- 16 dari 19 pasien STEMI atau 84,2 persen.
- 8 dari 20 pasien penyakit jantung koroner kronis atau 40 persen.
- 7 dari 22 peserta dengan arteri normal atau 31,8 persen.
Studi: Mikroplastik Ditemukan pada 84 Persen Pasien Serangan Jantung

Mikroplastik dan nanoplastik terdeteksi pada 84,2 persen pasien serangan jantung STEMI dalam studi kecil yang melibatkan 61 orang.
Pasien serangan jantung memiliki konsentrasi dan jenis partikel plastik lebih banyak dibandingkan pasien penyakit jantung kronis dan kelompok tanpa penyumbatan arteri.
Studi ini belum membuktikan bahwa mikroplastik menyebabkan serangan jantung sehingga hasilnya tidak boleh ditafsirkan sebagai hubungan sebab-akibat.
Pada pasien serangan jantung, fokus dokter biasanya adalah membuka arteri yang tersumbat agar aliran darah kembali mencapai otot jantung. Namun, dalam sebuah penelitian terbaru, para ilmuwan juga memeriksa sesuatu yang jauh lebih kecil dan tidak terlihat oleh mata, yaitu partikel plastik di dalam darah pasien.
Hasilnya, mikroplastik dan nanoplastik ditemukan lebih sering dalam darah arteri koroner pasien yang mengalami serangan jantung berat dibanding kelompok lainnya.
Table of Content
1. Mikroplastik ditemukan pada 16 dari 19 pasien
Studi yang diterbitkan dalam European Heart Journal pada Juli 2026 melibatkan 61 pasien yang menjalani pemeriksaan pembuluh darah jantung atau angiografi koroner. Para peserta dibagi menjadi tiga kelompok.
Kelompok pertama terdiri dari 19 pasien yang mengalami ST-segment elevation myocardial infarction (STEMI), yaitu serangan jantung berat yang umumnya terjadi akibat penyumbatan mendadak pada arteri koroner.
Kelompok kedua berisi 20 pasien dengan penyakit jantung koroner kronis, sedangkan 22 peserta lainnya memiliki arteri koroner yang tampak normal.
Para peneliti mendeteksi mikroplastik dan nanoplastik pada:
Pasien STEMI juga memiliki konsentrasi partikel plastik yang lebih tinggi dan jenis polimer yang lebih beragam. Plastik yang paling sering ditemukan adalah polietilena, bahan yang banyak digunakan dalam kemasan, kantong, botol, dan berbagai produk sehari-hari.
Konsentrasi tertinggi ditemukan dalam darah arteri koroner di dekat lokasi penyumbatan. Para peneliti telah melakukan pengujian untuk memastikan partikel tersebut bukan berasal dari alat medis yang digunakan selama prosedur. Namun, penelitian ini tidak dapat menentukan dari produk atau sumber mana plastik tersebut berasal.
2. Ada kaitan dengan peradangan, polusi udara, dan rokok

Pasien serangan jantung dalam penelitian ini juga memiliki kadar dua penanda peradangan, yaitu interleukin-6 dan tumour necrosis factor-alpha yang lebih tinggi. Pada sampel darah arteri koroner, kadar kedua penanda tersebut lebih tinggi pada pasien yang memiliki mikroplastik dibanding pasien yang tidak terdeteksi memiliki partikel plastik.
Secara biologis, temuan ini dapat diteliti lebih lanjut. Percobaan pada sel dan hewan menunjukkan bahwa partikel plastik berukuran sangat kecil mungkin memicu stres oksidatif, peradangan, gangguan lapisan dalam pembuluh darah, dan perubahan pada pembentukan plak. Namun, mekanisme tersebut belum otomatis membuktikan efek yang sama pada manusia.
Paparan polusi udara halus atau PM2.5 juga lebih tinggi pada kelompok STEMI, baik pada hari tindakan maupun rata-rata selama dua tahun sebelumnya. Mikroplastik lebih sering ditemukan pada orang yang merokok dan mereka yang tinggal di wilayah dengan paparan PM2.5 lebih tinggi.
Setelah para peneliti mempertimbangkan berbagai faktor, riwayat merokok menjadi satu-satunya faktor yang secara independen berkaitan dengan keberadaan mikroplastik. Peneliti menduga partikel dapat terhirup melalui udara dan asap rokok, kemudian menembus paru-paru sebelum memasuki aliran darah. Namun, jalur ini masih perlu dibuktikan melalui penelitian lanjutan.
Temuan ini melanjutkan penelitian tahun 2024 dalam New England Journal of Medicine. Studi tersebut menemukan mikroplastik dan nanoplastik dalam plak arteri karotis. Pasien yang plaknya mengandung partikel plastik mengalami risiko gabungan serangan jantung, stroke, atau kematian yang lebih tinggi selama masa pemantauan sekitar tiga tahun.
Meski dua penelitian ini menambah kekhawatiran, tetapi keduanya tetap tidak dapat memastikan bahwa mikroplastiklah yang menyebabkan penyakit. Ada kemungkinan partikel plastik menjadi penanda dari paparan lingkungan lain atau lebih mudah menumpuk pada tubuh yang sudah mengalami peradangan dan kerusakan pembuluh darah.
3. Belum ada tes maupun “detoks” mikroplastik
Walaupun angka 84 persen terdengar mengkhawatirkan, tetapi perlu dilihat bersama keterbatasan penelitiannya. Studi ini hanya melibatkan 61 orang dan hanya 19 di antaranya mengalami STEMI.
Desainnya juga bersifat potong lintang (darah diperiksa ketika pasien datang untuk menjalani angiografi) sehingga urutan sebab dan akibat tidak dapat ditentukan.
Para peneliti tidak menilai seluruh kemungkinan sumber paparan, seperti makanan, air, kemasan, obat-obatan, atau alat medis. Pasien serangan jantung non-STEMI juga tidak dimasukkan.
Para penulis sendiri menyatakan bahwa hasilnya masih bersifat eksploratif dan bertujuan membentuk hipotesis, bukan memberikan angka risiko yang pasti.
Saat ini belum ada pemeriksaan darah mikroplastik yang direkomendasikan sebagai bagian dari skrining penyakit jantung. Belum ada pula obat, suplemen, atau metode “detoks” yang terbukti dapat membersihkan mikroplastik dari tubuh.
Mikroplastik memang telah tercatat ditemukan dalam makanan, air, darah, dan organ manusia. Namun, bukti yang tersedia belum cukup untuk menentukan risiko kesehatan dari kadar mikroplastik yang ditemukan dalam makanan. Metode pengukuran antarpenelitian juga belum sepenuhnya standar.
Langkah yang paling masuk akal adalah mengurangi paparan yang memang sudah diketahui merugikan jantung, seperti:
- Tidak merokok dan menghindari asap rokok.
- Memeriksa kualitas udara dan mengurangi aktivitas berat di luar ruangan ketika polusi sangat tinggi.
- Memilih rute yang lebih jauh dari lalu lintas padat jika memungkinkan.
- Tidak membakar sampah plastik.
- Mengurangi penggunaan plastik sekali pakai yang tidak diperlukan.
- Tetap mengontrol tekanan darah, kolesterol, diabetes, pola makan, dan aktivitas fisik.
Polusi udara juga merupakan faktor risiko penyakit kardiovaskular. Orang dengan penyakit jantung dapat mempertimbangkan mengurangi waktu di lingkungan yang sangat tercemar dan menggunakan penyaring udara di dalam ruangan bila diperlukan.
Studi terbaru ini memang menunjukkan partikel plastik bisa masuk ke aliran darah yang menyuplai jantung. Bukan berarti satu botol plastik langsung menyebabkan serangan jantung, tetapi menambah bukti bahwa paparan gabungan (rokok, polusi udara, dan pencemaran plastik) perlu perhatian serius karena berpotensi merusak pembuluh darah.
Referensi
Pasquale Paolisso et al., “Micro- and Nano-Plastics in the Coronary Circulation and Air Pollution Exposure in Ischaemic Heart Disease Presentation,” European Heart Journal, diterbitkan daring 14 Juli 2026, ehag447, https://doi.org/10.1093/eurheartj/ehag447.
Raffaele Marfella et al., “Microplastics and Nanoplastics in Atheromas and Cardiovascular Events,” New England Journal of Medicine 390, no. 10 (2024): 900–910, https://doi.org/10.1056/NEJMoa2309822.
U.S. Food and Drug Administration, “Microplastics and Nanoplastics in Foods,” diakses Juli 2026.
World Health Organization, “Air Pollution: Personal Interventions and Risk Communication,” diakses Juli 2026.
American Heart Association, “Air Pollution, Heart Disease and Stroke,” diakses Juli 2026.
European Society of Cardiology, “Microplastics Found in 84% of Serious Heart Attack Patients,” SciTechDaily, diakses Juli 2026.





![[QUIZ] Dari Aktivitas Seksual Kamu, Ini Risiko Penyakit yang Mengintai Kamu](https://image.idntimes.com/post/20230116/screenshot-2023-01-16-174323-3f2914419b430dcad30e8bc97a275dcd.png)






![[QUIZ] Pilih Warna Favoritmu, Kami Tebak Tingkat Anxiety Kamu](https://image.idntimes.com/post/20260714/upload_fb55bb03ef8e096afd1d12b06f081ef9_8b5cfdf7-0ac7-4ed9-a9bc-2057765b9daa.png)
![[QUIZ] Seberapa Open-Minded Kamu? Kuis Ini Bisa Mengungkapnya](https://image.idntimes.com/post/20260111/pexels-rdne-8419498_22c7c2dd-f0dd-4b57-97ca-1c22e755c10b.jpg)




![[QUIZ] Kami Bisa Tebak Risiko Penyakit dari Cara Kamu Makan di Warteg](https://image.idntimes.com/post/20251114/pexels-elina-sazonova-4206592_775da6a4-868a-4dce-845c-a5ecb8cd1439.jpg)
![[QUIZ] Dari Kebiasaanmu Menggunakan Gadget, Ini Kondisi Kesehatan Matamu](https://image.idntimes.com/post/20260423/pexels-darlene-alderson-7971590_5a2bc143-4072-4af1-8eda-fe406c5490ad.jpg)