Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Sudah Pernah Campak, Apakah Bisa Terinfeksi Lagi?
Ruam campak di punggung pada hari kelima penyakit. (CDC/Public Health Image Library (PHIL), ID#24422)
  • Sebagian besar orang yang pernah mengalami campak akan memiliki kekebalan seumur hidup terhadap virus tersebut.

  • Sistem imun membentuk memori antibodi dan sel imun yang mampu mengenali virus campak jika terpapar kembali.

  • Dalam kasus yang sangat jarang, infeksi ulang atau gejala mirip campak tetap bisa terjadi karena beberapa faktor medis.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Campak adalah penyakit yang sangat menular, terutama pada anak-anak. Virus ini menyebar melalui percikan droplet saat orang yang terinfeksi batuk atau bersin, dan bisa bertahan di udara atau permukaan selama beberapa waktu. Karena tingkat penularannya yang tinggi, banyak orang terinfeksi campak pada masa kanak-kanak sebelum program vaksinasi meluas.

Setelah sembuh, muncul pertanyaan apakah seseorang yang pernah terkena campak bisa tertular lagi? Dalam banyak kasus, jawabannya tidak. Infeksi campak biasanya memberikan kekebalan jangka panjang. Namun, ada beberapa faktor yang harus diperhatikan.

1. Orang yang pernah campak biasanya kebal seumur hidup

Ketika virus campak masuk ke dalam tubuh, sistem kekebalan akan mengenali virus tersebut sebagai ancaman. Tubuh kemudian memproduksi antibodi spesifik serta sel imun memori yang dirancang untuk mengenali virus campak di masa depan.

Orang yang pernah terinfeksi campak umumnya memiliki imunitas seumur hidup terhadap virus tersebut. Jika virus yang sama masuk kembali ke tubuh, sistem imun dapat merespons dengan sangat cepat sehingga infeksi baru tidak berkembang.

Penelitian imunologi juga menunjukkan bahwa virus campak memicu respons imun yang sangat kuat, menghasilkan antibodi yang bertahan lama dalam tubuh. Antibodi terhadap virus campak dapat bertahan selama puluhan tahun setelah infeksi.

Inilah alasan mengapa infeksi campak alami sering kali memberikan perlindungan jangka panjang terhadap penyakit yang sama.

2. Apakah infeksi ulang campak bisa terjadi?

ilustrasi virus campak (CDC/Public Health Image Library (PHIL), ID#5622)

Meskipun jarang, tetapi secara teori infeksi ulang campak bisa terjadi. Namun, kasus seperti ini sangat tidak umum dan biasanya berkaitan dengan kondisi khusus.

Beberapa laporan menunjukkan bahwa infeksi ulang bisa terjadi pada orang dengan sistem imun yang sangat lemah, misalnya pada orang dengan penyakit yang menekan sistem kekebalan, atau pada individu yang mengalami gangguan produksi antibodi. Dalam kondisi ini, perlindungan imun yang seharusnya kuat bisa menjadi tidak optimal.

Selain itu, ada juga situasi ketika seseorang mengalami penyakit lain dengan gejala mirip campak, seperti ruam virus tertentu. Karena gejalanya menyerupai campak (demam, ruam merah, dan batuk) penyakit tersebut kadang disalahartikan sebagai infeksi campak kedua.

Infeksi ulang campak sangat jarang terjadi pada orang dengan sistem imun normal.

3. Mengapa vaksin campak tetap penting?

Walaupun infeksi alami dapat memberikan kekebalan jangka panjang, tetapi para ahli kesehatan tetap menekankan pentingnya vaksinasi campak. Vaksin memberikan perlindungan yang sangat efektif tanpa harus mengalami penyakitnya terlebih dahulu.

Dua dosis vaksin campak (MMR) memiliki efektivitas sekitar 97 persen dalam mencegah infeksi. Selain itu, vaksin membantu menciptakan kekebalan kelompok, yang melindungi orang-orang yang tidak dapat divaksinasi, seperti bayi atau individu dengan kondisi medis tertentu.

Program vaksinasi campak telah mencegah puluhan juta kematian di seluruh dunia dalam beberapa dekade terakhir. Ini menjadikan vaksin campak sebagai salah satu intervensi kesehatan masyarakat paling efektif.

Secara umum, orang yang pernah terkena campak akan memiliki kekebalan jangka panjang terhadap virus tersebut. Sistem imun membentuk memori yang memungkinkan tubuh mengenali dan melawan virus dengan cepat jika terjadi paparan kembali.

Namun, dalam kondisi yang sangat jarang, terutama pada individu dengan sistem imun yang terganggu, infeksi ulang mungkin terjadi. Karena itu, upaya pencegahan melalui vaksinasi tetap menjadi langkah paling aman dan efektif untuk melindungi diri dan masyarakat dari penyebaran campak.

Referensi

Centers for Disease Control and Prevention. “Measles (Rubeola).” Diakses Maret 2026.

Diane E. Griffin, “Measles Virus‐induced Suppression of Immune Responses,” Immunological Reviews 236, no. 1 (June 15, 2010): 176–89, https://doi.org/10.1111/j.1600-065x.2010.00925.x.

Moss, William J. “Measles.” The Lancet 390, no. 10111 (July 1, 2017): 2490–2502. https://doi.org/10.1016/s0140-6736(17)31463-0.

World Health Organization. “Measles.” Diakses Maret 2026.

Centers for Disease Control and Prevention. “MMR Vaccine Effectiveness.” Diakses Maret 2026.

World Health Organization. “Measles Vaccines: WHO Position Paper.” Diakses Maret 2026.

Editorial Team