ilustrasi seorang perempuan yang tampak kelelahan ketika berlari (magnific.com/garetsvisual)
Kebugaran jantung-paru menggambarkan seberapa baik jantung, paru-paru, pembuluh darah, dan otot bekerja sama saat tubuh bergerak. Jika sistem ini terganggu, aktivitas yang dulu terasa biasa—naik tangga, berjalan agak cepat, beres-beres rumah, atau olahraga ringan—bisa terasa lebih melelahkan.
Para peneliti menulis bahwa pada populasi long COVID, penurunan aktivitas bisa mencerminkan gabungan antara kapasitas olahraga yang terbatas dan upaya sengaja untuk mengatur energi agar tidak memicu post-exertional malaise (gejala memburuk setelah aktivitas fisik atau mental, biasanya 12–48 jam setelah aktivitas, dan dapat bertahan selama beberapa hari atau minggu).
Data wearable dalam studi ini belum bisa membedakan secara pasti apakah kebugaran yang lebih rendah disebabkan gangguan fisiologis, pembatasan aktivitas secara sadar, atau kombinasi keduanya.
Ini penting karena long COVID memang bisa memunculkan gejala yang naik turun dan sulit dijelaskan.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut long COVID biasanya muncul dalam 3 bulan setelah infeksi awal, berlangsung setidaknya 2 bulan, dan dapat mengganggu aktivitas harian, pekerjaan, serta partisipasi sosial. Gejala umumnya termasuk kelelahan, sesak, nyeri otot atau sendi, gangguan tidur, post-exertional malaise, nyeri dada, jantung berdebar, pusing saat berdiri, dan brain fog di antara gejala lainnya.