Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Olahraga Bantu Redakan Depresi, Efeknya Setara Terapi

Latihan beban dengan kettlebell.
ilustrasi latihan beban (pexels.com/Geancarlo Peruzzolo)
Intinya sih...
  • Aktivitas fisik terbukti dapat mengurangi gejala depresi setara terapi psikologis.
  • Olahraga ringan hingga sedang justru memberi manfaat lebih konsisten.
  • Efek jangka panjang masih perlu diteliti lebih lanjut.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Depresi masih menjadi salah satu penyebab utama penurunan kualitas hidup dan disabilitas di seluruh dunia. Lebih dari 280 juta orang hidup dengan kondisi ini, sering kali dalam diam, sambil mencoba bertahan dari hari ke hari. Di tengah keterbatasan akses terapi dan stigma yang masih melekat, para peneliti terus mencari pendekatan yang lebih mudah dijangkau dan berkelanjutan.

Salah satu opsi yang terus menarik perhatian adalah aktivitas fisik. Murah, relatif mudah dilakukan, dan punya manfaat luas bagi kesehatan, olahraga mulai dipandang bukan sekadar pelengkap, tetapi bagian penting dari perawatan kesehatan mental.

Harapan ini diperkuat oleh pembaruan tinjauan sistematis dari Cochrane, salah satu lembaga paling berpengaruh dalam penelitian kesehatan berbasis bukti. Temuannya menunjukkan bahwa bergerak aktif bisa memberi dampak nyata bagi orang dengan depresi.

Apa kata riset tentang olahraga dan depresi?

Tinjauan ini dilakukan oleh peneliti dari University of Lancashire dan menganalisis 73 uji klinis terkontrol secara acak, melibatkan hampir 5.000 orang dewasa dengan depresi. Dalam berbagai studi tersebut, olahraga dibandingkan dengan tanpa pengobatan, terapi psikologis, hingga obat antidepresan.

Hasilnya cukup konsisten. Dibandingkan dengan tidak menjalani perawatan apa pun, olahraga memberikan perbaikan gejala depresi pada tingkat sedang. Ketika dibandingkan langsung dengan terapi psikologis, efeknya terlihat setara, berdasarkan bukti dengan tingkat kepastian sedang.

Sementara itu, perbandingan dengan obat antidepresan juga menunjukkan manfaat yang sebanding, meski bukti pendukungnya masih terbatas dan dinilai kurang pasti.

Efek samping pun relatif jarang. Peserta yang berolahraga kadang mengalami cedera otot atau sendi, sementara mereka yang mengonsumsi obat antidepresan melaporkan efek samping khas seperti kelelahan atau gangguan pencernaan.

“Temuan kami menunjukkan bahwa olahraga merupakan pilihan yang aman dan mudah diakses untuk membantu mengelola gejala depresi,” ujar Profesor Andrew Clegg, penulis utama tinjauan ini. Namun, ia juga menekankan bahwa pendekatan ini tidak cocok untuk semua orang.

Jenis, intensitas, dan batasan bukti

Ilustrasi laki-laki dengan depresi.
ilustrasi depresi (IDN Times/Aditya Pratama)

Menariknya, olahraga dengan intensitas ringan hingga sedang justru dikaitkan dengan manfaat yang lebih konsisten dibandingkan latihan berat. Perbaikan gejala depresi paling sering terlihat pada mereka yang menyelesaikan sekitar 13 hingga 36 sesi olahraga.

Tidak ada satu jenis olahraga yang secara mutlak paling unggul. Namun, program yang mengombinasikan beberapa bentuk aktivitas—termasuk latihan kekuatan—tampak lebih efektif dibandingkan dengan aerobik saja. Beberapa bentuk aktivitas seperti yoga, qigong, dan peregangan belum banyak dikaji dalam tinjauan ini, sehingga masih menjadi ruang penelitian selanjutnya.

Meski jumlah studi bertambah signifikan dibandingkan tinjauan sebelumnya, tetapi para peneliti mengakui bahwa kualitas bukti masih perlu diperkuat. Banyak penelitian melibatkan jumlah peserta yang kecil dan minim tindak lanjut jangka panjang, sehingga belum bisa memastikan apakah manfaat olahraga dapat bertahan lama.

“Olahraga memang membantu sebagian orang dengan depresi,” kata Profesor Clegg. “Namun, untuk mengetahui jenis apa yang paling efektif, untuk siapa, dan seberapa lama manfaatnya bertahan, kita masih membutuhkan studi yang lebih besar dan berkualitas tinggi.”

Pada akhirnya, temuan ini mengingatkan bahwa langkah kecil—seperti bergerak lebih aktif—bisa memberi dampak besar. Bukan sebagai pengganti mutlak terapi atau obat, tetapi sebagai pilihan nyata yang dapat berjalan berdampingan, sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan masing-masing individu.

Referensi

Mateusz K. Mateuszczyk et al., “Erythroderma, Alopecia, Anhidrosis, and Vitiligo as Complications of a Red Ink Tattoo—A Case Report,” Clinics and Practice 15, no. 12 (November 28, 2025): 224, https://doi.org/10.3390/clinpract15120224.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F
Follow Us

Latest in Health

See More

5 Gerakan Pilates yang Membantu Memperkuat Dasar Panggul

14 Jan 2026, 12:04 WIBHealth