Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Studi: Steroid Anabolik Bisa Merusak Jantung Weightlifter

4 min read
Studi: Steroid Anabolik Bisa Merusak Jantung Weightlifter
ilustrasi weightlifter, angkat besi, angkat beban, Olympic weightlifting (magnific.com/magnific)
  • Penggunaan steroid anabolik dalam dosis tinggi berkaitan dengan penebalan otot jantung dan gangguan kemampuan jantung untuk memompa serta mengisi darah.

  • Pada kelompok kecil yang berhenti, massa otot jantung berkurang dan fungsi pompa membaik setelah beberapa tahun. Hasil ini menunjukkan kemungkinan pemulihan, bukan jaminan semua dampak akan pulih.

  • Studi hanya melibatkan laki-laki yang berlatih beban. Pengguna steroid anabolik yang ingin berhenti sebaiknya mencari bantuan tenaga kesehatan karena penghentian mendadak dapat menimbulkan gejala putus zat.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Dalam angkat beban, progres umumnya berupa beban yang makin berat atau perubahan bentuk tubuh. Namun, perubahan pada jantung tidak selalu terasa atau tampak dari luar. Studi tindak lanjut terbaru menemukan bahwa penggunaan steroid anabolik dalam jangka panjang berkaitan dengan perubahan pada struktur dan fungsi jantung para pegiat angkat beban (weightlifter).

Steroid anabolik-androgenik adalah obat buatan yang meniru efek hormon testosteron. Obat ini memiliki kegunaan medis tertentu, tetapi sebagian orang menggunakannya tanpa pengawasan untuk menambah massa otot atau meningkatkan performa. Jenis ini berbeda dari kortikosteroid yang biasa diresepkan untuk mengatasi peradangan. Studi baru ini membahas penggunaan steroid anabolik dosis tinggi di luar pengawasan medis.

  1. Apa yang terjadi pada jantung?

    Penelitian yang dimuat di European Heart Journal–Cardiovascular Imaging merupakan lanjutan dari studi sebelumnya. Dari 101 pengguna steroid dan 71 orang yang rutin latihan beban tanpa steroid, sebanyak 70 pengguna steroid dan 35 peserta kelompok pembanding menjalani pemeriksaan lanjutan. Para peneliti mengevaluasi kondisi jantung menggunakan USG jantung (ekokardiografi), pemeriksaan hormon, dan wawancara.

    Pada 35 peserta yang tetap menggunakan steroid, dinding bilik kiri jantung, yaitu ruang utama yang memompa darah ke seluruh tubuh, masih terlihat menebal. Kemampuan jantung untuk memompa darah tetap lebih rendah, sementara kemampuannya untuk rileks dan terisi darah di antara detak jantung juga makin menurun. Selain itu, 6 dari 35 peserta memiliki fraksi ejeksi 40 persen atau kurang. Fraksi ejeksi adalah ukuran yang menunjukkan seberapa banyak darah yang dipompa keluar dari bilik kiri setiap kali jantung berdetak.

    Temuan ini muncul meskipun rata-rata dosis steroid yang digunakan telah turun hampir setengah dibandingkan pemeriksaan sebelumnya. Artinya, pengurangan dosis saja tidak tampak diikuti perbaikan pada perubahan struktur dan fungsi jantung yang diamati dalam penelitian ini.

  2. Bisa pulih setelah steroid anabolik dihentikan?

    Ilustrasi seorang pria mengangkat beban di gym sebagai bagian dari latihan kebugaran dan penguatan otot.
    ilustrasi pria angkat beban gym (pexels.com/Krzysztof Biernat)

    Pada 15 peserta yang berhenti menggunakan steroid setelah pemeriksaan awal, massa bilik kiri jantung yang disesuaikan dengan ukuran tubuh turun sekitar 19 persen: dari rata-rata 112 menjadi 91 gram per meter persegi. Fraksi ejeksi rata-rata meningkat dari 48 menjadi 54 persen. Perbaikan ini terlihat setelah peserta berhenti selama median enam tahun. Angka rata-rata tersebut membaik, tetapi fungsi pompa kelompok itu belum menyamai rata-rata kelompok pembanding yang tidak menggunakan steroid. Ini memberi petunjuk bahwa sebagian perubahan jantung dapat membaik setelah penggunaan dihentikan.

    Namun, penelitian ini tidak membuktikan bahwa setiap orang akan pulih sepenuhnya atau dalam waktu yang sama. Kelompok yang berhenti hanya terdiri dari 15 orang, dan pemulihan diamati dalam hitungan tahun. Di antara peserta yang sudah berhenti lebih lama—median 11 tahun—ukuran dan fungsi jantung tampak paling mendekati kelompok pembanding.

    Peneliti juga mencatat bahwa sebagian pengguna steroid yang mendapat obat untuk tekanan darah menunjukkan perbaikan fungsi pompa jantung. Namun, studi ini tidak dirancang untuk menguji obat tekanan darah sebagai penawar dampak steroid. Hasilnya juga tidak menunjukkan bahwa obat tersebut dapat menghilangkan penebalan otot jantung. Jadi, obat tekanan darah tidak bisa dianggap sebagai cara untuk menetralkan risiko penggunaan steroid.

  3. Keterbatasan penelitian

    Studi ini meneliti laki-laki dewasa yang berlatih beban, sehingga hasilnya belum tentu berlaku sama pada perempuan, remaja, atau kelompok lain.

    Jumlah peserta juga kecil, sebagian orang dari studi awal tidak mengikuti pemeriksaan lanjutan, dan riwayat penggunaan steroid di antara dua pemeriksaan mengandalkan laporan peserta.

    Faktor lain, seperti tekanan darah, penggunaan stimulan, dan kondisi kesehatan, mungkin ikut memengaruhi hasil.

    Bagi orang yang menggunakan steroid anabolik tanpa pengawasan dan ingin berhenti, mencari bantuan tenaga kesehatan merupakan langkah penting. Penggunaannya dapat menimbulkan ketergantungan, sehingga berhenti mendadak dapat memicu gejala seperti depresi, kecemasan, kelelahan, dan nyeri otot atau sendi.

    Dokter atau tenaga kesehatan terlatih dapat membantu menyusun langkah penghentian yang lebih aman sekaligus menilai kesehatan jantung.

    Referensi

    Rang Abdullah et al., “Cardiovascular Effects of Continued vs. Discontinued Anabolic–androgenic Steroid Use: A Longitudinal Follow-up Study,” European Heart Journal–Cardiovascular Imaging, published October 12, 2026, https://doi.org/10.1093/ehjci/jeag238.

    National Health Service, “Anabolic Steroid Misuse,” diakses 27 Oktober 2026.

    European Society of Cardiology, “Anabolic Steroids Linked to Serious Heart Damage in Weightlifters; Stopping Them May Aid Recovery,” diakses 27 Oktober 2026.

Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More