Direktur Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes), dr. Siti Nadia Tarmizi, M. Epid (IDN Times/Misrohatun)
Direktur Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes), dr. Siti Nadia Tarmizi, M. Epid mengatakan bahwa estimasi kanker kolorektal mencapai 36 ribu dengan angka kematian 19 ribu.
“Angka kematiannya masih sangat tinggi, banyak pasien ditemukan pada stadium lanjut. Kalau kita bicara jumlah kasus, tadi dari cuma registri data dari PGI 3 ribu, berarti baru 10 persen, masih banyak yang harus kita temukan. Either dia di stadium lanjut atau di stadium dini,” jelasnya.
Menurutnya dr. Nadia, kasus baru seharusnya ditemukan sedini mungkin agar pengobatannya tidak berat—hanya butuh operasi, tidak perlu kemoterapi hingga radiasi.
Dukungan obat-obatan juga berkurang, yang otomatis berpengaruh pada biaya Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Berbeda jika ditemukan pada stadium lanjut, ada beberapa terapi obat-obatan yang tidak ditanggung JKN.
“Kalau keparahannya itu rendah (stadium awal) belum kemana-mana, belum nyebar ke mana-mana, pasti biaya akan murah. Makanya pemerintah kemudian komitmen bahwa KJSU itu menjadi prioritas kita, kanker adalah salah satu penyakit yang kita dorong untuk prioritas,” lanjut dr. Nadia.
Di layanan rujukan, Kemenkes memperkuat pengampuan kanker, termasuk kanker kolorektal dengan menghadirkan teknologi end-to-end. Skrining tahun lalu dengan Fecal Immunochemical Test (FIT) ditemukan sebanyak 2.100 yang positif, bertambah menjadi 2.300 hingga Februari 2026. Dia berharap penemuan kasus bisa dilakukan lebih dini lagi.