Setelah vasektomi, dilakukannya PVSA berfungsi memastikan bahwa tidak ada lagi sperma yang berpotensi menyebabkan kehamilan. Pasien dapat menghentikan kontrasepsi lain setelah pemeriksaan air mani memenuhi kriteria keberhasilan yang sesuai.
Jika pasangan mengalami kehamilan setelah vasektomi—terutama setelah sebelumnya prosedur dinyatakan berhasil—evaluasi medis dan pemeriksaan air mani kembali diperlukan untuk melihat apakah sperma telah muncul kembali.
Jadi, vasektomi memang bisa gagal, tetapi risikonya sangat kecil. Kegagalan dapat terjadi karena oklusi awal yang tidak sempurna atau rekanalisasi, sementara kehamilan pada masa awal juga bisa terjadi karena vasektomi belum sempat efektif. Analisis air mani pascavasektomi tetap menjadi langkah penting untuk memastikan keberhasilannya.
Referensi
Julian Peacock et al., “Complications of Vasectomy: Results from a Prospective Audit of 105,393 Procedures,” BJU International 134, no. 5 (2024): 789–795; correction, BJU International 138, no. 1 (2026): 175.
Michel Labrecque et al., “Frequency and Patterns of Early Recanalization after Vasectomy,” BMC Urology 6 (2006): 25.
T. Philp, J. Guillebaud, and D. Budd, “Late Failure of Vasectomy after Two Documented Analyses Showing Azoospermic Semen,” British Medical Journal 289, no. 6437 (1984): 77–79.
Peter N. Schlegel et al., “Vasectomy: AUA Guideline (2026) Part I,” Journal of Urology 215, no. 3 (2026): 240–249, doi:10.1097/JU.0000000000004861.
James J. Arnold, Bradley Green, and Chandani Hamal, “Vasectomy: Guidelines from the American Urological Association,” American Family Physician 114, no. 3 (2026): 316–318.