ilustrasi pasangan (pexels.com/RDNE Stock project)
Tim peneliti juga menelaah apa yang terjadi ketika seseorang akhirnya memasuki hubungan romantis pertamanya. Hasilnya cukup konsisten dan memberi secercah harapan. Begitu hubungan pertama dimulai, kesejahteraan psikologis meningkat di berbagai aspek.
Para partisipan melaporkan kepuasan hidup yang lebih tinggi dan perasaan kesepian yang berkurang, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Hubungan romantis tampak berperan sebagai penyangga emosional, memberi rasa keterhubungan yang selama ini kosong. Namun, efek serupa tidak ditemukan secara signifikan pada gejala depresi, yang cenderung lebih kompleks dan dipengaruhi oleh banyak faktor.
Secara keseluruhan, studi ini menyimpulkan bahwa melajang dalam waktu lama pada masa dewasa awal berkaitan dengan risiko moderat terhadap kesejahteraan mental. Perbedaan antara mereka yang lajang dan yang akhirnya berpasangan memang kecil saat remaja, tetapi gapnya melebar seiring waktu. Memasuki akhir usia 20-an, masuk ke hubungan romantis pertama justru bisa terasa makin sulit, terutama karena kesejahteraan mental yang menurun juga meningkatkan kemungkinan seseorang tetap lajang lebih lama.
Penelitian ini tidak menegaskan bahwa semua orang harus berpasangan demi bahagia. Namun, koneksi emosional berperan penting dalam kesehatan mental, dan menjadi lajang terlalu lama bukan tanpa konsekuensi psikologis, terutama ketika rasa sepi mulai menetap dan tidak lagi terasa sebagai pilihan yang sepenuhnya disadari.
Referensi
"Staying Single for Longer Affects Young People’s Well-Being." Universität Zürich. Diakses Januari 2026.
Michael D. Krämer et al., “Life Satisfaction, Loneliness, and Depressivity in Consistently Single Young Adults in Germany and the United Kingdom.,” Journal of Personality and Social Psychology, January 12, 2026, https://doi.org/10.1037/pspp0000595.