Pada beberapa orang, duduk lama sudah menjadi bagian dari hari-hari. Buka laptop, ikut rapat, membalas pesan, makan siang di meja, lalu lanjut menatap layar sampai sore. Dalam kondisi duduk memang tubuh tampak istirahat. Namun, metabolisme tidak sepenuhnya aman saat posisi diam dipertahankan terlalu lama.
Sebuah studi yang terbit dalam jurnal PLOS Medicine pada 2 Juli 2026 menyoroti hal ini. Para peneliti menganalisis 91.292 peserta UK Biobank yang memakai alat pemantau aktivitas selama 7 hari, lalu kondisi kesehatannya diikuti selama median 12,38 tahun. Studi ini membedakan dua pola perilaku sedenter, yaitu duduk atau berbaring lama tanpa banyak jeda, dan perilaku sedenter yang lebih sering terputus oleh gerakan.
Hasilnya cukup penting untuk pekerja kantoran dan siapa pun yang sering duduk lama. Setiap tambahan 1 jam per hari dalam pola sedenter yang panjang dan tidak banyak terputus dikaitkan dengan risiko kematian akibat kanker 9 persen lebih tinggi. Sebaliknya, pola sedenter yang lebih sering terputus dikaitkan dengan risiko yang lebih rendah pada berbagai outcome kanker.
