Penelitian sebelumnya menemukan bahwa prevalensi demensia pada masyarakat Tsimané hanya sekitar 1 persen. Kasus yang ditemukan juga sering disertai gangguan kemampuan visual-spasial, gejala mirip parkinsonisme, dan pengapuran pembuluh darah di otak.
Studi lain menunjukkan bahwa volume otak orang Tsimané menyusut lebih lambat seiring bertambahnya usia dibandingkan beberapa populasi di AS dan Eropa. Temuan ini sejalan dengan gaya hidup mereka yang aktif secara fisik dan memiliki risiko penyakit kardiovaskular yang relatif rendah.
Namun, belum diketahui faktor mana yang paling berperan, apakah aktivitas fisik, pola makan, genetik, kesehatan pembuluh darah, paparan infeksi, atau kombinasi dari semuanya. Selain itu, hubungan antara aktivitas fisik dan risiko demensia tidak selalu mudah ditafsirkan, karena penurunan fungsi kognitif dapat membuat seseorang menjadi kurang aktif.
Secara keseluruhan, studi ini menunjukkan bahwa angka demensia perlu dilihat bersama faktor sosial, akses layanan kesehatan, pola kematian, dan metode diagnosis. Penelitian lanjutan diharapkan dapat menjelaskan peran berbagai faktor tersebut sekaligus memperluas pemahaman tentang demensia pada beragam populasi di dunia.
Referensi
Margaret Gatz et al., “Incidence of Dementia and Mild Cognitive Impairment in Two Indigenous Bolivian Cohorts,” Alzheimer’s & Dementia 22, no. 9 (2026): e71750, https://doi.org/10.1002/alz.71750.
Margaret Gatz et al., “Prevalence of Dementia and Mild Cognitive Impairment in Indigenous Bolivian Forager-Horticulturalists,” Alzheimer’s & Dementia 19, no. 1 (2023): 44–55, https://doi.org/10.1002/alz.12626.
Andrei Irimia et al., “The Indigenous South American Tsimane Exhibit Relatively Modest Decrease in Brain Volume With Age Despite High Systemic Inflammation,” The Journals of Gerontology: Series A 76, no. 12 (2021): 2147–55, https://doi.org/10.1093/gerona/glab138.