Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Waspadai 6 Penyakit Terkait Kebersihan setelah Bencana

Waspadai 6 Penyakit Terkait Kebersihan setelah Bencana
Tim Kesehatan saat memeriksa kondisi pengungsi di Manggarai Barat. (Dok. Dinkes Manggarai Barat)
  • Bencana tidak langsung memicu wabah, tetapi kerusakan air, sanitasi, layanan kesehatan, serta kepadatan pengungsian meningkatkan risiko penularan infeksi.
  • Ancaman utama meliputi diare, leptospirosis, tifoid, hepatitis A/E, kudis, infeksi kulit, dengue, malaria, dan gangguan pernapasan; risikonya bergantung pada kondisi lingkungan setempat.
  • Pencegahan mengandalkan air dan makanan aman, cuci tangan, menghindari air banjir, merawat luka, tidak berbagi barang pribadi, menghilangkan genangan, serta melaporkan peningkatan gejala.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Saat air banjir mulai surut atau warga berhasil keluar dari wilayah gempa dan longsor, ancaman kesehatan belum sepenuhnya hilang. Pipa air dapat rusak, toilet tidak berfungsi, listrik mati, sampah menumpuk, dan ratusan orang mungkin harus berbagi ruang yang sama di tempat pengungsian.

Bencana itu sendiri tidak secara langsung menyebabkan wabah penyakit. Risiko infeksi terutama meningkat ketika bencana menyebabkan perpindahan penduduk, kerusakan air dan sanitasi, kepadatan pengungsian, terganggunya layanan kesehatan, serta kondisi lingkungan yang mendukung penularan.

Karena itu, jenis penyakit yang perlu diwaspadai terkait kebersihan pun dapat berbeda bergantung pada situasinya.

  1. 1. Diare dan gastroenteritis

    Skenario: banjir, gempa, longsor, badai, atau evakuasi massal.

    Salah satu masalah paling umum setelah bencana adalah penyakit pencernaan.

    Banjir dapat membuat air limbah bercampur dengan sumber air minum. Gempa atau longsor juga dapat memutus pipa air, merusak septic tank dan toilet, atau mengisolasi wilayah sehingga penduduk terpaksa menggunakan sumber air yang tidak aman.

    Banjir merupakan jenis bencana yang paling sering dilaporkan berkaitan dengan wabah penyakit, dan infeksi saluran cerna termasuk masalah yang paling banyak ditemukan.

    Masalah serupa bisa muncul karena kondisi pengungsian.

    Setelah Hurricane Katrina di Amerika Serikat (AS) pada 2005, lebih dari 27 ribu pengungsi tinggal dalam satu kompleks pengungsian besar. Dalam 11 hari, lebih dari 1.000 orang datang ke klinik karena gastroenteritis, dan norovirus menjadi patogen yang teridentifikasi. Kondisi padat membuat virus yang sangat mudah menular tersebut sulit dikendalikan.

    Skenario semacam ini juga bisa terjadi setelah kebakaran hutan jika warga harus dievakuasi dalam jumlah besar. Asap tetap menjadi risiko kesehatan utama dari kebakaran, tetapi gangguan listrik, air, penyimpanan makanan, dan kepadatan tempat evakuasi dapat menambah risiko penyakit saluran cerna.

  2. 2. Leptospirosis

    Skenario: banjir dan hujan ekstrem.

    Leptospirosis disebabkan bakteri Leptospira yang dapat keluar melalui urine hewan terinfeksi, termasuk tikus. Hujan deras dan banjir dapat membawa bakteri tersebut ke dalam air dan lumpur.

    Infeksi dapat terjadi ketika air yang terkontaminasi mengenai luka atau kulit yang lecet, mata, hidung, atau mulut. Kasus leptospirosis dapat meningkat setelah banjir atau hujan lebat ketika manusia lebih banyak bersentuhan dengan air yang telah terkontaminasi urine hewan.

    Tinjauan mengenai banjir di Asia Tenggara pada 2025 juga menempatkan leptospirosis sebagai salah satu penyakit zoonosis yang paling sering dikaitkan dengan banjir di kawasan ini.

    Karena itu, sebisa mungkin hindari berjalan atau bermain di air banjir. Jika tidak dapat dihindari, gunakan sepatu bot dan tutup luka dengan pelindung tahan air.

  3. 3. Tifoid, hepatitis A, dan hepatitis E

    Deretan tenda pengungsi berdiri di area terbuka sebagai ilustrasi kondisi kehidupan warga di kamp pengungsian.
    ilustrasi kamp pengungsi (pexels.com/Hosny salah)

    Skenario: sanitasi rusak setelah gempa, banjir, tsunami, atau longsor.

    Ketiganya berbeda penyakit, tetapi kesamaannya adalah penularannya dapat terjadi melalui jalur fekal-oral, yaitu ketika kuman dari tinja akhirnya masuk ke mulut melalui air, makanan, atau tangan yang terkontaminasi.

    Risikonya meningkat ketika toilet tidak tersedia, limbah manusia mencemari sumber air, atau air bersih untuk mencuci tangan dan menyiapkan makanan sangat terbatas.

    Sebuah tinjauan penyakit infeksi setelah bencana mencatat kejadian hepatitis A dan E setelah bencana yang merusak sistem air dan sanitasi. Setelah gempa Pakistan pada 2005, misalnya, lebih dari seribu kasus hepatitis A dan E dilaporkan pada populasi terdampak yang memiliki akses terbatas terhadap air aman.

    Namun, bencana tidak menciptakan tifoid, hepatitis, atau kolera dari ketiadaan. Patogennya harus memang ada atau masuk ke populasi. Kerusakan sanitasi kemudian membuat penularannya lebih mudah.

    Hal ini juga menjelaskan mengapa risiko penyakit setelah bencana berbeda antardaerah.

  4. 4. Kudis dan infeksi kulit

    Skenario: gempa, longsor, banjir, atau pengungsian berkepanjangan.

    Di tempat pengungsian, mandi dan mencuci pakaian mungkin tidak semudah biasanya. Kasur, selimut, dan ruang tidur juga dapat digunakan oleh banyak orang.

    Kondisi padat dan terbatasnya fasilitas kebersihan dapat mempermudah penyebaran skabies atau kudis, infeksi jamur, dan beberapa penyakit kulit menular lainnya.

    Penelitian mengenai dampak gempa besar Türkiye 2023 mencatat bahwa pada fase awal setelah bencana, penyakit kulit infeksius seperti skabies lebih menonjol, yang dikaitkan dengan keterbatasan kebersihan dan kondisi tempat tinggal yang padat.

    Banjir membawa risiko tambahan. Air banjir dapat mengandung kotoran manusia dan hewan serta berbagai mikroorganisme. Kontak dengannya dapat menyebabkan ruam dan infeksi pada luka.

    Menjaga kulit tetap bersih dan kering, membersihkan luka dengan air aman, serta tidak berbagi handuk, pakaian, atau perlengkapan pribadi dapat membantu mengurangi penularan.

  5. 5. Dengue dan penyakit yang ditularkan nyamuk

    Skenario: banjir, badai, atau wilayah dengan drainase rusak.

    Setelah banjir surut, air dapat tertinggal dalam ember, puing, wadah, ban bekas, atau saluran drainase yang rusak. Genangan ini dapat menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk.

    Tinjauan 2025 mengenai banjir di Asia Tenggara mencatat dengue dan malaria sebagai penyakit yang dapat meningkat setelah banjir dalam kondisi lingkungan yang mendukung. Risiko dipengaruhi oleh jenis nyamuk, penyakit yang sudah beredar di wilayah tersebut, cuaca, dan efektivitas pengendalian vektor.

    Menguras genangan, menutup wadah air, mengelola sampah, serta menggunakan perlindungan dari gigitan nyamuk tetap penting.

  6. 6. Infeksi saluran pernapasan di tempat pengungsian

    Kondisi pengungsi di Masjid Nurul Yaqin Kelurahan Terjun, Kecamatan Medan Marelan, Kota Medan, Sabtu (29/11/2025). (IDN Times/Prayugo Utomo)
    Kondisi pengungsi di Masjid Nurul Yaqin Kelurahan Terjun, Kecamatan Medan Marelan, Kota Medan, Sabtu (29/11/2025). (IDN Times/Prayugo Utomo)

    Skenario: gempa, longsor, banjir, kebakaran hutan, atau bencana lain yang memicu pengungsian.

    Risiko penularan infeksi pernapasan dapat meningkat ketika banyak orang tinggal berdekatan dalam ruang dengan ventilasi terbatas.

    Tinjauan sistematis terhadap penyakit setelah bencana menemukan peningkatan infeksi saluran pernapasan atas dan bawah setelah sejumlah gempa. Faktor yang berperan antara lain perpindahan penduduk, kepadatan tempat tinggal, kondisi kesehatan sebelumnya, dan terganggunya pelayanan kesehatan.

    Dalam kasus kebakaran hutan, asap dapat langsung mengiritasi dan memperburuk penyakit pernapasan, sementara pengungsian yang padat dapat mempermudah penularan infeksi pernapasan dari orang ke orang.

  7. Memutus jalur penularan penyakit

    Dalam kondisi darurat, prioritasnya adalah memutus jalur penularan penyakit sebanyak mungkin.

    Beberapa langkah yang paling penting antara lain:

    • Gunakan air kemasan, air yang direbus, atau air yang telah diolah jika keamanan sumber air diragukan.
    • Cuci tangan dengan sabun, terutama setelah dari toilet dan sebelum menyiapkan atau makan makanan.
    • Jangan mengonsumsi makanan yang terkena air banjir.
    • Hindari kontak dengan air banjir sebisa mungkin.
    • Tutup luka dengan baik dan jaga tetap bersih.
    • Jangan berbagi handuk atau pakaian jika ada penyakit kulit menular.
    • Hilangkan genangan air dan lindungi tubuh dari gigitan nyamuk.
    • Segera laporkan peningkatan kasus diare, demam, penyakit kulit, atau gangguan pernapasan di tempat pengungsian.

    Setelah bencana, air keran mungkin tidak aman digunakan bahkan untuk menggosok gigi, mencuci makanan, mencuci piring, atau membuat susu formula bayi. Jika kualitasnya belum dipastikan, gunakan air kemasan, air yang direbus, atau air yang telah diolah.

    Makanan yang terkena air banjir juga sebaiknya dibuang. Makanan dapat mengandung kuman berbahaya meskipun tampilan dan baunya masih normal.

    Jadi, setelah bencana, penyakit infeksi tidak pasti terjadi. Air bersih, sanitasi yang layak, makanan aman, kebersihan tangan, tempat pengungsian yang tidak terlalu padat, dan deteksi penyakit sejak dini dapat mencegah banyak kasus. Justru kondisi setelah bencana yang menentukan seberapa besar risiko penyakit menular berkembang.

    Referensi

    Eileen L. Yee et al., “Widespread Outbreak of Norovirus Gastroenteritis Among Evacuees of Hurricane Katrina Residing in a Large ‘Megashelter’ in Houston, Texas: Lessons Learned for Prevention,” Clinical Infectious Diseases 44, no. 8 (2007): 1032–1039, doi:10.1086/512195.

    Boonfei Tan, Patrick De Vera, Josephine Abrazaldo, and Charmaine Ng, “Flood-Associated Disease Outbreaks and Transmission in Southeast Asia,” Frontiers in Microbiology 16 (2025): 1694246, doi:10.3389/fmicb.2025.1694246.

    Şule Gençoğlu and Neslihan Cansel, “A Cross-Sectional Analysis of Psychological and Dermatologic Manifestations Post-February 6 Earthquakes in Dermatology Patients,” Annals of Dermatology 38, no. 2 (2026): 108–116, doi:10.5021/ad.25.072.

    John T. Watson, Michelle Gayer, and Maire A. Connolly, “Epidemics after Natural Disasters,” Emerging Infectious Diseases 13, no. 1 (2007): 1–5, doi:10.3201/eid1301.060779.

    Miran Walika, Maria Moitinho De Almeida, Rafael Castro Delgado, and Pedro Arcos González, “Outbreaks Following Natural Disasters: A Review of the Literature,” Disaster Medicine and Public Health Preparedness 17 (2023): e444, doi:10.1017/dmp.2023.96.

    Centers for Disease Control and Prevention, “Preventing Leptospirosis after Hurricanes or Flooding,” diakses Agustus 2026.

    Centers for Disease Control and Prevention, “How to Make Water Safe in an Emergency,” diakses Agustus 2026.

    Centers for Disease Control and Prevention, “Keep Food Safe After a Disaster or Emergency,” diakses Agustus 2026.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More