Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Riset Ungkap Durasi Tidur Paling Efektif untuk Cegah Demensia Dini

Riset Ungkap Durasi Tidur Paling Efektif untuk Cegah Demensia Dini
ilustrasi tidur (pexels.com/Polina)
Intinya Sih
  • Riset menemukan durasi tidur ideal 7–8 jam per malam paling efektif menurunkan risiko demensia, berdasarkan analisis terhadap hampir 4,5 juta partisipan dari 69 studi.

  • Tidur kurang dari 7 jam meningkatkan risiko demensia hingga 18 persen, sedangkan lebih dari 8 jam menaikkan risiko sampai 28 persen, menunjukkan pentingnya keseimbangan waktu tidur.

  • Selain tidur cukup, aktivitas fisik rutin dan mengurangi waktu duduk berlebihan juga terbukti membantu menjaga kesehatan otak serta menekan potensi munculnya gejala demensia di kemudian hari.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Kamu mungkin sering dengar kalau tidur cukup itu penting, tapi pernah gak kepikiran kalau durasi tidur juga bisa berpengaruh ke risiko demensia? Topik ini makin sering dibahas karena jumlah kasus demensia terus meningkat dari tahun ke tahun.

Banyak orang fokus ke pola makan sehat atau olahraga, padahal tidur punya peran yang gak kalah besar, lho. Menariknya, riset terbaru berhasil menemukan durasi tidur yang dianggap paling ideal untuk menjaga kesehatan otak.

Temuan ini bisa jadi panduan sederhana yang langsung bisa kamu terapkan sehari-hari. Yuk, pahami lebih dalam supaya kamu bisa mulai menjaga otak sejak sekarang.

1. Durasi tidur ideal untuk menurunkan risiko demensia

ilustrasi demensia
ilustrasi demensia (pexels.com/SHVETS production)

Menurut penelitian dalam jurnal PLOS One, durasi tidur terbaik untuk menekan risiko demensia ada di kisaran 7 sampai 8 jam per malam. Riset ini menganalisis data dari 69 studi dengan total hampir 4,5 juta partisipan. Hasilnya menunjukkan bahwa durasi tersebut menjadi titik paling optimal untuk menjaga kesehatan otak. Kurang atau lebih dari rentang itu justru bisa meningkatkan risiko.

Menariknya, tidur kurang dari 7 jam dikaitkan dengan peningkatan risiko demensia sebesar 18 persen. Sementara itu, tidur lebih dari 8 jam justru berkaitan dengan peningkatan risiko hingga 28 persen. Artinya, terlalu banyak tidur juga bukan solusi yang lebih baik. Pola tidur yang seimbang justru jadi kunci utama untuk menjaga fungsi otak tetap optimal.

2. Kurang atau kelebihan tidur sama-sama berisiko

ilustrasi wanita tidur
ilustrasi wanita tidur (pexels.com/Mikhail Nilov)

Selama ini banyak orang berpikir bahwa makin lama tidur, makin baik untuk tubuh. Padahal, penelitian menunjukkan hal yang berbeda. Tidur berlebihan bisa jadi tanda adanya gangguan kesehatan, termasuk potensi awal dari penyakit seperti Alzheimer. Jadi, penting banget untuk memperhatikan kualitas dan durasi tidur secara bersamaan.

Selain itu, hubungan antara tidur dan demensia memang gak selalu bersifat sebab-akibat langsung. Peneliti menjelaskan bahwa temuan ini lebih menunjukkan adanya keterkaitan, bukan bukti mutlak. Meski begitu, pola ini tetap relevan sebagai peringatan agar kamu lebih sadar terhadap kebiasaan tidur sehari-hari.

3. Gaya hidup lain juga ikut berperan

ilustrasi olahraga lari
ilustrasi olahraga lari (pexels.com/Stephen Leonardi)

Durasi tidur bukanlah satu-satunya faktor yang memengaruhi risiko demensia. Penelitian yang sama juga menemukan bahwa kurang aktivitas fisik dan terlalu lama duduk punya dampak signifikan terhadap kesehatan otak. Duduk lebih dari 8 jam sehari serta aktivitas fisik kurang dari 150 menit per minggu dikaitkan dengan peningkatan risiko yang cukup besar.

Para peneliti menjelaskan bahwa kombinasi gaya hidup sehat bisa memberikan efek perlindungan bagi otak. Aktivitas fisik membantu melancarkan aliran darah ke otak, sementara tidur cukup membantu proses pembersihan limbah dari sel saraf. Kebiasaan sederhana ini ternyata punya dampak jangka panjang yang besar terhadap fungsi kognitif.

4. Kenapa tidur berpengaruh besar ke kesehatan otak

ilustrasi organ otak
ilustrasi organ otak (vecteezy.com/sasirin pamai)

Tidur gak hanya berfungsi sebagai waktu istirahat, tapi juga jadi momen penting bagi tubuh untuk melakukan proses pemulihan. Saat kamu tidur, otak tetap aktif bekerja membersihkan zat-zat sisa yang menumpuk sepanjang hari. Proses ini berperan besar dalam menjaga fungsi memori serta konsentrasi agar tetap optimal.

Peneliti dalam studi tersebut juga menjelaskan bahwa pola tidur yang sehat dapat mendukung efek anti-inflamasi dan menjaga sistem saraf tetap stabil. Selain itu, tidur cukup juga berkaitan dengan kesehatan organ lain seperti jantung, yang punya hubungan erat dengan fungsi otak. Jadi, menjaga tidur tetap teratur sebenarnya membantu menjaga tubuh secara keseluruhan.

5. Risiko demensia bisa ditekan dari kebiasaan sederhana

ilustrasi pekerja jalan kaki
ilustrasi pekerja jalan kaki (pexels.com/Sora Shimazaki)

Kabar baiknya, banyak faktor risiko demensia yang sebenarnya bisa kamu kendalikan sendiri. Para peneliti menyebutkan bahwa hingga setengah kasus demensia berpotensi dicegah dengan memperbaiki gaya hidup. Mulai dari tidur cukup, rutin bergerak, hingga mengurangi waktu duduk terlalu lama.

Hal ini menunjukkan bahwa pencegahan demensia gak selalu harus rumit atau mahal. Justru perubahan kecil yang konsisten bisa memberikan dampak besar dalam jangka panjang. Dengan memahami pola yang tepat, kamu bisa mulai menjaga kesehatan otak sejak usia muda.

Menjaga kesehatan otak ternyata bisa dimulai dari hal yang sering dianggap sepele, yaitu tidur. Durasi 7 sampai 8 jam per malam menjadi angka ideal yang bisa kamu jadikan patokan. Terlalu sedikit atau terlalu banyak tidur sama-sama berisiko, jadi keseimbangan jadi kunci utama.

Ditambah dengan gaya hidup aktif, peluang untuk menekan risiko demensia jadi semakin besar. Mulai sekarang, coba evaluasi lagi pola tidur kamu, ya, dan pastikan sudah sesuai dengan kebutuhan tubuh.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nabila Inaya
EditorNabila Inaya
Follow Us

Related Articles

See More