya, kelompok kontrol tidak menunjukkan penurunan berat badan yang signifikan.
Menurut para peneliti, salah satu perbedaan terbesar antara kedua kelompok ada pada jumlah langkah harian mereka.
Pada awal penelitian, rata-rata langkah harian kedua kelompok sebenarnya hampir sama:
Namun selama program berlangsung, kelompok perubahan gaya hidup meningkatkan aktivitas mereka hingga sekitar 8.454 langkah per hari saat fase penurunan berat badan, dan tetap mempertahankan rata-rata 8.241 langkah saat fase maintenance.
Sementara itu, kelompok kontrol hanya naik sedikit menjadi sekitar 7.486 langkah per hari.
Di atas kertas perbedaannya memang tampak tidak seberapa. Namun dalam penelitian ini, kelompok yang lebih aktif juga lebih berhasil menjaga berat badan tetap stabil.