Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Studi Temukan Pasien Kanker Paru pada Usia yang Lebih Muda

Studi Temukan Pasien Kanker Paru pada Usia yang Lebih Muda
ilustrasi kanker paru-paru (pexels.com/Anna Tarazevich)
Intinya Sih
  • Studi di RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo menunjukkan peningkatan kasus kanker paru pada usia 30–59 tahun, menandakan pergeseran penyakit ini ke kelompok usia produktif di Indonesia.
  • Dokter menyoroti bahwa selain merokok, faktor seperti polusi udara, paparan kerja, dan genetika turut memicu kanker paru pada individu muda yang tampak sehat dan aktif.
  • Keterlambatan diagnosis masih menjadi tantangan utama, sementara kemajuan imunoterapi dan terapi proton kini memungkinkan pengobatan lebih presisi serta meningkatkan kualitas hidup pasien usia produktif.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Kanker paru tidak lagi identik dengan kelompok usia lanjut atau perokok berat. Saat ini, makin banyak dokter mendiagnosis penyakit keganasan tersebut pada individu berusia 30 hingga 40 tahun, termasuk mereka yang bukan perokok dan merasa dirinya sehat serta aktif. Pergeseran ini mencerminkan perubahan yang lebih luas dalam lanskap penyakit kanker di Indonesia.

Sebuah studi yang dilakukan di RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar (2002–2019) menunjukkan bahwa hampir 63 persen kasus kanker terjadi pada individu berusia 30–59 tahun. Hal ini menegaskan bahwa kanker makin banyak menyerang populasi usia produktif di Indonesia.

Menyerang pasien usia produktif

Dokter Tanujaa Rajasekaran, Senior Consultant Medical Oncologist dari Parkway Cancer Centre (PCC), menyoroti profil pasien kanker paru yang terus berubah serta mendesaknya kebutuhan deteksi dini.

“Meskipun merokok masih menjadi faktor risiko utama, tetapi kami makin sering menemukan pasien berusia lebih muda dan pasien yang tidak memiliki riwayat merokok. Faktor risiko seperti perokok pasif, polusi udara, paparan di tempat kerja, serta faktor genetika adalah kontributor penting yang tidak boleh diabaikan,” ujarnya, dikutip dari rilis resmi.

Salah satu kasus tersebut dialami oleh seorang profesional berusia 42 tahun, ayah dari dua anak, yang memeriksakan diri setelah mengalami batuk berkepanjangan yang tidak kunjung membaik. Sebagai seorang nonperokok dengan gaya hidup aktif, ia awalnya menganggap gejala tersebut sebagai gangguan pernapasan ringan. Namun, pemeriksaan lanjutan mengungkap bahwa ia mengidap kanker paru non sel kecil stadium IV.


Desakan akan deteksi dini

Rontgen pasien dengan kanker paru-paru.
ilustrasi rontgen pasien kanker paru-paru (commons.wikimedia.org/Δρ. Χαράλαμπος Γκούβας)

Tantangan utama dalam penanganan kanker paru-paru adalah keterlambatan diagnosis. Gejala awal seperti batuk berkepanjangan, kelelahan, nyeri dada, atau sesak napas sering kali dianggap sebagai penyakit pernapasan biasa. Akibatnya, banyak pasien baru terdiagnosis pada stadium III atau IV, ketika pengobatan menjadi jauh lebih kompleks.

"Deteksi dini secara signifikan meningkatkan hasil pengobatan. Ketika gejala berlangsung lebih dari beberapa minggu, hal tersebut tidak boleh diabaikan. Evaluasi tepat waktu dan skrining yang sesuai dapat memberikan perbedaan yang bermakna terhadap tingkat kelangsungan hidup dan kualitas hidup pasien," kata dr. Tanujaa.

Selama dua dekade terakhir, pengobatan kanker paru telah bergeser dari pendekatan yang didominasi oleh kemoterapi menuju perawatan yang sangat terpersonalisasi. Saat ini, keputusan pengobatan didasarkan pada jenis, stadium, dan profil genetik kanker sehingga dokter dapat menyesuaikan terapi sesuai dengan kondisi masing-masing pasien.

Kemajuan seperti imunoterapi dan terapi radiasi proton telah meningkatkan hasil pengobatan secara signifikan. Imunoterapi memungkinkan sistem kekebalan tubuh mengenali dan menyerang sel kanker, sementara terapi proton memberikan radiasi yang sangat  presisi ke lokasi tumor sehingga meminimalkan  kerusakan pada jaringan sehat di sekitarnya. Inovasi-inovasi ini tidak hanya meningkatkan kelangsungan hidup, tetapi juga mengurangi efek samping, sehingga banyak pasien, terutama mereka yang berada di usia produktif dapat tetap menjalani aktivitas sehari-hari selama masa pengobatan.

Pendekatan perawatan PCC

Dokter Tanujaa menyebut bahwa pengobatan yang terpersonalisasi memungkinkan tim medis memilih terapi yang lebih efektif dan lebih dapat ditoleransi, khususnya bagi pasien di usia produktif yang harus menyeimbangkan pengobatan dengan tanggung jawab keluarga dan pekerjaan.

Menjelang peringatan 20 tahun berdiri, PCC tidak hanya merefleksikan kemajuan dalam presisi pengobatan, tetapi juga menegaskan pentingnya pendekatan perawatan holistik yang berpusat pada pasien. Di luar intervensi medis, pasien dan keluarga kerap menghadapi berbagai tantangan emosional, psikologis, serta praktis setelah menerima diagnosis kanker.

Seiring kanker paru makin banyak menyerang di usia produktif, PCC mengajak masyarakat untuk lebih sadar terhadap faktor risiko yang terus berkembang dan pentingnya konsultasi sejak dini.

Bagi banyak masyarakat Indonesia yang mungkin tidak merasa dirinya berisiko, langkah cepat dan tepat waktu dapat menjadi keputusan terpenting yang mereka ambil demi diri sendiri dan keluarga.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F
Follow Us

Latest in Health

See More