Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Bayi Berkeringat saat Menyusu, Waspada Tanda Kelainan Jantung
ilustrasi ibu menyusui (magnific.com/freepik)
  • Kelainan jantung pada bayi tidak selalu langsung terlihat setelah lahir. Sebagian bayi baru menunjukkan gejala setelah beberapa hari atau minggu.

  • Tanda yang perlu dicermati meliputi kebiruan pada bibir atau lidah, napas cepat, sulit menyusu, banyak berkeringat, serta berat badan sulit naik.

  • Gejala tersebut juga dapat disebabkan oleh masalah paru-paru, infeksi, dan kondisi lain. Bayi tetap memerlukan pemeriksaan medis untuk memastikan penyebabnya.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bayi yang sedang menyusu biasanya sesekali berhenti untuk bernapas. Akan tetapi, ada perbedaan antara jeda singkat yang wajar dan bayi yang harus berulang kali melepaskan puting karena, berkeringat, kehabisan napas, atau terlihat terlalu lelah untuk meneruskan menyusu.

Kadang, perubahan seperti ini menjadi petunjuk awal adanya kelainan jantung. Masalah yang paling sering menjadi perhatian pada usia bayi adalah kelainan jantung bawaan, yaitu gangguan pada struktur atau fungsi jantung yang sudah ada sejak lahir. Gejalanya bergantung pada jenis serta tingkat keparahannya. Sebagian bayi tidak menunjukkan tanda apa pun, sedangkan bayi dengan kelainan kritis gejalanya dapat memburuk dalam waktu singkat.

1. Bibir atau lidah tampak biru keabu-abuan

Warna kebiruan atau abu-abu pada bibir, lidah, gusi, atau wajah disebut sianosis. Kondisi ini dapat terjadi ketika darah yang beredar tidak membawa cukup oksigen. Pada warna kulit yang lebih gelap, perubahan mungkin lebih mudah dilihat pada bibir, lidah, gusi, telapak tangan, telapak kaki, atau bagian dalam kelopak mata.

Tangan dan kaki bayi baru lahir kadang terlihat agak kebiruan ketika dingin. Namun, bibir atau lidah yang membiru, terutama disertai sesak atau bayi tampak lemas, harus dianggap serius. Pada beberapa kelainan seperti tetralogi Fallot, kebiruan dapat muncul mendadak ketika bayi menangis atau menyusu.

Segera bawa bayi ke IGD apabila bibir atau lidah berubah biru atau abu-abu, terlebih jika warna tersebut tidak segera membaik.

2. Bernapas cepat atau tampak bekerja keras untuk bernapas

Kelainan jantung dapat membuat darah menumpuk di paru-paru atau membuat tubuh menerima oksigen lebih sedikit. Akibatnya, bayi bernapas lebih cepat atau terlihat sulit bernapas. Dada dapat tampak tertarik ke dalam, cuping hidung kembang-kempis, atau bayi mengeluarkan suara seperti merintih saat bernapas.

Napas cepat tidak selalu berarti ada masalah jantung. Infeksi, gangguan paru-paru, demam, dan kelainan metabolik juga dapat menimbulkan gejala serupa. Namun, napas yang terus cepat saat bayi sedang tenang, terutama jika disertai sulit menyusu, kebiruan, atau berat badan sulit naik, perlu diperiksa oleh dokter anak.

Hitung napas ketika bayi sedang tenang atau tidur, bukan setelah menangis. Rekam video singkat jika pola napas yang mencurigakan muncul sesekali untuk nantinya diperlihatkan kepada dokter.

3. Cepat lelah atau sering berhenti saat menyusu

ilustrasi seorang ibu sedang menyusui bayinya (magnific.com/freepik)

Menyusu merupakan aktivitas fisik yang cukup berat bagi bayi dengan masalah jantung. Bayi mungkin mengisap beberapa kali, lalu berhenti lama untuk bernapas. Sesi menyusu menjadi sangat panjang, tetapi ASI yang diminum sedikit. Bayi juga bisa tertidur sebelum kenyang atau menolak melanjutkan minum.

Tinjauan terhadap penelitian pada bayi dan anak dengan kelainan jantung bawaan menunjukkan bahwa kesulitan makan dan menelan cukup sering ditemukan. Penyebabnya dapat melibatkan napas cepat, mudah lelah, koordinasi mengisap-menelan-bernapas yang terganggu, serta kebutuhan energi yang lebih tinggi.

Catat durasi menyusu, seberapa sering bayi berhenti, jumlah susu bila menggunakan botol, serta frekuensi popok basah. Informasi ini dapat membantu dokter menilai apakah bayi mendapatkan asupan ASI yang cukup.

4. Banyak berkeringat, terutama ketika menyusu

Bayi memang bisa berkeringat ketika udara panas atau pakaiannya terlalu tebal. Akan tetapi, keringat berlebihan saat menyusu, terutama pada kepala dan dahi, dapat menandakan jantung bekerja terlalu keras. Bayi mungkin terlihat basah, pucat, atau terasa dingin dan lembap meskipun ruangan tidak panas.

Keringat saja tidak cukup untuk menyimpulkan adanya kelainan jantung. Yang perlu lebih dikhawatirkan adalah kombinasi keringat dengan napas cepat, mudah lelah, sulit menyusu, atau berat badan yang tidak bertambah sesuai kurva pertumbuhan.

5. Berat badan sulit naik

Bayi dengan kelainan jantung dapat menghabiskan lebih banyak energi hanya untuk bernapas dan memompa darah. Pada saat yang sama, bayi mungkin tidak mampu minum cukup banyak karena cepat lelah. Kombinasi tersebut dapat membuat berat badan bertambah lebih lambat.

Satu kali hasil timbang berat badan yang rendah belum tentu berarti ada gangguan. Orang tua sebaiknya berkonsultasi apabila berat badan terus sulit naik, bayi kehilangan berat setelah sebelumnya bertambah, atau pertumbuhannya melintasi beberapa garis kurva pertumbuhan, terutama jika disertai masalah saat menyusu atau pernapasan.

Jangan menambahkan kalori, mengentalkan susu, atau mengganti formula secara mandiri. Bayi dengan kelainan jantung mungkin butuh strategi nutrisi khusus yang perlu disesuaikan oleh dokter dan ahli gizi.

6. Sangat mengantuk, pucat, lemas, atau kurang responsif

ilustrasi ibu menyusui (pexels.com/RDNE Stock project)

Sebagian kelainan jantung kritis baru menimbulkan masalah setelah bayi berusia beberapa hari. Bayi mungkin terlihat sehat ketika lahir, lalu menjadi sangat mengantuk, sulit dibangunkan untuk menyusu, tampak pucat atau kulit keabuan, napasnya cepat, memiliki denyut atau nadi yang lemah, dan tangan serta kaki terasa dingin.

Perburukan ini dapat terjadi ketika saluran pembuluh darah sementara yang penting selama masa janin mulai menutup setelah kelahiran. Pada kelainan tertentu, penutupan tersebut membuat aliran darah ke tubuh atau paru-paru menurun secara drastis.

Bayi yang lemas, sulit dibangunkan, menolak minum, napasnya berat, atau kulitnya berwarna kebiruan atau keabu-abuan harus cepat-cepat dibawa ke IGD.

Bagaimana jika dokter mendengar murmur jantung?

Murmur adalah suara tambahan yang terdengar melalui stetoskop. Banyak murmur pada bayi bersifat tidak berbahaya, tetapi sebagian dapat menjadi petunjuk adanya kelainan struktur jantung. Dokter akan menilai karakter suara tersebut bersama kondisi bayi, kadar oksigen, denyut nadi, pola pertumbuhan, dan gejala lain.

Sebaliknya, tidak terdengarnya murmur juga tidak menjamin jantung bayi pasti normal. American Academy of Pediatrics mencatat bahwa sebagian bayi dengan kelainan jantung kritis tidak menunjukkan murmur atau kebiruan yang jelas. Karena itu, pemeriksaan fisik perlu dikombinasikan dengan skrining lain.

Pemeriksaan apa yang mungkin dilakukan?

Skrining kadar oksigen menggunakan pulse oximeter dapat membantu menemukan sebagian kelainan jantung kritis sebelum bayi pulang dari fasilitas kesehatan.

Sebuah metaanalisis terhadap hampir 230 ribu bayi menunjukkan pemeriksaan ini sangat spesifik, tetapi sensitivitasnya sedang. Artinya, hasil normal tetap tidak dapat mendeteksi semua jenis kelainan jantung.

Apabila ada gejala atau hasil skrining mencurigakan, dokter dapat melakukan pemeriksaan fisik lebih lanjut, elektrokardiogram, rontgen dada, dan ekokardiografi untuk melihat struktur serta aliran darah di jantung.

Jadi, orang tua tidak perlu menunggu sampai bayi tampak sangat biru untuk mencurigai kelainan jantung. Cara bayi bernapas, menyusu, berkeringat, terjaga, dan berat badannya dapat memberikan petunjuk penting. Gejala-gejala tersebut memang tidak spesifik, tetapi pemeriksaan lebih awal jauh lebih aman daripada menunggu kondisi bayi memburuk.

Referensi

American Academy of Pediatrics. “Heart Murmurs in Children.” Diakses Juli 2026.

American Heart Association (AHA). “Feeding Tips for Your Baby with CHD.” Diakses Juli 2026.

AHA. “Heart Failure and Congenital Heart Disease.” Diakses Juli 2026.

Centers for Disease Control and Prevention (CDC). “About Congenital Heart Defects.” Diakses Juli 2026.

CDC. “Hypoplastic Left Heart Syndrome.” Diakses Juli 2026.

CDC. “Tetralogy of Fallot.” Diakses Juli 2026.

CDC. “Ventricular Septal Defect.” Diakses Juli 2026.

National Health Service. “Congenital Heart Disease.” Diakses Juli 2026.

Norman, Vivienne, et al. “Prevalence of Feeding and Swallowing Disorders in Congenital Heart Disease: A Scoping Review.” Frontiers in Pediatrics 10 (2022): 843023. https://doi.org/10.3389/fped.2022.843023.

Oster, Matthew E., et al. “Newborn Screening for Critical Congenital Heart Disease: A New Algorithm and Other Updated Recommendations.” Pediatrics 155, no. 1 (2025): e2024069667. https://doi.org/10.1542/peds.2024-069667.

Thangaratinam, Shakila, Kiritrea Brown, Javier Zamora, Khalid S. Khan, dan Andrew K. Ewer. “Pulse Oximetry Screening for Critical Congenital Heart Defects in Asymptomatic Newborn Babies: A Systematic Review and Meta-analysis.” The Lancet 379, no. 9835 (2012): 2459–64. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(12)60107-X.

Curated For You

Editorial Team

Related Article