"Penting bagi orang tua yang merencanakan kehamilan untuk berkonsultasi kepada dokter mengenai riwayat pengobatan sebelum hamil dan menjaga kesehatan," tulis dr. Aditya melalui keterangan tertulis (9/2/2026).
Tak Hanya Orang Dewasa, Bayi Juga Bisa Mengalami Penyakit Jantung

- Penyakit jantung bawaan (PJB) adalah kelainan struktur jantung yang sudah ada sejak lahir, memengaruhi aliran darah dan bisa berujung pada kematian.
- Anak dengan PJB bisa mengalami gejala seperti kelelahan, gagal tumbuh kembang, infeksi paru berulang, dan kebiruan pada bibir, lidah, dan ujung kuku.
- Penanganan PJB meliputi kunjungan rutin ke dokter untuk pemantauan kondisi, terapi obat atau intervensi nonbedah, serta dukungan gaya hidup sehat dari orang tua dan lingkungan sekitar.
Dalam rangka memperingati Pekan Kesadaran Penyakit Jantung Bawaan yang diperingati setiap 7–14 Februari, perhatian terhadap kesehatan jantung anak kembali menjadi sorotan. Penyakit jantung bawaan (PJB) merupakan kelainan struktur jantung yang sudah ada sejak lahir dan menjadi salah satu masalah kesehatan serius pada anak.
Dokter Aditya Agita Sembiring, Sp.JP, Subsp.K.Ped.P.J.B. (K), dokter spesialis jantung dan pembuluh darah subspesialis kardiologi pediatrik dan penyakit jantung bawaan RS Pondok Indah – Puri Indah, memaparkan edukasi mengenai penyakit jantung bawaan. Yuk, pahami faktor penyebab, gejala yang perlu diwaspadai orang tua, hingga gold standard pemeriksaan dan penanganan yang tepat.
1. Mengenal kelainan struktur jantung yang terjadi sejak lahir
Selama ini banyak orang mengira penyakit jantung hanya dialami orang dewasa atau lansia. Padahal, ada kondisi yang disebut penyakit jantung bawaan (PJB), yaitu kelainan struktur jantung yang sudah ada sejak bayi lahir. Kelainan ini bisa mengganggu aliran darah di dalam jantung maupun ke seluruh tubuh.
Meski data di Indonesia masih terbatas, tetapi secara global diperkirakan sekitar 8 dari 1.000 bayi lahir dengan PJB, dan sekitar 1 dari 4 bayi di antaranya membutuhkan intervensi bedah atau nonbedah secara darurat.
Penyebab PJB sendiri belum diketahui secara pasti, tetapi diduga berkaitan dengan faktor genetik, serta faktor eksternal seperti infeksi rubela dan sifilis. Paparan obat tertentu pada masa awal kehamilan juga bisa berdampak pada risiko PJB. Karena itu, dokter sangat menyarankan untuk perencanaan kehamilan.
2. Tanda-tanda anak memiliki penyakit jantung bawaan

Tidak semua kasus PJB langsung menimbulkan gejala pada awal kehidupan. Namun, pada sebagian kasus, kondisi ini bisa menyebabkan gangguan serius seperti gagal tumbuh kembang, infeksi paru berulang, gagal jantung, hingga kebiruan pada bibir, lidah, dan ujung kuku akibat kekurangan oksigen. Bahkan, pada kondisi berat, PJB bisa berujung pada kematian.
Karena itu, orang tua sebagai pihak yang paling dekat dengan anak perlu waspada terhadap tanda-tanda awal. Anak dengan PJB biasanya mudah lelah, misalnya bayi yang menyusu terputus-putus atau anak yang lebih besar sering jongkok karena kelelahan.
Tanda lain yang patut diwaspadai adalah demam disertai sesak berulang, berat dan tinggi badan yang tidak bertambah sesuai usia meski asupan makan cukup, serta pembengkakan pada perut atau kedua tungkai bawah.
Jika mengalami beberapa gejala yang disebutkan di atas, jangan menunda-nunda untuk membawa anak ke dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut.
"Pemeriksaan oleh dokter pada umumnya dilakukan melalui wawancara (anamnesis) dan pemeriksaan fisik. Selain itu pemeriksaan penunjang seperti sinar-X (rontgen) dada dan pemeriksaan aktivitas listrik jantung (elektrokardiografi), juga dilakukan untuk melihat gambaran umum jantung," ungkap dr. Aditya.
3. Penanganan penyakit jantung bawaan
Jika anak didiagnosis PJB, kunjungan rutin ke dokter sangat dianjurkan untuk memantau perkembangan kondisi dan menentukan waktu intervensi yang tepat. Pada beberapa jenis PJB, tindakan tidak selalu dilakukan segera, melainkan menunggu anak mencapai target ideal tertentu seperti usia, berat badan, atau parameter klinis lainnya.
Berdasarkan pertimbangan medis, pasien bisa diberikan terapi obat atau menjalani intervensi nonbedah menggunakan alat khusus, seperti pemasangan balon atau stent pada jantung maupun pembuluh darah. Jika kondisi tidak memungkinkan ditangani secara nonbedah, maka prosedur pembedahan dapat dilakukan untuk memperbaiki kelainan struktural jantung.
Di sisi lain, peran orang tua juga sangat penting dalam mendukung keberhasilan penanganan. Penerapan gaya hidup sehat, seperti pola makan seimbang, olahraga ringan yang teratur sesuai anjuran dokter, serta menghindari paparan asap rokok, bisa membantu mengendalikan gejala dan meningkatkan kualitas hidup anak.
Satu hal lagi yang tak kalah penting adalah dukungan dari orang-orang di sekitar anak.
"Dukungan dari keluarga dan teman-teman dalam membentuk lingkungan yang penuh pengertian juga merupakan kunci penting dalam membantu pasien PJB mengatasi rintangan mereka," jelas dr. Aditya.
Meskipun PJB membawa tantangan bagi orang tua maupun anak, tetapi dengan pemahaman dan dukungan penuh, banyak anak dapat hidup dengan kondisi ini dan tumbuh menjadi dewasa yang produktif. Masyarakat perlu memahami, merawat, dan memberikan dukungan yang menjadi kunci untuk menangani PJB.


















