Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Dokter: Jangan Periksa Istri Sebelum Ada Hasil Analisis Sperma

Dokter: Jangan Periksa Istri Sebelum Ada Hasil Analisis Sperma
Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi Subspesialis Fertilitas Endokrinologi Reproduksi RS Pondok Indah IVF Centre, Prof. Dr. dr. Budi Wiweko, Sp. O.G, Subsp. F.E.R, MPH, FRANZCOG (Hons), FICRM (IDN Times/Misrohatun)
  • Prof. Budi Wiweko menyarankan analisis sperma suami dilakukan sebelum pemeriksaan kesuburan istri, karena faktor laki-laki berkontribusi sekitar 35 persen pada infertilitas.

  • Ejakulasi dan volume air mani normal tidak menjamin sperma sehat; jumlah sperma bisa sangat sedikit atau tidak ada, sehingga perlu pemeriksaan laboratorium.

  • Masalah sperma dapat ditangani dengan teknologi reproduksi berbantu, tetapi evaluasi kedua pasangan tetap diperlukan; keberhasilan bayi tabung dipengaruhi usia ibu, kualitas sperma, dan embrio.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Program hamil, yang diperiksa pertama kali seringnya pihak perempuan. Mulai dari hormon, sel telur hingga kondisi rahim. Namun, menurut dokter spesialis obstetri dan ginekologi subspesialis fertilitas endokrinologi reproduksi RS Pondok Indah IVF Centre, Prof. Dr. dr. Budi Wiweko, Sp. O.G, Subsp. F.E.R, MPH, FRANZCOG (Hons), FICRM, ada satu pemeriksaan yang seharusnya tidak dilewatkan bahkan sebelum perempuan menjalani rangkaian pemeriksaan tersebut, yaitu analisis sperma suami. 

Never touch the woman without sperm result,” ujarnya dalam acara diskusi RS Pondok Indah Group '5 Tahun RS Pondok Indah IVF Centre' di Jakarta pada Kamis (27/08/2026).

  1. Faktor dari laki-laki bukan hal sepele

    Kesulitan mendapatkan kehamilan bukan cuma persoalan pada tubuh perempuan. Gangguan sperma menjadi salah satu penyebab penting infertilitas dan berkontribusi sekitar 35 persen terhadap masalah kesuburan, ungkap Prof. Budi. Itulah kenapa kondisi suami seharusnya dievaluasi sejak awal, bukan baru diperiksa setelah rentetan pemeriksaan pada istri dilakukan.

    Menurutnya, pemeriksaan pada laki-laki bahkan dapat menjadi langkah awal yang lebih sederhana sebelum pasangan menjalani rangkaian pemeriksaan reproduksi yang lebih panjang. Hal ini penting karena jika ditemukan masalah pada sperma, dokter dapat menentukan penanganan yang sesuai, termasuk mempertimbangkan teknologi reproduksi berbantu jika diperlukan.

    Salah satu hal yang kerap disalahpahami adalah menganggap ejakulasi sebagai tanda kondisi sperma pasti normal. Padahal, laki-laki tetap bisa ejakulasi seperti biasa dengan volume cairan mani yang tampak normal, tetapi jumlah sperma di dalamnya bisa sangat sedikit atau bahkan tidak ada sama sekali (azoospermia). Karena itu, kondisi sperma tidak dapat dinilai hanya dari banyaknya cairan yang keluar saat ejakulasi dan perlu diperiksa melalui analisis sperma.

    “Masih mungkin mendapatkan sperma melalui tindakan khusus atau operasi. Sperma yang berhasil diperoleh kemudian dapat digunakan dalam teknologi reproduksi berbantu sesuai kondisi pasangan,” ungkap Prof. Budi.

    Jadi, pemeriksaan sperma tidak bisa dianggap sepele. Laki-laki bisa merasa tidak memiliki masalah karena masih mampu ejakulasi, sementara persoalan sebenarnya baru terlihat ketika cairan air mani diperiksa di laboratorium.

  2. Sperma bermasalah, lalu harus bagaimana?

    Ilustrasi sel sperma berwarna putih bergerak di antara latar biru, menggambarkan proses pembuahan.
    ilustrasi sperma (magnific.com/magnific)

    Ditemukannya masalah pada sperma tidak selalu berarti mustahil punya anak. Menurut Prof. Budi, teknologi reproduksi berbantu dapat menjadi salah satu pilihan, terutama ketika gangguan pada sperma cukup berat.

    Dalam program bayi tabung, sperma dan sel telur dipertemukan di luar tubuh. Sel telur terlebih dahulu dirangsang dan diambil dari ovarium, kemudian dilakukan proses pembuahan di laboratorium. Embrio yang terbentuk selanjutnya dikembangkan di dalam inkubator selama sekitar lima hari sebelum ditanamkan ke dalam rahim.

    Pada kondisi ketika jumlah sperma sangat sedikit atau bahkan tidak ditemukan dalam cairan ejakulasi, sperma juga dapat diperoleh melalui prosedur pengambilan khusus.

    Namun, Prof. Budi menekankan bahwa keberhasilan bayi tabung tidak hanya ditentukan oleh ada atau tidaknya sperma. Kualitas embrio menjadi salah satu faktor penting dan sangat dipengaruhi oleh usia ibu serta kualitas sperma.

    Ia menjelaskan, peluang keberhasilan bayi tabung pada perempuan berusia di bawah 35 tahun dapat mencapai sekitar 50–60 persen. Angka tersebut kemudian menurun menjadi sekitar 30–40 persen setelah usia 35 tahun. Sementara pada usia di atas 40 tahun, peluangnya makin turun, bahkan bisa berada di bawah 20 persen dan pada kondisi tertentu di bawah 10 persen.

  3. Kondisi kedua pasangan tetap perlu dievaluasi

    Meski pemeriksaan sperma perlu dilakukan sejak awal, tetapi bukan berarti masalah kesuburan sepenuhnya berasal dari laki-laki. Prof. Budi menegaskan bahwa kondisi kedua pasangan tetap perlu dievaluasi untuk mengetahui penyebab sulit hamil dan menentukan penanganan tepat.

    Pada perempuan, dokter akan melihat sejumlah faktor, mulai dari usia, jumlah atau cadangan sel telur, kondisi saluran telur, hingga proses ovulasi. Faktor usia menjadi perhatian khusus karena kualitas sel telur mengalami penurunan seiring bertambahnya usia. Dalam konteks bayi tabung, dia menyebut kualitas embrio sangat dipengaruhi oleh usia ibu dan kualitas sperma.

    Sementara itu, dari sisi suami, pemeriksaan sperma diperlukan untuk mengetahui apakah terdapat gangguan jumlah, kualitas atau kemampuan sperma. Jika ditemukan masalah, dokter dapat menentukan langkah berikutnya sesuai kondisi pasangan.

    Prof. Budi juga menjelaskan bahwa tidak semua pasangan yang mengalami gangguan kesuburan otomatis harus menjalani bayi tabung. Pada pasangan dengan kondisi tertentu, terdapat berbagai pilihan teknologi reproduksi berbantu. Bayi tabung menjadi salah satu pilihan, terutama ketika faktor penyebab infertilitas membutuhkan intervensi yang lebih kompleks.

    Karena itu, pendekatan terhadap infertilitas sebaiknya tidak dimulai dengan asumsi bahwa yang bermasalah pasti perempuan. Pemeriksaan harus dilakukan terhadap pasangan secara menyeluruh agar penyebabnya dapat diketahui dan terapi yang diberikan benar-benar sesuai dengan kondisi keduanya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More