National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases. “Bitter Melon.” LiverTox: Clinical and Research Information on Drug-Induced Liver Injury, diperbarui 20 Maret 2023, https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK590483/.
Eszter Laczkó-Zöld et al. “The Metabolic Effect of Momordica charantia Cannot Be Determined Based on the Available Clinical Evidence: A Systematic Review and Meta-Analysis of Randomized Clinical Trials.” Frontiers in Nutrition 10 (2024): 1200801, https://doi.org/10.3389/fnut.2023.1200801.
Soo Kyoung Kim et al., “Hypoglycemic Efficacy and Safety of Momordica charantia (Bitter Melon) in Patients with Type 2 Diabetes Mellitus.” Complementary Therapies in Medicine 52 (2020): 102524, https://doi.org/10.1016/j.ctim.2020.102524.
National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases, “Low Blood Glucose (Hypoglycemia).” Diakses Juli 2026.
E. O. Uche-Nwachi dan C. McEwen. “Teratogenic Effect of the Water Extract of Bitter Gourd (Momordica charantia) on the Sprague Dawley Rats.” African Journal of Traditional, Complementary and Alternative Medicines 7, no. 1 (2009): 24–33, https://journals.athmsi.org/index.php/ajtcam/article/view/990.
Cheow Peng Ooi, Zaitun Yassin, dan Tengku Ain Fadilah Tengku Hamid. “Momordica charantia for Type 2 Diabetes Mellitus,” Cochrane Database of Systematic Reviews, no. 8 (2012): CD007845, https://doi.org/10.1002/14651858.CD007845.pub3.
Ismail Erden et al. “A Case of Atrial Fibrillation Due to Momordica charantia (Bitter Melon).” Annals of Saudi Medicine 30, no. 1 (2010): 86–87, https://doi.org/10.4103/0256-4947.59372.
4 Risiko Kesehatan Makan Pare Berlebihan, Batasi ya!

Konsumsi pare berlebihan bisa memicu gangguan pencernaan seperti sakit perut, mual, dan diare, terutama jika dikonsumsi dalam bentuk pekat atau tubuh belum terbiasa.
Pare dapat menurunkan gula darah secara berlebihan bila dikonsumsi bersama obat diabetes, sehingga perlu pemantauan kadar gula dan konsultasi dengan dokter sebelum menambah asupan pare.
Ibu hamil dan anak-anak disarankan menghindari jus atau ekstrak pare pekat karena risiko efek samping serius seperti gangguan janin, hipoglikemia berat, hingga gangguan irama jantung.
Urusan pare, biasanya respons orang antara benci atau suka; dihindari sama sekali atau dikonsumsi berkali-kali. Kalau kamu, termasuk yang benci atau yang suka?
Pare memang bergizi. Selain diolah jadi masakan, pare juga dapat ditemukan dalam bentuk bubuk, ekstrak buah dan biji, atau kapsul dosis tertentu. Walaupun menyehatkan, tetapi makanan alami tetap saja dapat menimbulkan efek samping jika dikonsumsi dalam jumlah besar atau dalam bentuk yang sangat terkonsentrasi.
Khususnya buat kamu yang doyan pare, yuk ketahui apa saja risiko kesehatan makan pare berlebihan lewat ulasan di bawah ini!
Table of Content
1. Menimbulkan sakit perut dan diare
Keluhan pencernaan merupakan efek samping pare yang paling sering dilaporkan. Gejalanya bisa berupa sakit atau rasa tidak nyaman di perut, nyeri ulu hati, mual, muntah, perut kembung, diare, maupun konstipasi.
Sebuah metaanalisis terhadap sembilan uji klinis dengan total 414 peserta menemukan bahwa sakit kepala dan gangguan pencernaan merupakan efek samping yang paling banyak dilaporkan. Dalam salah satu penelitian, konsumsi bubuk daging buah pare berkaitan dengan frekuensi diare dan perut bergas yang lebih tinggi dibandingkan plasebo.
Keluhan lebih mungkin muncul ketika jumlah yang dikonsumsi meningkat, tubuh tidak terbiasa, atau pare digunakan dalam bentuk pekat. Hentikan konsumsi untuk sementara jika setelah makan pare kamu mengalami diare, mual, atau sakit perut. Periksakan diri apabila muntah atau diare berlangsung terus, tubuh sangat lemas, atau muncul tanda dehidrasi.
2. Berpotensi membuat gula darah terlalu rendah
![ilustrasi pare yang sedang dicuci (flickr.com/[cipher])](https://image.idntimes.com/post/20210804/1024px-bitter-melon-in-a-colander-f425a4b5239dd5495f72af64dca030b2.jpg)
Pare mengandung sejumlah senyawa yang dapat memengaruhi metabolisme glukosa. Beberapa penelitian menemukan sedikit penurunan gula darah pada orang dengan diabetes tipe 2, tetapi hasilnya belum konsisten dan efeknya lebih lemah dibanding obat diabetes standar.
Walaupun manfaatnya belum pasti, tetapi hipoglikemia atau gula darah terlalu rendah tetap tercatat sebagai salah satu risiko penggunaan ekstrak pare. Risiko dapat bertambah apabila pare dikonsumsi dalam jumlah besar bersama insulin atau obat penurun gula darah lainnya, terlebih jika orang tersebut melewatkan makan atau sedang berpuasa.
Tanda gula darah rendah dapat berupa gemetar, keringat dingin, rasa lapar mendadak, pusing, jantung berdebar, lemas, sulit berkonsentrasi, atau kebingungan. Hipoglikemia berat dapat menyebabkan kejang dan kehilangan kesadaran.
Orang dengan diabetes tidak perlu sepenuhnya menghindari pare. Namun, jangan menjadikannya pengganti obat dan jangan menambahkan jus atau suplemen pare tanpa membicarakannya dengan dokter. Pantau gula darah lebih sering apabila pola konsumsi pare berubah secara signifikan.
3. Berisiko bagi kehamilan dalam bentuk dosis tinggi
Data mengenai keamanan pare selama kehamilan masih sangat terbatas. Kekhawatiran terutama berasal dari penggunaan tradisional pare sebagai pemicu menstruasi serta penelitian pada hewan yang menemukan gangguan perkembangan janin setelah pemberian ekstrak air pare.
Temuan pada hewan tidak membuktikan bahwa satu porsi pare matang akan menyebabkan keguguran pada manusia. Namun, karena dosis aman belum ditetapkan, disarankan agar pare tidak dikonsumsi dalam bentuk obat atau suplemen selama kehamilan.
Ibu hamil sebaiknya menghindari jus pekat, teh daun pare, ekstrak, dan kapsul pare, terutama jika dikonsumsi dengan tujuan pengobatan. Konsultasikan dengan dokter kandungan apabila pare rutin dikonsumsi dalam jumlah besar atau terdapat kandungan pare dalam jamu dan suplemen.
4. Produk pare pekat dapat memicu reaksi berat yang langka

Kasus hipoglikemia berat, kejang, dan koma pernah dilaporkan pada anak-anak setelah meminum teh yang dibuat dari daun dan batang pare. Laporan tersebut bersifat langka dan tidak berasal dari konsumsi pare matang sebagai lauk. Namun, ini tetap menunjukkan produk herbal rumahan tidak selalu aman hanya karena bahannya alami.
Sebuah laporan kasus juga mengaitkan konsumsi pare dengan gangguan irama jantung berupa fibrilasi atrium. Karena hanya melibatkan satu orang, laporan tersebut belum dapat membuktikan bahwa pare merupakan penyebab langsung. Namun, konsumsi sebaiknya dihentikan apabila setelah minum jus atau ekstrak pare muncul jantung berdebar tidak teratur, nyeri dada, sesak, atau hampir pingsan.
Anak-anak sebaiknya tidak diberi ekstrak, teh daun, atau jus pare pekat untuk mengobati penyakit tanpa arahan tenaga kesehatan. Produk herbal dapat memiliki dosis yang tidak konsisten dan mungkin mengandung bagian tanaman yang berbeda dari buah yang biasa dimakan.
Berapa banyak pare yang disebut berlebihan?
Saat ini belum ada batas porsi resmi yang menetapkan jumlah maksimal pare segar per hari. Penelitian menggunakan bentuk dan dosis yang beragam, sedangkan sebagian besar penelitian hanya berlangsung selama 4–16 minggu. Karena itu, keamanan konsumsi dosis tinggi dalam jangka panjang belum dapat dipastikan.
Cara paling aman adalah memperlakukan pare sebagai sayuran, bukan sebagai obat. Konsumsilah dalam porsi lauk yang wajar dan tetap variasikan sayuran yang dimakan. Tidak perlu minum jus pare pekat setiap hari atau menggabungkan pare segar, teh, dan suplemen sekaligus.
Segera hentikan produk pare dan cari pertolongan medis jika muncul pingsan, kejang, kebingungan berat, jantung berdebar tidak teratur, atau tanda hipoglikemia yang tidak membaik. Untuk keluhan ringan seperti mual atau diare, kurangi porsinya dan hindari sementara produk pare yang terkonsentrasi.
Jadi, pare tidak otomatis berbahaya. Risiko lebih perlu diperhatikan ketika pare dikonsumsi berlebihan, dijadikan jus atau ekstrak pekat, atau digunakan layaknya obat, terutama oleh orang yang minum obat diabetes, sedang hamil, atau masih anak-anak.
Referensi



![[QUIZ] Cek Seberapa Besar Risiko Infeksi Menular Seksual Kamu di Sini](https://image.idntimes.com/post/20260715/upload_1f4fad55d736c0857d28717d4f5ad568_9f044a0b-3a74-43ca-bf9f-4bb408840b9c.png)

![[QUIZ] Dari Sinyal Tubuh, Kamu Lebih Butuh Plank, Sit Up, atau Push Up?](https://image.idntimes.com/post/20250305/pexels-maksgelatin-4348653-a8bdf633103f42baecf1db7a242f31a0.jpg)


![[QUIZ] Tebak Risiko Penyakit dari Kebiasaan Kamu Minum Kopi](https://image.idntimes.com/post/20260326/16576_5a2f7a67-3d4e-4672-9881-c5c068073f61.jpg)

![[QUIZ] Apakah Kamu Punya Kecenderungan Sosiopat? Coba Cek Lewat Kuis Ini](https://image.idntimes.com/post/20251210/upload_b88a7679909294c6775cb37581d91e9a_88c96729-91b8-4ca9-a6de-866450381d3a.jpg)


![[QUIZ] Dari Warna Outfit Favoritmu, Kami Ungkap Cara Kamu Menghadapi Stres](https://image.idntimes.com/post/20250507/1000344956-3159a2704e4b6062c72c7e3be406df32-fff34f8ff180b130eb70c4bcc95165ea.jpg)

![[QUIZ] Dari Playlist Lari Kamu, Kami Tebak Tipe Kepribadian Kamu](https://image.idntimes.com/post/20251227/pexels-olly-3764533_8ca73bd2-0b14-4462-81cf-35efcfbbbd23.jpg)




![[QUIZ] Apakah Easy Run Kamu Benar-Benar Easy?](https://image.idntimes.com/post/20260714/upload_fb55bb03ef8e096afd1d12b06f081ef9_8b5cfdf7-0ac7-4ed9-a9bc-2057765b9daa.png)

