Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Anak Bisa Stunting? Ini Daftar Penyebabnya

Kenapa Anak Bisa Stunting? Ini Daftar Penyebabnya
ilustrasi anak kecil bermain di taman (pexels.com/Vladimir Srajber)
  • Stunting bisa dimulai sejak sebelum anak lahir akibat masalah gizi dan kesehatan ibu.

  • Penyebab stunting meliputi asupan gizi yang tidak cukup, MPASI kurang tepat, infeksi berulang, BBLR, sanitasi buruk, sampai faktor sosial ekonomi.

  • Pencegahan terbaik dilakukan sejak 1.000 hari pertama kehidupan, yaitu sejak kehamilan sampai anak berusia 2 tahun.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Di balik stunting, ada proses yang terjadi pelan-pelan. Anak mungkin tetap aktif, tetap makan, dan sekilas tampak baik-baik saja. Namun, jika pertumbuhan tingginya tidak mengikuti kurva, orang tua atau pengasuh perlu memberi perhatian lebih.

Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi kronis atau berulang, terutama pada 1.000 hari pertama kehidupan, dan kemunculannya terjadi karena beberapa faktor.

Berikut penyebab anak stunting yang perlu dipahami oleh orang tua dan pengasuh.

  1. 1. Gizi ibu kurang sebelum dan saat hamil

    Stunting bisa dimulai sejak anak masih dalam kandungan. Jika ibu mengalami kekurangan energi kronis, anemia, kekurangan protein, zat besi, asam folat, yodium, atau mikronutrien penting lain, pertumbuhan janin bisa ikut terganggu.

    Kurangnya asupan gizi pada ibu selama kehamilan adalah salah satu penyebab stunting. Menurut sebuah studi, faktor yang menentukan stunting mencakup gizi ibu, pola makan anak setelah lahir, penyakit, dan pengasuhan, yang dipengaruhi faktor sosial ekonomi lebih luas.

    Calon ibu dan ibu hamil perlu memeriksakan kehamilan secara rutin, memenuhi kebutuhan protein, zat besi, asam folat, dan makanan bergizi, serta menangani anemia atau masalah kesehatan sejak dini.

  2. 2. Kehamilan remaja, jarak kelahiran terlalu dekat, dan masalah kesehatan ibu

    Bukan pola makan saja, infeksi pada ibu, kehamilan remaja, gangguan mental pada ibu, hipertensi, serta jarak kelahiran yang pendek dapat berkontribusi terhadap stunting.

    Kehamilan pada usia terlalu muda bisa membuat kebutuhan gizi ibu dan janin saling “berebut”. Jarak kehamilan yang terlalu dekat juga dapat membuat tubuh ibu belum pulih optimal dari kehamilan sebelumnya.

    Perencanaan kehamilan, pemeriksaan antenatal, pemantauan tekanan darah, status gizi ibu, serta dukungan kesehatan mental penting untuk menurunkan risiko stunting sejak awal.

  3. 3. Bayi lahir prematur atau berat badan lahir rendah

    Dua bayi prematur berada di dalam inkubator rumah sakit, masing-masing dengan perban di kepala dan selimut putih untuk menjaga suhu tubuh.
    ilustrasi bayi prematur (commons.wikimedia.org/Max MBAKOP)

    Bayi yang lahir prematur atau dengan berat badan lahir rendah (BBLR) risikonya lebih besar mengalami gangguan pertumbuhan. Studi di Indonesia yang menilai faktor risiko maternal, anak, dan rumah tangga menemukan riwayat berat badan lahir rendah sebagai salah satu faktor risiko signifikan stunting.

    Bayi dengan kondisi ini membutuhkan pemantauan pertumbuhan lebih ketat karena status gizi awal pertumbuhannya lebih rentan.

    Bayi prematur atau BBLR perlu kontrol rutin, pemantauan berat dan panjang badan, dukungan ASI, serta evaluasi dokter anak jika pertumbuhannya tidak sesuai target.

  4. 4. ASI dan MPASI yang tidak sesuai kebutuhan

    Pada 6 bulan pertama, peran ASI krusial untuk memenuhi kebutuhan bayi dan melindungi dari infeksi. Setelah usia 6 bulan, ASI saja tidak cukup. Anak butuh MPASI yang cukup energi, protein, lemak sehat, zat besi, zink, vitamin, dan mineral lain.

    Masalahnya, anak bisa kenyang namun tetap kekurangan zat gizi penting. Contohnya, MPASI terlalu encer, terlalu banyak nasi atau bubur tanpa lauk, minim protein hewani, atau porsinya tidak sesuai usia.

    Kementerian Kesehatan menyebut rendahnya akses terhadap makanan bergizi, rendahnya asupan vitamin dan mineral, serta buruknya keragaman pangan dan sumber protein hewani sebagai faktor penyebab stunting.

    Studi di Indonesia juga menemukan praktik MPASI yang tidak tepat meningkatkan risiko stunting pada anak usia 12–24 bulan.

    Jadi, pastikan MPASI mengandung sumber karbohidrat, protein hewani atau nabati, lemak, sayur, dan buah sesuai usia. Apabila anak sulit makan, selain berkreasi dengan menu, evaluasi juga tekstur, jadwal, cara menyuapi, dan kemungkinan masalah medis.

  5. 5. Anak sering sakit atau mengalami infeksi berulang

    Infeksi berulang dapat mengganggu pertumbuhan karena tubuh memakai energi untuk melawan penyakit. Anak juga bisa kehilangan nafsu makan, mengalami gangguan penyerapan nutrisi, atau kehilangan cairan dan zat gizi saat diare.

    Stunting berkaitan dengan kurangnya asupan gizi dalam waktu lama serta terjadinya infeksi berulang. WHO memasukkan riwayat penyakit berulang sebagai salah satu kondisi yang berkaitan dengan stunting.

    Buat orang tua dan pengasuh, jangan menganggap normal diare, batuk lama, atau demam berulang. Temui dokter jika anak sering sakit, berat badan sulit naik, atau pertumbuhan tingginya melambat.

  6. 6. Sanitasi buruk dan air bersih yang tidak aman

    Seseorang menampung air bersih yang menetes dari keran logam di luar ruangan dengan latar belakang pagar dan pepohonan hijau.
    ilustrasi air bersih (unsplash.com/Gallery DS)

    Stunting juga berhubungan dengan lingkungan. Air minum yang tidak aman, sanitasi buruk, kebiasaan cuci tangan yang kurang, dan paparan kuman dapat meningkatkan risiko diare, cacingan, dan infeksi berulang. Dalam jangka panjang, ini dapat mengganggu pertumbuhan anak.

    Tinjauan dan studi tentang stunting di Indonesia menyoroti bahwa sanitasi dan infeksi berulang menjadi faktor penting dalam masalah pertumbuhan anak.

    Karena itu, pastikan air minum aman, toilet layak, cuci tangan dengan sabun, makanan anak disiapkan bersih, dan lingkungan rumah tidak menjadi sumber infeksi.

  7. 7. Pola asuh makan yang kurang responsif

    Anak susah makan? Mungkin penyebabnya karena teksturnya tidak sesuai, jadwal makan berantakan, terlalu banyak camilan atau minuman manis, anak dipaksa makan sampai menyebabkan trauma, atau ada masalah medis seperti anemia, refluks, sariawan, sembelit, alergi, hingga infeksi.

    Pola asuh makan yang tidak responsif dapat membuat asupan anak tidak konsisten. Dalam jangka panjang, ini bisa memperburuk risiko gagal tumbuh, terutama jika terjadi pada periode 6–24 bulan.

    Usahakan untuk membuat jadwal makan teratur, batasi distraksi layar, berikan makanan sesuai kemampuan anak, jangan memaksa berlebihan, dan konsultasikan jika GTM berlangsung lama atau berat badan anak tidak naik sesuai grafik.

  8. 8. Kemiskinan, akses pangan, dan pendidikan orang tua

    Stunting tidak bisa dilepaskan dari kondisi sosial. Keluarga dengan akses terbatas terhadap makanan bergizi, layanan kesehatan, air bersih, dan informasi gizi lebih rentan menghadapi masalah pertumbuhan anak.

    UNICEF menjelaskan bahwa pencegahan malnutrisi perlu dimulai sejak anak masih dalam kandungan, berlanjut pada masa bayi, anak, dan remaja. Artinya, stunting bukan cuma masalah dapur keluarga, tetapi juga masalah akses, layanan, dan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang.

    Manfaatkan posyandu, puskesmas, program imunisasi, konseling gizi, dan pemantauan pertumbuhan. Jika ada kesulitan ekonomi atau pangan, minta arahan fasilitas kesehatan setempat terkait program bantuan gizi yang tersedia.

  9. 9. Anak tidak dipantau pertumbuhannya secara rutin

    Petugas Posyandu sedang mengukur tinggi badan seorang anak perempuan menggunakan alat pengukur di dalam ruangan.
    Petugas Posyandu mengukur tinggi badan anak. (IDN Times/Riyanto)

    Kadang, masalah stunting terlambat diketahui karena anak jarang diukur. Anak perlu ditimbang dan diukur, lalu hasilnya diplot ke kurva pertumbuhan.

    Bawa anak rutin ke posyandu, puskesmas, atau dokter anak secara rutin sesuai anjuran. Jika grafik berat atau tinggi mulai mendatar, turun, atau menjauh dari jalur sebelumnya, evaluasi perlu dilakukan lebih cepat.

    Penyebab stunting beragam, tetapi benang merahnya adalah anak tidak mendapat dukungan yang cukup untuk tumbuh optimal.

    Dukungan itu bisa berupa gizi ibu saat hamil, ASI, MPASI bergizi, lingkungan bersih, pencegahan infeksi, imunisasi, pemantauan pertumbuhan, dan akses layanan kesehatan.

    Segera cari bantuan jika berat badan anak sulit bertambah, tinggi badan tidak naik sesuai usia, anak sering sakit, terus-terusan sulit makan, atau grafik pertumbuhan tidak sesuai jalurnya. Makin cepat penyebabnya ditemukan, makin besar peluang anak mendapat intervensi yang tepat.

    Referensi

    Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes). “1000 HPK Kunci Cegah Stunting.” Diakses Juli 2026.

    Kemenkes. “Stunting.” Diakses Juli 2026.

    Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan, Kemenkes. “Mengenal Stunting.” Diakses Juli 2026.

    Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan, Kemenkes. “Faktor-Faktor Penyebab Kejadian Stunting pada Balita.” Diakses Juli 2026.

    Ikatan Dokter Anak Indonesia. “Kurva Pertumbuhan WHO.” Diakses Juli 2026.

    World Health Organization. “Malnutrition.” Diakses Juli 2026.

    UNICEF Indonesia. “Nutrition.” Diakses Juli 2026.

    Victora, Cesar G., Christian Loret de Mola, Elaine C. Barros, et al. “Revisiting Maternal and Child Undernutrition in Low-Income and Middle-Income Countries: Variable Progress towards an Unfinished Agenda.” The Lancet 397, no. 10282 (2021): 1388–1399. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(21)00394-9.

    Dewey, Kathryn G. “Reducing Stunting by Improving Maternal, Infant and Young Child Nutrition in Regions Such as South Asia: Evidence, Challenges and Opportunities.” Maternal & Child Nutrition 12, Suppl. 1 (2016): 27–38. https://doi.org/10.1111/mcn.12282.

    Hijra, Hadju Veni, Veni Hadju, and Burhanuddin Bahar. “Inappropriate Complementary Feeding Practice Increases Risk of Stunting in Children Aged 12–24 Months.” Universa Medicina 35, no. 3 (2016): 146–155. https://www.univmed.org/ejurnal/index.php/medicina/article/view/337.

    Garina, Lisa A., et al. “Maternal, Child, and Household Risk Factors for Children Under Five Years with Stunting in Indonesia.” The Open Public Health Journal 17 (2024): e18749445321448. https://openpublichealthjournal.com/VOLUME/17/ELOCATOR/e18749445321448/FULLTEXT/.

    Mulyani, A. T., et al. “Understanding Stunting: Impact, Causes, and Strategy to Accelerate Prevention.” International Journal of Public Health Science 14, no. 1 (2025). https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC12073730/.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More