“Hasil CKG gigi paling jelek di anak-anak. Tiga puluh sampai 40 persen giginya bermasalah. Nomor satu karies, nomor dua masalah gusi. Pastikan semua puskesmas tidak hanya punya kursi (dokter) gigi, tetapi juga bisa menambal dan merawat akar gigi,” ujarnya yang dikutip dalam situs resmi.
Kasus Gigi Berlubang Anak di CKG Disebut Menyentuh 100 Persen

- Data CKG mencatat karies gigi hampir 100 persen pada siswa SMP dan SMA, sementara 95 persen balita berisiko TB belum menjalani tes konfirmasi.
- Menkes Budi Gunadi Sadikin meminta puskesmas mampu menambal dan merawat akar gigi, serta mendorong konseling bagi remaja terindikasi kecemasan atau depresi.
- Mulai 2027, keberhasilan CKG diukur dari penyakit yang tertangani; Kemenkes menyiapkan obat gratis 15 hari bagi anak dengan rapor kesehatan kuning atau merah.
Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) untuk anak dipastikan tidak akan berhenti hanya pada tahap pemeriksaan awal. Pemerintah menegaskan, setiap temuan masalah kesehatan pada anak mulai dari karies gigi hingga risiko gangguan mental harus ditindaklanjuti hingga tuntas guna mencegah perburukan kondisi di masa depan.
Data CKG menunjukkan sejumlah urgensi. Sebanyak 95 persen balita yang berisiko tuberkulosis (TB) belum menjalani tes konfirmasi. Temuan lain menyoroti tingginya kasus anemia, tren peningkatan tekanan darah, masalah kesehatan mental, hingga kasus gigi berlubang (karies) yang disebut menyentuh angka 100 persen pada tingkat SMP dan SMA.
Table of Content
Masalah gigi jadi sorotan Menkes
Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin secara khusus menyoroti masalah karies gigi pada anak-anak. Menurutnya, fasilitas puskesmas harus segera ditingkatkan agar tidak hanya melayani pemeriksaan, tetapi juga penanganan.
Pendampingan untuk kesehatan mental remaja

ilustrasi psikolog dan pasien remaja (pexels.com/Polina Zimmerman) Selain kesehatan fisik, Menkes Budi juga menyoroti pentingnya pendampingan kesehatan mental remaja. Anak usia SMP dan SMA yang terindikasi mengalami kecemasan atau depresi harus segera difasilitasi dengan layanan konseling.
Hal ini dapat dilakukan melalui platform telemedisin maupun penguatan peran guru Bimbingan Konseling (BK) di sekolah.
Penguatan CKG untuk anak
Sebagai wujud nyata evaluasi, mulai tahun 2027, keberhasilan program CKG tidak lagi diukur dari seberapa banyak anak yang diperiksa, melainkan berdasarkan rasio temuan penyakit yang berhasil ditangani.
Kemenkes juga berkomitmen menyediakan obat gratis selama 15 hari pertama bagi anak yang memiliki ‘rapor kesehatan’ berstatus kuning atau merah.
Ada lima arah penguatan CKG Anak ke depan, yang mencakup:
- Pemenuhan hak dan kenyamanan anak dalam skrining.
- Jaminan kerahasiaan data medis.
- Integrasi CKG dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolah.
- Penguatan kolaborasi lintas sektor.
- Pelibatan aktif masyarakat sipil dalam pemantauan program.
Berdasarkan evaluasi program sejak Februari 2025 hingga Februari 2026, tercatat 23,5 juta anak telah mengikuti CKG. Namun, masih ditemukan kesenjangan mencolok antara tingginya angka pemeriksaan dengan rendahnya tindak lanjut medis (skrining).








![[QUIZ] Kami Bisa Tebak Risiko Penyakit dari Cara Kamu Makan Makanan Korea](https://image.idntimes.com/post/20260715/upload_1f4fad55d736c0857d28717d4f5ad568_9f044a0b-3a74-43ca-bf9f-4bb408840b9c.png)




![[QUIZ] Seberapa Besar Kecenderungan Social Anxiety dalam Dirimu?](https://image.idntimes.com/post/20260804/mwuep2hrca5w9qlbdxkci8rch_0a3c7963-22c0-42a8-afa2-de6c989c3307.png)







