Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

6 Penyebab Ginjal Bermasalah Ini Sering Dianggap Kebiasaan Sepele

6 Penyebab Ginjal Bermasalah Ini Sering Dianggap Kebiasaan Sepele
ilustrasi ginjal bermasalah (IDN Times/NRF)
Intinya Sih
Sisi Positif
  • Banyak kebiasaan sehari-hari yang tampak ringan justru berkontribusi pada kerusakan ginjal jangka panjang.

  • Kerusakan ginjal sering berkembang tanpa gejala awal yang jelas.

  • Deteksi dan perubahan gaya hidup sejak dini sangat penting untuk mencegah komplikasi serius.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Ginjal bekerja tak henti-hentinya menyaring darah, mengatur cairan, dan menjaga keseimbangan elektrolit tubuh. Fungsi ini berjalan diam-diam, tanpa banyak tanda, hingga suatu saat mulai terganggu.

Yang sering tidak disadari, gangguan ginjal tidak selalu berawal dari penyakit besar. Banyak kasus justru berakar dari kebiasaan sehari-hari yang kebanyakan orang menganggapnya sepele. Penyakit ginjal kronis sering berkembang perlahan dan dipicu oleh kombinasi faktor gaya hidup serta kondisi medis yang tidak terkontrol.

Table of Content

1. Kurang minum air putih

1. Kurang minum air putih

Kebutuhan cairan sering dianggap sederhana, tetapi dampaknya pada ginjal sangat besar. Air membantu ginjal membuang limbah metabolisme melalui urine.

Dehidrasi kronis dapat meningkatkan risiko batu ginjal dan memperberat kerja ginjal dalam menyaring darah. Penelitian menunjukkan bahwa asupan cairan yang rendah berkaitan dengan penurunan fungsi ginjal dalam jangka panjang.

Ketika tubuh kekurangan cairan, konsentrasi zat sisa dalam urine meningkat. Ini dapat memicu pembentukan kristal yang berujung pada batu ginjal, serta mempercepat kerusakan jaringan ginjal.

2. Sering menahan kencing

Seorang perempuan memegang perut bagian bawah dengan ekspresi tidak nyaman, mengenakan atasan putih tanpa lengan dan celana hitam.
ilustrasi kebiasaan menahan kencing bisa membahayakan ginjal (freepik.com/ArtPhoto_studio)

Menahan kencing mungkin terasa sepele, apalagi jika sedang sibuk atau atau berada dalam situasi yang tidak memungkinkan. Namun, jika sering dilakukan, ini bisa berdampak pada kesehatan saluran kemih dan ginjal.

Menahan kencing terlalu lama dapat meningkatkan tekanan dalam kandung kemih dan berisiko menyebabkan infeksi saluran kemih (ISK). ISK yang tidak ditangani dapat menyebar ke ginjal (pielonefritis), yang berpotensi merusak jaringan ginjal.

Selain itu, tekanan yang berulang pada sistem kemih dapat memengaruhi fungsi normal aliran urine, yang dalam jangka panjang meningkatkan risiko komplikasi.

3. Konsumsi obat pereda nyeri berlebihan

Obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS) seperti ibuprofen sering digunakan tanpa resep. Padahal, penggunaan jangka panjang dapat berdampak pada ginjal.

OAINS dapat mengurangi aliran darah ke ginjal, terutama jika digunakan dalam dosis tinggi atau jangka panjang. Menurut penelitian, penggunaan OAINS kronis berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit ginjal kronis.

Ginjal sangat bergantung pada aliran darah yang stabil. Ketika aliran ini terganggu secara terus-menerus, fungsi filtrasi dapat menurun secara bertahap.

4. Konsumsi garam berlebihan

Menuangkan garam.
ilustrasi menuangkan garam (IDN Times/NRF)

Asupan garam yang tinggi sering dikaitkan dengan tekanan darah tinggi, yang merupakan salah satu penyebab utama kerusakan ginjal. Konsumsi natrium berlebih diketahui dapat meningkatkan tekanan darah dan mempercepat kerusakan organ, termasuk ginjal.

Pola makan tinggi natrium berhubungan dengan penurunan fungsi ginjal dan peningkatan protein dalam urine. Ginjal harus bekerja lebih keras untuk mengeluarkan kelebihan natrium. Dalam jangka panjang, tekanan ini dapat merusak pembuluh darah kecil di dalam ginjal.

5. Kurang aktivitas fisik

Gaya hidup sedenter tidak cuma berdampak pada jantung, tetapi juga pada ginjal. Kurang aktivitas fisik meningkatkan risiko obesitas, diabetes, dan hipertensi—tiga faktor risiko utama penyakit ginjal.

Aktivitas fisik rutin berkaitan dengan penurunan risiko penurunan fungsi ginjal. Kurangnya gerak membuat metabolisme tubuh melambat, meningkatkan risiko gangguan metabolik yang secara tidak langsung merusak ginjal.

6. Konsumsi gula berlebihan

Seseorang menaburkan gula dari sendok ke dalam cangkir minuman panas di atas meja, menggambarkan konsumsi gula berlebihan.
ilustrasi konsumsi gula berlebihan terkait dengan masalah ginjal (unsplash.com/Agustin Fernandez)

Asupan gula tinggi berkontribusi pada diabetes, yang merupakan penyebab utama penyakit ginjal kronis. Kadar gula darah yang tinggi dalam jangka panjang dapat merusak pembuluh darah kecil di ginjal.

Kontrol gula darah yang buruk berkaitan erat dengan progresi kerusakan ginjal. Kerusakan ini sering terjadi secara perlahan dan tanpa gejala, hingga fungsi ginjal sudah menurun signifikan.

Kapan harus menemui dokter.

Gangguan ginjal sering tidak menunjukkan gejala di tahap awal. Karena itu, kamu mesti waspada. Segera periksa ke dokter jika mengalami:

  • Pembengkakan di kaki atau wajah.
  • Perubahan frekuensi atau warna urine.
  • Kelelahan tanpa sebab jelas.
  • Riwayat diabetes atau hipertensi.

Deteksi dini melalui pemeriksaan sederhana seperti tes urine dan darah dapat membantu mencegah kerusakan lebih lanjut.

Ginjal tidak memberikan banyak peringatan ketika mulai bermasalah. Kebiasaan kecil yang dilakukan berulang setiap hari yang perlahan membentuk risiko. Memahami faktor-faktor sederhana ini menjadi langkah awal untuk menjaga kesehatan ginjal dalam jangka panjang. Perubahan kecil, jika konsisten dilakukan, dapat memberikan dampak besar terhadap fungsi tubuh secara keseluruhan.

Referensi

National Kidney Foundation. “Kidney Disease Overview.” Diakses April 2026.

National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases. “Kidney Health.” Diakses April 2026.

A. Olry De Labry Lima et al., “Safety Considerations During Prescription of Non-steroidal Anti-inflammatory Drugs (NSAIDs), Through a Review of Systematic Reviews,” Anales Del Sistema Sanitario De Navarra 44, no. 2 (June 25, 2021): 261–73, https://doi.org/10.23938/assn.0965.

World Health Organization. “Salt Intake and Health.” Diakses April 2026.

Centers for Disease Control and Prevention. “Chronic Kidney Disease.” Diakses April 2026.

American Diabetes Association. “Keep Your Kidneys Healthy.” Diakses April 2026.

Jessica M. Sontrop et al., “Association Between Water Intake, Chronic Kidney Disease, and Cardiovascular Disease: A Cross-Sectional Analysis of NHANES Data,” American Journal of Nephrology 37, no. 5 (January 1, 2013): 434–42, https://doi.org/10.1159/000350377.

Andrew Smyth et al., “Sodium Intake and Renal Outcomes: A Systematic Review,” American Journal of Hypertension 27, no. 10 (February 7, 2014): 1277–84, https://doi.org/10.1093/ajh/hpt294.

Srinivasan Beddhu et al., “Physical Activity and Mortality in Chronic Kidney Disease (NHANES III),” Clinical Journal of the American Society of Nephrology 4, no. 12 (October 10, 2009): 1901–6, https://doi.org/10.2215/cjn.01970309.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Bayu D. Wicaksono
Nena Zakiah
3+
Bayu D. Wicaksono
EditorBayu D. Wicaksono
Follow Us

Related Articles

See More