Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Adakah Cara Menambah Tinggi Badan Anak yang Sudah Stunting?

Adakah Cara Menambah Tinggi Badan Anak yang Sudah Stunting?
ilustrasi tinggi badan anak (magnific.com/jcomp)
Intinya Sih
  • Anak yang sudah stunting masih bisa dibantu untuk tumbuh lebih optimal, tetapi hasilnya bergantung pada usia, penyebab, kondisi kesehatan, dan seberapa cepat intervensi dilakukan.

  • Fokus utama bukan memberi suplemen sembarangan, melainkan memastikan diagnosis benar, memperbaiki gizi, mengobati penyakit, mencegah infeksi, dan memantau kurva pertumbuhan.

  • Jika tinggi anak tidak bertambah sesuai usia, berat badan sulit naik, sering sakit, atau ada keterlambatan perkembangan, anak perlu diperiksa dokter anak.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Mendengar anak disebut stunting bisa membuat orang tua merasa bersalah, panik, atau bingung harus mulai dari mana. Ada yang mencari susu penambah tinggi badan, ada yang membeli vitamin, berharap anak bisa mengejar tinggi anak-anak seusianya.

Anak yang sudah stunting masih bisa dibantu, tetapi tidak ada jalan pintas yang menjamin tinggi badannya langsung normal. Stunting adalah kondisi ketika tinggi atau panjang badan anak menurut usia berada di bawah standar pertumbuhan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendefinisikannya sebagai tinggi badan menurut usia di bawah -2 standar deviasi dari median standar pertumbuhan anak WHO.

Buat orang tua atau pengasuh, langkah pertama sebaiknya mencari tahu apakah anak benar-benar stunting, apa penyebabnya, dan apa yang masih bisa diperbaiki.

Table of Content

1. Pastikan dulu diagnosisnya dengan pengukuran yang benar

1. Pastikan dulu diagnosisnya dengan pengukuran yang benar

Anak yang pendek belum tentu stunting. Bisa saja ia mengikuti potensi genetik keluarga, atau ada kondisi medis lain yang membuat pertumbuhannya lambat. Karena itu, tinggi dan berat badan anak perlu diukur dengan alat yang tepat, lalu diplot ke kurva pertumbuhan sesuai usia dan jenis kelamin.

Saat pemeriksaan rutin anak, bawa catatan pengukuran anak ke posyandu, puskesmas, atau dokter anak. Jangan cuma mengandalkan perkiraan visual atau komentar yang mengatakan anak tampak kecil atau terlihat pendek.

2. Kejar pertumbuhan sedini mungkin

Peluang memperbaiki pertumbuhan biasanya lebih besar jika intervensi dilakukan lebih cepat, terutama pada 1.000 hari pertama kehidupan, yaitu sejak kehamilan sampai anak berusia 2 tahun. Namun, ini bukan berarti anak di atas 2 tahun sudah tidak bisa dibantu sama sekali.

Penelitian tentang catch-up growth (pertumbuhan susulan) menunjukkan bahwa pertumbuhan kejar masih dapat terjadi setelah usia 24 bulan, walaupun peluang dan hasilnya bergantung pada banyak faktor.

Studi mencatat adanya potensi pemulihan tinggi badan antara usia 24 bulan hingga pertengahan masa kanak-kanak, bahkan berlanjut pada fase pubertas pada sebagian anak.

Studi lain juga menunjukkan bahwa anak yang mengalami catch-up growth setelah stunting pada usia 2 tahun memiliki skor kognitif lebih baik dibanding anak yang tetap stunting sepanjang masa kanak-kanak. Ini menegaskan bahwa intervensi tetap penting untuk tinggi badan dan perkembangan anak.

Jangan menunda evaluasi. Makin lama pertumbuhan anak tidak mengikuti kurva, makin banyak waktu tumbuh yang hilang.

3. Perbaiki gizi anak

Seorang anak perempuan tersenyum sambil memegang dan menggigit roti lapis besar berisi sayuran di meja makan.
ilustrasi anak makan roti lapis (pexels.com/Alex Green)

Anak stunting tidak cukup hanya diberi makan lebih banyak. Yang perlu diperbaiki adalah kualitas dan kecukupan gizi. Anak butuh energi, protein, lemak sehat, zat besi, zink, kalsium, vitamin A, D, yodium, dan zat gizi lain untuk tumbuh.

WHO dalam panduan MPASI 2023 merekomendasikan anak usia 6–23 bulan mendapat makanan yang beragam, termasuk pangan hewani seperti daging, ikan, atau telur setiap hari jika memungkinkan. Panduan ini juga menekankan pentingnya makanan yang cukup padat gizi, tak cuma mengenyangkan.

Untuk anak yang lebih besar, prinsipnya sama, pastikan ada sumber karbohidrat, protein, lemak, sayur, buah, dan makanan sumber mikronutrien. Nasi atau bubur saja tidak cukup. Susu saja juga tidak cukup jika pola makan hariannya belum berkualitas.

Isi piring anak dengan makanan lengkap. Contohnya nasi atau kentang, telur/ikan/ayam/hati/tempe, sayur, buah, dan tambahan lemak sehat secukupnya.

Jika anak sulit makan, evaluasi tekstur, jadwal makan, camilan, penggunaan layar, dan kemungkinan masalah medis.

4. Obati penyakit yang menghambat pertumbuhan

Stunting sering berkaitan dengan infeksi berulang atau penyakit yang membuat asupan dan penyerapan gizi terganggu. Kemenkes menyebut upaya pencegahan stunting meliputi pemberian MPASI optimal, mengobati penyakit yang dialami anak, memperbaiki kebersihan lingkungan, dan menerapkan hidup bersih keluarga.

Anak yang sering diare, batuk lama, demam berulang, cacingan, TBC, anemia, alergi makanan, refluks, atau gangguan penyerapan bisa sulit tumbuh meskipun sudah diberi makan. Dalam kondisi seperti ini, tinggi badan sulit dikejar jika penyebab dasarnya belum ditangani.

Periksakan anak ke dokter jika ia sering sakit, berat badan sulit bertambah, diare berulang, batuk lebih dari 2 minggu, sangat pucat, lemas, atau nafsu makan turun dalam waktu lama.

5. Jangan bergantung pada suplemen atau susu penambah tinggi badan

Suplemen bisa membantu jika anak memang kekurangan zat gizi tertentu, tetapi tidak bisa menggantikan makanan lengkap, pengobatan penyakit, sanitasi, dan pemantauan pertumbuhan. Produk dengan klaim penambah tinggi badan anak harus dicurigai.

Susu juga bisa menjadi bagian dari pola makan, terutama sebagai sumber protein, kalsium, dan energi. Namun, lagi-lagi, susu bukan terapi untuk stunting. Jika anak hanya minum susu tetapi makan utamanya buruk, masalah gizi tetap bisa berlanjut.

Konsultasikan dulu sebelum memberi suplemen dosis tinggi. Bawa catatan makan anak agar dokter atau ahli gizi bisa menilai apa yang dibutuhkan.

6. Pastikan tidur, aktivitas fisik, dan stimulasi cukup

Seorang pria duduk di lantai bersama anak kecil sambil bermain balok warna-warni di ruang tamu yang terang dan nyaman.
ilustrasi bermain sama anak (pexels.com/Ketut Subiyanto)

Tidur cukup, aktivitas fisik, bermain aktif, serta stimulasi juga penting untuk tumbuh kembang anak. Anak yang stunting perlu dibantu tidak hanya agar lebih tinggi, tetapi juga agar kemampuan motorik, bahasa, sosial, dan belajarnya berkembang.

Studi pada anak stunting menunjukkan bahwa perbaikan pertumbuhan berkaitan dengan luaran kognitif yang lebih baik dibandingkan anak yang tetap stunting. Karena itu, intervensi sebaiknya tidak hanya fokus pada angka tinggi badan, tetapi juga perkembangan anak secara menyeluruh.

Saran buat orang tua atau pengasuh, buat jadwal tidur teratur, ajak anak bermain aktif sesuai usia, kurangi paparan layar berlebihan, sering ajak anak bicara, membacakan buku, bernyanyi, dan memberi respons hangat saat anak berinteraksi.

7. Pantau hasilnya secara berkala

Anak perlu dipantau secara berkala untuk melihat apakah berat dan tinggi badannya mulai mengikuti kurva yang lebih baik.

Jika setelah perbaikan makan dan kesehatan anak tetap tidak tumbuh sesuai harapan, dokter bisa menilai kemungkinan lain, seperti gangguan hormon, penyakit kronis, kelainan genetik, atau masalah penyerapan.

Panduan perawakan pendek pada anak menekankan bahwa evaluasi perlu mempertimbangkan pola pertumbuhan, tinggi orang tua, usia tulang, pubertas, serta kemungkinan penyakit yang mendasari.

Jangan berhenti setelah satu kali konsultasi. Catat berat dan tinggi anak setiap bulan atau sesuai anjuran tenaga kesehatan.

Segera periksa jika tinggi badan anak berada jauh di bawah standar usia, grafik pertumbuhan mendatar atau turun, berat badan sulit bertambah, anak sering sakit, diare berulang, batuk lama, tampak sangat pucat, atau perkembangan terlambat.

Kesimpulannya, cara menambah tinggi anak yang sudah stunting adalah dengan memastikan diagnosis, mencari penyebab, memperbaiki gizi, mengobati penyakit, menjaga lingkungan bersih, memberi stimulasi, dan memantau pertumbuhan secara rutin. Tinggi badan mungkin tidak selalu bisa dikejar sepenuhnya, tetapi pertumbuhan dan perkembangan anak tetap bisa dioptimalkan.

Referensi

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes). “Stunting.” Diakses Juli 2026.

Kemenkes. “1000 HPK Kunci Cegah Stunting.” Diakses Juli 2026.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). “Kurva Pertumbuhan WHO.” Diakses Juli 2026.

IDAI. “Mencegah Anak Berperawakan Pendek.” Diakses Juli 2026.

Batubara, José R. L., et al. Perawakan Pendek pada Anak dan Remaja di Indonesia" (PDF). IDAI. Diakses Juli 2026.

World Health Organization (WHO). “WHO Guideline for Complementary Feeding of Infants and Young Children 6–23 Months of Age.” Diakses Juli 2026.

WHO. “WHO Guideline on the Prevention and Management of Wasting and Nutritional Oedema (Acute Malnutrition) in Infants and Children under 5 Years.” Diakses Juli 2026.

Prentice, Andrew M., Kate A. Ward, Gail R. Goldberg, et al. “Critical Windows for Nutritional Interventions against Stunting.” American Journal of Clinical Nutrition 97, no. 5 (2013): 911–918. https://doi.org/10.3945/ajcn.112.052332.

Koshy, Beena, Sushil John, Gagandeep Kang, et al. “Are Early Childhood Stunting and Catch-Up Growth Associated with School Age Cognition? Evidence from an Indian Birth Cohort.” PLOS ONE 17, no. 3 (2022): e0264018. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0264018.

Leroy, Jef L., and Edward A. Frongillo. “Can Children Catch Up from the Consequences of Undernourishment? Evidence from Child Linear Growth, Development and Recovery from Severe Acute Malnutrition.” Advances in Nutrition 10, no. 6 (2019): 1032–1041. https://doi.org/10.1093/advances/nmz053.

Share Article
Curated For You
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F

Related Articles

See More