Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Tambal Gigi DIY yang Dibeli Online Bisa Berbahaya, Ini Alasannya

Tambal Gigi DIY yang Dibeli Online Bisa Berbahaya, Ini Alasannya
ilustrasi dokter gigi memeriksa tambal gigi (pexels.com/Arvind Philomin)
  • Lubang pada gigi tidak selalu cukup ditangani dengan menutupnya. Dokter perlu menentukan seberapa dalam kerusakan dan apakah saraf gigi sudah terlibat.

  • Tambal gigi DIY dapat menunda diagnosis dan perawatan yang sebenarnya diperlukan, sementara tambalan yang tidak pas atau tidak bertahan baik dapat menimbulkan masalah baru.

  • Produk tambal sementara memang ada, tetapi ditujukan sebagai solusi jangka pendek dalam kondisi tertentu sambil menunggu pemeriksaan dokter gigi, bukan pengganti tambalan permanen.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Penggunaan bahan tambal gigi yang dibeli secara online menjadi sorotan setelah seorang pasien dilaporkan mengalami infeksi setelah menambal giginya sendiri di rumah.

Pasien tersebut dikatakan membeli bahan murah yang berbentuk butiran seperti plastik, memanaskannya dengan air panas, kemudian memasangnya sendiri pada gigi yang berlubang.

Beberapa bulan kemudian, area gigi tersebut bengkak dan terasa sakit. Saat bahan tambalan akhirnya dilepas oleh dokter gigi, ditemukan nanah dari area yang sebelumnya tertutup.

Kasus tersebut menunjukkan masalah utama dari tambal gigi DIY, bahwa lubang pada gigi tidak selalu cukup ditangani dengan cuma menutupnya. Apa yang terlihat sebagai satu lubang kecil bisa jadi merupakan karies yang sudah dalam, tambalan lama yang lepas, gigi retak, atau kerusakannya sudah mengenai jaringan hidup di dalam gigi.

Sebelum membuat restorasi, dokter gigi akan menentukan penyebab dan kedalaman kerusakan serta kondisi pulpa atau jaringan yang berisi saraf dan pembuluh darah di dalam gigi. Menurut American Dental Association (ADA), penilaian karies melibatkan pemeriksaan klinis dan, jika diperlukan, radiografi untuk mengetahui kondisi yang tidak tampak dari permukaan.

Inilah beberapa alasan tambal gigi DIY atau yang dibeli online bisa menyebabkan masalah serius.

  1. 1. Gigi berlubang mungkin membutuhkan lebih dari tambalan

    Bagi awam, lubang kecil yang tidak sakit dan gigi berlubang yang sudah mencapai saraf bisa terlihat mirip.

    Ketika karies makin dalam, bakteri bisa mencapai pulpa—bagian tengah gigi yang berisi saraf dan pembuluh darah. Kondisinya dapat berkembang menjadi peradangan pulpa, kematian pulpa, hingga infeksi di sekitar akar gigi.

    Pada tahap tersebut, cuma menambal gigi bukan solusi. Perawatan yang diperlukan mungkin berupa terapi pulpa, perawatan saluran akar, drainase abses, atau bahkan pencabutan jika gigi tak bisa lagi dipertahankan.

    Pedoman American Dental Association (ADA) untuk nyeri dan pembengkakan akibat masalah pulpa juga menekankan pentingnya perawatan gigi definitif, bukan cuma antibiotik atau penanganan gejala.

    Karena itu, sakit gigi yang berkurang setelah lubang ditutup belum tentu penyakitnya selesai.

  2. 2. Perbedaan antara tambal sendiri dan restorasi konservatif

    Menutup karies tidak otomatis berbahaya hanya karena masih ada bakteri di bawah tambalan.

    Konsensus kedokteran gigi modern justru menganjurkan pendekatan konservatif untuk karies yang dalam. Dokter gigi bisa sengaja meninggalkan sebagian jaringan karies dekat pulpa agar saraf tidak terbuka, selama bagian tersebut dipilih secara tepat dan restorasi dapat menutup lesi dengan baik.

    Pedoman ADA 2023 yang dikembangkan setelah meninjau ratusan penelitian juga mendukung teknik pengangkatan jaringan karies secara selektif pada kondisi tertentu.

    Perbedaannya dengan DIY/menambal sendiri adalah adanya diagnosis dan kontrol teknik. Dokter menentukan jaringan mana yang perlu dibersihkan, apakah pulpa masih sehat, bagaimana permukaan dipersiapkan, material apa yang sesuai, dan apakah restorasi mampu memberikan penutupan yang baik. Menempelkan bahan ke lubang tanpa mengetahui kondisi-kondisi ini tidak sama dengan melakukan restorasi konservatif.

  3. 3. Tambalan bisa tidak rapat atau justru mudah lepas

    Ilustrasi gigi berlubang dengan area kerusakan berwarna cokelat kehitaman pada permukaan gigi.
    ilustrasi gigi berlubang (commons.wikimedia.org/Suyash.dwivedi)

    Tambalan permanen harus mampu bertahan menghadapi air liur, perubahan suhu, tekanan mengunyah, dan bakteri di dalam mulut.

    Keberhasilannya dipengaruhi banyak hal, seperti bentuk lubang, kondisi permukaan gigi, kontrol kelembapan, sistem perekat, jenis material, hingga teknik pemasangan.

    Review mengenai karies yang muncul di sekitar restorasi menemukan risiko masalah tidak hanya dipengaruhi material, tetapi juga ukuran celah pada restorasi, risiko karies pasien, dan kualitas penempatan restorasi.

    Kalau bahan DIY mudah terlepas atau meninggalkan celah besar, sisa makanan dan plak dapat kembali berkumpul di sekitar area tersebut. Yang terlihat mungkin gigi sudah ditambal, tetapi akhirnya bisa menyamarkan proses penyakit yang masih berlangsung.

  4. 4. Tambalan yang terlalu tinggi dapat membuat menggigit tidak nyaman

    Pada akhir prosedur tambal gigi, dokter biasanya meminta pasien menggigit kertas khusus untuk memeriksa kontak antara gigi atas dan bawah. Tujuannya agar tambalan tidak boleh menjadi titik yang menyentuh lebih dahulu setiap kali seseorang menggigit.

    Penelitian eksperimental pada manusia menunjukkan kontak gigitan prematur yang kecil sekalipun dapat mengubah sensasi dan menimbulkan gejala pada gigi, yang menghilang setelah kontak tersebut diperbaiki.

    Material yang dipasang sendiri juga dapat memiliki permukaan kasar atau bentuk yang tidak mengikuti anatomi gigi, sehingga mengganggu kenyamanan saat makan.

  5. 5. Kamu belum tentu tahu apa sebenarnya bahan yang dibeli

    Harga murah atau fakta bahwa produk dijual secara online tidak otomatis berarti bahannya beracun. Untuk mengatakan sebuah produk berbahaya secara kimia, komposisi dan produk tersebut harus diperiksa secara spesifik. Namun, material restorasi yang digunakan dalam kedokteran gigi memang bukan bahan sembarangan.

    Di Amerika Serikat, misalnya, FDA mengategorikan resin sewarna gigi yang digunakan untuk mengisi dan memperbaiki lesi karies sebagai perangkat medis kelas II. Material ini berhubungan dengan standar mengenai sifat material dan biokompatibilitas.

    Resin komposit profesional juga membutuhkan proses polimerisasi atau pengerasan yang memadai. Tinjauan sistematis terhadap penelitian laboratorium menunjukkan komponen resin yang tidak terikat dapat memiliki efek sitotoksik terhadap sel, meskipun temuan ini terutama berasal dari studi in vitro dan tidak berarti tambalan komposit yang dipasang dokter terbukti beracun pada pasien.

    Karena itu, menggunakan bahan yang komposisi, tujuan penggunaan, cara pengerasan, dan status keamanannya tidak jelas menambah risiko yang tidak perlu.

  6. 6. Bahaya terbesar bisa muncul karena menunda perawatan dari dokter gigi

    Ilustrasi pria memegang pipi karena sakit gigi sambil tampak enggan memeriksakan diri ke dokter gigi.
    ilustrasi seseorang yang sakit gigi tapi tidak mau periksa ke dokter gigi (magnific.com/wayhomestudio)

    Gigi berlubang dapat berkembang tanpa menghasilkan rasa sakit yang sebanding dengan tingkat kerusakannya.

    Kalau kamu menutup lubang sendiri dan menganggap masalah sudah selesai, kunjungan ke dokter gigi bisa tertunda sampai muncul sakit hebat atau pembengkakan.

    Infeksi gigi yang berkembang menjadi abses tidak akan hilang dengan sendirinya. Pada kasus yang berat (namun jarang terjadi), infeksi dapat menyebar keluar rahang dan menyebabkan selulitis, infeksi jaringan leher, gangguan jalan napas, hingga sepsis.

    Tinjauan mengenai abses gigi menegaskan risiko obstruksi jalan napas dan septikemia meningkat ketika infeksi telah menyebar keluar area rahang.

    Intinya, infeksi gigi yang tidak ditangani dengan tepat dapat—dalam kasus berat—berkembang menjadi komplikasi yang mengancam nyawa, dan menambal gigi sendiri berpotensi menunda penanganan penyebabnya.

  7. Lalu, apakah perangkat tambal sementara sama sekali tidak boleh dipakai?

    Produk tambal sementara mungkin bisa menjadi solusi darurat jangka pendek, misalnya saat tambalan lama terlepas dan kamu belum bisa segera menemui dokter gigi. Namun, pilihan ini kurang disukai dibanding pemeriksaan langsung oleh dokter gigi.

    Jika ada nyeri, bengkak, atau infeksi, pemeriksaan harus dilakukan secepat mungkin.

  8. Kapan harus segera mencari pertolongan?

    Jangan mencoba menambal sendiri gigi yang berlubang jika mengalami nyeri hebat, nyeri berdenyut, bengkak pada gusi atau wajah, demam, keluar nanah atau cairan berbau, atau sulit membuka mulut.

    Jika pembengkakan menyebar ke wajah atau leher dan menyebabkan sulit bernapas, menelan, atau berbicara, segera cara pertolongan medis darurat karena bisa menandakan infeksi telah menyebar.

    Gigi berlubang adalah tanda penyakit atau kerusakan yang penyebab dan kedalamannya harus diketahui lebih dulu. Tambalan baru menjadi terapi yang tepat setelah dokter menentukan apa yang sebenarnya terjadi di dalam lubang tersebut.

    Referensi

    American Dental Association, “Caries Risk Assessment and Management,” diakses Agustus 2026.

    American Dental Association, “Antibiotics for Dental Pain and Swelling Guideline,” diakses Agustus 2026.

    Avijit Banerjee, Jo E. Frencken, Falk Schwendicke, and Nicola P. T. Innes, “Contemporary Operative Caries Management: Consensus Recommendations on Minimally Invasive Caries Removal,” British Dental Journal 223, no. 3 (2017): 215–222, https://doi.org/10.1038/sj.bdj.2017.672.

    Vineet Dhar et al., “Evidence-Based Clinical Practice Guideline on Restorative Treatments for Caries Lesions: A Report from the American Dental Association,” Journal of the American Dental Association 154, no. 7 (2023): 551–566.e51, https://doi.org/10.1016/j.adaj.2023.04.011.

    Falk Schwendicke et al., “Secondary Caries: What Is It, and How It Can Be Controlled, Detected, and Managed?,” Clinical Oral Investigations 24 (2020): 1869–1876, https://doi.org/10.1007/s00784-020-03268-7.

    K. H. Kim et al., “The Effect of Light Premature Occlusal Contact on Tooth Pain Threshold in Humans,” Journal of Oral Rehabilitation 25 (1998).

    U.S. Food and Drug Administration, “Dental Composite Resin Devices—Premarket Notification [510(k)] Submissions,” diakses Agustus 2026.

    Paulina Szczepańska et al., “Considerations about Cytotoxicity of Resin-Based Composite Dental Materials: A Systematic Review,” International Journal of Molecular Sciences 25 (2024).

    Kristen Bayetto, Andrew Cheng, and Alastair Goss, “Dental Abscess: A Potential Cause of Death and Morbidity,” Australian Journal of General Practice 49, no. 9 (2020): 563–567, https://doi.org/10.31128/AJGP-02-20-5254.

    Health Education England, Pharmacy Dental Fact Sheet: Lost Fillings or Crowns, 2022.

    National Health Service, “Dental Abscess,” diakses Agustus 2026.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More