"Sebagai orang tua, penting sekali untuk memantau apakah anak yang sakit ini bertambah berat gejalanya atau tidak," kata dr. Himawan Aulia Rahman, Sp.A, Subsp.G.H.(K), Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Gastrohepatologi IDAI, pada Selasa (01/9/2026).
Usus Buntu pada Anak, Ini Ciri-ciri Sakit Perut yang Harus Diwaspadai

- IDAI mengingatkan apendisitis pada anak dapat berawal dari nyeri sekitar lambung yang kemudian berpindah ke perut kanan bawah dan makin hebat.
- Gejala dapat berkembang seiring waktu, termasuk demam, mual, muntah, hilang nafsu makan, serta nyeri saat bergerak atau perut disentuh.
- Orang tua perlu segera membawa anak untuk diperiksa bila sakit perut memberat, terutama disertai nyeri kanan bawah, karena anak kecil lebih berisiko mengalami perforasi.
Sakit perut pada anak kerap dianggap sebagai keluhan biasa. Namun, bagaimana jika awalnya anak mengeluh sakit di sekitar lambung, lalu keesokan harinya nyerinya berpindah ke perut kanan bawah dan terasa makin hebat? Kondisi seperti ini bisa menjadi tanda apendisitis akut atau yang lebih dikenal sebagai usus buntu.
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan, gejala usus buntu pada anak tidak selalu muncul secara khas sejak awal. Bahkan, perubahan gejala dari waktu ke waktu justru menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan oleh orang tua.
Table of Content
Pada anak, usus buntu bukan sekadar sakit perut
Apendisitis akut merupakan salah satu kondisi yang perlu diwaspadai ketika anak mengalami sakit perut. Kondisi ini terjadi ketika apendiks mengalami peradangan dan dapat berkembang menjadi keadaan gawat yang membutuhkan tindakan segera. Pada kasus tertentu, operasi perlu dilakukan dalam hitungan jam, terutama jika peradangan makin berat.
Gejala pada anak juga tidak selalu langsung terlihat jelas. Anak bisa saja awalnya mengeluhkan sakit di sekitar perut bagian atas atau lambung, kemudian nyeri berpindah ke perut kanan bawah dan makin berat.
Kondisi tersebut dapat disertai demam, mual, muntah, serta hilang nafsu makan. Karena gejalanya dapat berubah dari waktu ke waktu, orang tua perlu memperhatikan perkembangan gejala anak, bukan cuma melihat kondisi pada saat pertama kali sakit.
Hal yang membuat apendisitis harus diperhatikan adalah risikonya pada anak yang lebih muda. Meskipun lebih sering terjadi pada anak yang usianya lebih besar, terutama remaja, anak yang lebih kecil justru lebih sering datang dengan komplikasi.
Salah satu komplikasi paling serius adalah perforasi, ketika usus buntu pecah atau bocor sehingga isinya keluar ke rongga perut dan menyebabkan infeksi.
Gejalanya bisa berubah

ilustrasi anak dirawat di rumah sakit akibat usus buntu (magnific.com/lifeforstock) Salah satu hal yang membuat usus buntu pada anak sulit dikenali adalah gejalanya tidak selalu muncul dengan pola yang sama sejak awal. Pada anak yang lebih besar atau orang dewasa, gambaran yang lebih klasik biasanya berupa sakit yang kemudian terlokalisasi di perut kanan bawah.
Namun, pada fase awal, rasa sakit dapat muncul di bagian perut lain. Seiring peradangan pada apendiks berkembang, karakter nyerinya dapat berubah. Anak yang awalnya hanya mengeluhkan sakit perut di sekitar lambung, misalnya, kemudian mengalami nyeri yang makin parah dan berpindah ke bagian kanan bawah.
Perubahan inilah yang membuat kondisi tersebut pada awalnya kadang dianggap sebagai masalah lambung atau gangguan pencernaan lainnya.
"Gejala usus buntu pada anak berevolusi—ada perpindahan dari perut yang di daerah lambung ke daerah kanan bawah," dr. Himawan menjelaskan.
Situasi tersebut bukan berarti dokter yang melakukan pemeriksaan pertama pasti keliru. Diagnosis dapat berubah karena perjalanan penyakit juga berubah. Gejala yang terlihat ketika anak pertama kali diperiksa belum tentu sama dengan gejala yang muncul beberapa jam kemudian.
Karena itu, orang tua perlu memperhatikan perkembangan keluhan setelah pemeriksaan pertama. Jika sakit makin parah, muncul demam, anak tidak mau makan, atau lokasi nyeri berubah dan makin jelas di perut kanan bawah, anak perlu kembali diperiksa.
Kapan orang tua harus curiga?
Ada sejumlah tanda bahaya yang harus dikenali orang tua. Salah satunya adalah ketika nyeri perut yang awalnya ringan justru memberat. Lokasi nyeri juga wajib diperhatikan, terutama jika kemudian terasa jelas di perut kanan bawah, area tempat apendiks berada.
Rasa sakit yang makin parah ketika anak bergerak juga patut dicurigai. Anak dengan apendisitis dapat merasa lebih sakit ketika berjalan, melompat, atau melakukan gerakan lain. Bahkan, dalam kondisi tertentu, perut yang tersentuh atau ditekan ringan saja menimbulkan nyeri hebat.
"Sakit ini bertambah kalau anaknya terus gerak, jalan atau loncat. Pokoknya dia bergerak saja sakit sekali. Muntah yang muncul setelah sakit perut itu harus hati-hati, bukan lebai," tambah dr. Himawan.
Meski demikian, gejala-gejala tersebut tidak secara otomatis anak mengalami usus buntu, karena beberapa penyakit lain juga bisa menimbulkan keluhan serupa.
Karena itu, yang terpenting bagi orang tua adalah melihat pola dan perkembangan gejala secara keseluruhan. Sakit perut yang makin berat, terutama jika disertai nyeri kanan bawah, nyeri saat bergerak atau disentuh, muntah, demam, dan penurunan nafsu makan, adalah ciri-ciri untuk segera membawa anak mendapatkan pemeriksaan medis.












![[QUIZ] Apakah Kamu Perlu Diet Gula? Cek Lewat Kuis Ini](https://image.idntimes.com/post/20251114/pexels-andres-ayrton-6551415_cba3b81a-b873-4715-a107-d9f700b5f96a.jpg)




![[QUIZ] Disiplin vs Intuitif: Gaya Lari Mana yang Kamu Banget?](https://image.idntimes.com/post/20260822/gambar-artikel-90_62bcda34-1f45-442a-acf2-42109b179116.png)



