Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Anak Dinyatakan Stunting, Orang Tua Harus Apa?

Anak Dinyatakan Stunting, Orang Tua Harus Apa?
ilustrasi balita makan (pexels.com/Vanessa Loring)
Intinya Sih
  • Stunting terjadi akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan, sehingga anak tumbuh lebih pendek dari standar usianya.

  • Orang tua perlu memastikan pengukuran ulang tinggi badan, mencatat riwayat makan dan kesehatan anak, serta berkonsultasi dengan tenaga medis untuk menentukan penyebab pasti stunting.

  • Penanganan stunting mencakup pemberian makanan padat gizi sesuai usia, penerapan responsive feeding tanpa paksaan, menjaga kebersihan, imunisasi lengkap, serta pemantauan pertumbuhan dan perkembangan secara rutin.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Saat mendengar anak dinyatakan stunting, biasanya orang tua akan panik atau merasa bersalah, lalu segera membeli susu atau vitamin yang menjanjikan pertambahan tinggi badan untuk anak. Padahal, yang seharusnya dilakukan adalah memahami apa yang sedang menghambat pertumbuhan anak.

Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada balita akibat kekurangan gizi kronis, sehingga anak terlalu pendek untuk usianya. Kekurangan gizi yang paling berisiko terjadi pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (dari masa kehamilan sampai anak berusia 2 tahun). Penyebabnya biasanya asupan gizi yang kurang dalam jangka panjang dan infeksi berulang. Secara teknis, seorang anak dikatakan stunting jika panjang/tinggi menurut umur lebih rendah dari standar yang berlaku

Stunting dapat berkaitan dengan asupan gizi yang tidak memadai, infeksi berulang, kondisi kesehatan tertentu, lingkungan yang tidak sehat, hingga kombinasi beberapa faktor.

1. Konfirmasi hasil pengukuran dan cari tahu penyebabnya

Mintalah tenaga kesehatan mengukur kembali panjang atau tinggi badan anak menggunakan alat dan teknik yang benar. Pasalnya, kesalahan posisi tubuh, pembacaan alat, atau perhitungan usia dapat memengaruhi hasil.

Data tersebut perlu diplot pada kurva pertumbuhan bersama berat badan, berat menurut panjang atau tinggi badan, serta lingkar kepala pada usia yang sesuai. Riwayat pertumbuhan dari waktu ke waktu biasanya memberi informasi lebih lengkap dibanding satu kali pengukuran.

Saat berkonsultasi, bawa buku kesehatan anak dan catatan pertumbuhan sebelumnya. Orang tua atau pengasuh juga dapat mencatat makanan dan minuman yang dikonsumsi selama dua atau tiga hari, termasuk porsi, frekuensi, camilan, susu, serta kesulitan ketika makan.

Dokter perlu menilai apakah anak hanya bertubuh pendek atau juga mengalami masalah lain, seperti berat badan kurang, wasting, anemia, gangguan perkembangan, atau kesulitan makan.

Riwayat kelahiran prematur atau berat lahir rendah, diare berulang, muntah, batuk lama, demam, masalah mengunyah dan menelan, serta penyakit jantung, paru-paru, ginjal, pencernaan, tiroid, atau infeksi kronis juga dapat menjadi petunjuk.

Pemeriksaan laboratorium tidak selalu diperlukan untuk semua anak. Tes sebaiknya dipilih berdasarkan gejala, tingkat keparahan, pemeriksaan fisik, dan respons terhadap perbaikan pola makan.

Jika kondisi anak cukup kompleks, penanganan mungkin melibatkan dokter anak, ahli gizi, konselor laktasi, terapis makan, atau dokter subspesialis.

2. Susun pola makan yang padat gizi, bukan cuma mengenyangkan

Bagi bayi berusia di bawah 6 bulan, tenaga kesehatan perlu mengevaluasi proses menyusu, perlekatan, frekuensi menyusu, produksi ASI, atau ketepatan pembuatan susu formula jika digunakan. Jangan mengubah konsentrasi susu formula sendiri karena takaran yang terlalu pekat maupun terlalu encer dapat membahayakan bayi.

Untuk anak usia 6–23 bulan, berikan makanan pendamping ASI (MPASI) yang aman, beragam, dan sesuai perkembangan, sambil meneruskan pemberian ASI hingga usia 2 tahun atau lebih. Anak usia 6–8 bulan umumnya butuh makanan dua hingga tiga kali sehari. Frekuensinya meningkat menjadi tiga hingga empat kali sehari pada usia 9–23 bulan, ditambah satu atau dua camilan bergizi sesuai kebutuhan.

Upayakan setiap makanan utama mengandung:

  • Sumber karbohidrat, seperti nasi, kentang, ubi, jagung, atau oatmeal.
  • Protein hewani, seperti telur, ikan, ayam, daging, atau produk susu sesuai usia.
  • Protein nabati, misalnya tempe, tahu, kacang-kacangan, atau biji-bijian yang diolah dengan aman.
  • Sayur atau buah.
  • Lemak tambahan secukupnya agar makanan lebih padat energi.

Tekstur perlu disesuaikan dengan usia dan kemampuan makan. Hindari terlalu sering memberikan makanan yang sangat encer karena volumenya besar, tetapi kandungan energi dan gizinya relatif rendah.

Minuman manis, jus, teh, biskuit, serta camilan rendah gizi juga dapat membuat anak kenyang sebelum makan besar.

Sebuah tinjauan sistematis dan metaanalisis menunjukkan bahwa intervensi berbasis makanan dapat membantu memperbaiki pertumbuhan linear anak, tetapi besarnya manfaat berbeda-beda menurut jenis makanan, durasi intervensi, usia, serta kondisi awal anak.

Obat penambah nafsu makan, vitamin dosis tinggi, zat besi, zink, susu tinggi kalori, atau suplemen khusus sebaiknya tidak diberikan tanpa penilaian tenaga kesehatan. Produk tersebut mungkin dibutuhkan pada kondisi tertentu, tetapi tidak menggantikan pemeriksaan penyebab dan pola makan yang sesuai.

3. Hindari memaksa anak makan dan perhatikan perkembangannya

Balita dengan rambut dikuncir dua sedang minum dari cangkir putih menggunakan sedotan di meja dengan kue berwarna-warni.
ilustrasi balita sedang makan dan minum (magnific.com/freepik)

Saat anak sulit makan, orang tua bisa tergoda mengejar sambil menyuapi, memaksa membuka mulut, atau menjadikan layar sebagai pengalih perhatian. Cara tersebut mungkin membuat makanan masuk sesaat, tetapi dapat memperburuk hubungan anak dengan makanan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menganjurkan responsive feeding, yang berarti orang tua menyediakan makanan, menentukan waktu dan tempat makan, lalu membantu anak makan dengan sabar tanpa memaksa. Perhatikan tanda lapar dan kenyang, ajak anak berinteraksi, kurangi distraksi, serta berikan kesempatan mencoba makanan berulang kali.

Tak berhenti di piring makan, penanganan stunting juga bisa melibatkan pengobatan infeksi dan masalah kesehatan anak, melengkapi imunisasi, menjaga kebersihan tangan dan makanan, serta memastikan air minum dan sanitasi aman.

Obat cacing diberikan sesuai rekomendasi program kesehatan atau dokter, tidak boleh sembarangan.

Selain memantau tinggi dan berat badan, perhatikan juga perkembangan anak. Ajak anak berbicara, bermain, membaca buku, bergerak, serta berinteraksi dengan orang di sekitarnya. Stimulasi tidak secara langsung menambah tinggi badan, tetapi penting untuk mendukung kemampuan bahasa, motorik, kognitif, dan sosial anak. Strategi gizi yang efektif memang perlu berjalan bersama layanan kesehatan, pengasuhan, dan perbaikan lingkungan.

Lakukan pemantauan secara berkala

Jadwal kontrol ditentukan berdasarkan usia dan tingkat keparahan kondisi anak. Pada awal penanganan, berat badan biasanya dievaluasi lebih sering, sedangkan perubahan tinggi badan butuh waktu yang lebih panjang untuk terlihat.

Targetnya adalah perbaikan kecepatan pertumbuhan, pola makan, kesehatan, dan perkembangan secara bertahap.

Segera bawa anak ke fasilitas kesehatan apabila anak:

  • Sangat lemas, mengantuk, atau susah dibangunkan.
  • Tidak mau menyusu, makan, atau minum.
  • Muntah terus-menerus atau mengalami diare berat.
  • Menunjukkan tanda dehidrasi atau kesulitan bernapas.
  • Berat badannya turun cepat.
  • Mengalami pembengkakan pada kedua kaki.
  • Kehilangan kemampuan perkembangan yang sebelumnya sudah dikuasai.

Stunting dapat terjadi bersamaan dengan malnutrisi akut atau penyakit serius yang butuh penanganan lebih cepat.

Diagnosis stunting bukan vonis masa depan anak. Namun, kondisi ini memang harus segera ditindaklanjuti. Sebelum pulang dari konsultasi, pastikan orang tua memahami dugaan penyebabnya, target pola makan, pengobatan yang diberikan, jadwal kontrol, serta tanda bahaya yang harus diperhatikan. Fokusnya adalah membantu anak kembali tumbuh, berkembang, dan menjalani hari-harinya dalam kondisi yang lebih sehat.

Referensi

World Health Organization (WHO). "Childhood Stunting: Context, Causes and Consequences—Conceptual Framework." Diakses Juli 2026.

Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan - Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. "Mengenal Stunting." Diakses Juli 2026.

WHO. “Child Growth Standards.” Diakses Juli 2026.

Emily T. Goodwin, Katie L. Buel, and Laurel D. Cantrell, “Growth Faltering and Failure to Thrive in Children,” American Family Physician 107, no. 6 (2023): 597–603, American Family Physician.

WHO. "WHO Guideline for Complementary Feeding of Infants and Young Children 6–23 Months of Age." Diakses Juli 2026.

Abdullah Al Mamun et al., “Effectiveness of Food-Based Intervention to Improve the Linear Growth of Children under Five: A Systematic Review and Meta-Analysis,” Nutrients 15, no. 11 (2023): 2430, https://doi.org/10.3390/nu15112430.

Emily C. Keats et al., “Effective Interventions to Address Maternal and Child Malnutrition: An Update of the Evidence,” The Lancet Child & Adolescent Health 5, no. 5 (2021): 367–384, https://doi.org/10.1016/S2352-4642(20)30274-1.

WHO. "WHO Guideline on the Prevention and Management of Wasting and Nutritional Oedema (Acute Malnutrition) in Infants and Children under 5 Years." Diakses Juli 2026.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More