Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Tidur Mangap saat Mudik? Kenali 7 Risiko Bahayanya

Tidur Mangap saat Mudik? Kenali 7 Risiko Bahayanya
ilustrasi tidur dengan mulut terbuka saat mudik (freepik.com/stockking)
Intinya Sih
  • Tidur dengan mulut terbuka dapat menyebabkan mulut kering, gangguan pernapasan, dan kualitas tidur yang buruk.

  • Kebiasaan ini juga dapat meningkatkan risiko infeksi saluran napas, masalah gigi, dan iritasi tenggorokan.

  • Posisi tidur yang tidak nyaman selama perjalanan membuat napas lewat mulut lebih sering terjadi.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Saat mudik, kamu sering kali tertidur dalam perjalanan. Namun tidur dalam posisi duduk sering membuat kepala terjatuh ke belakang atau ke samping. Dalam kondisi ini, mulut sering terbuka tanpa disadari.

Tidur dengan mulut terbuka alias tidur mangap memang tampak sepele, tetapi dari sudut pandang medis, kebiasaan ini dapat memengaruhi kesehatan mulut, saluran pernapasan, bahkan kualitas tidur. Bernapas melalui mulut saat tidur dapat mengganggu fungsi normal saluran napas dan memicu berbagai masalah kesehatan jika terjadi terus-menerus. Dalam konteks perjalanan jauh, kondisi ini sering terjadi karena posisi tubuh yang tidak ideal dan kelelahan.

Yuk ketahui apa saja risiko kesehatan tidur mangap saat mudik, terus baca, ya!

1. Mulut dan tenggorokan kering

Salah satu dampak paling umum dari tidur dengan mulut terbuka adalah mulut kering (xerostomia).

Ketika bernapas melalui hidung, udara akan dilembapkan sebelum masuk ke paru-paru. Namun saat bernapas melalui mulut, udara masuk secara langsung tanpa proses pelembapan yang cukup.

Berkurangnya produksi air liur saat tidur dapat membuat mulut menjadi kering dan tidak nyaman.

Air liur berperan penting untuk melindungi jaringan mulut dan membantu menjaga keseimbangan bakteri.

2. Risiko bau mulut meningkat

Ilustrasi bau mulut.
ilustrasi bau mulut (freepik.com/stockking)

Mulut yang kering juga dapat meningkatkan risiko halitosis atau bau mulut.

Ketika air liur berkurang, bakteri di rongga mulut lebih mudah berkembang. Bakteri ini memecah sisa makanan dan menghasilkan senyawa sulfur yang menyebabkan bau tidak sedap.

Air liur membantu membersihkan mulut dari bakteri dan partikel makanan. Ketika produksi air liur menurun, proses pembersihan alami ini menjadi kurang efektif.

3. Meningkatkan risiko kerusakan gigi

Air liur berperan penting dalam menjaga kesehatan gigi karena membantu menetralkan asam yang diproduksi oleh bakteri. Ketika mulut kering akibat bernapas melalui mulut, perlindungan alami ini berkurang.

Penelitian menunjukkan bahwa mulut kering berkaitan dengan peningkatan risiko karies gigi dan masalah gusi.

Walaupun tidur mangap saat perjalanan mungkin hanya terjadi sesekali, tetapi kebiasaan ini dapat memperburuk kondisi pada orang yang sudah memiliki masalah kesehatan gigi.

4. Tenggorokan mudah mengalami iritasi

Seorang perempuan mengalami sakit tenggorokan.
ilustrasi sakit tenggorokan (freepik.com/wayhomestudio)

Udara yang masuk langsung melalui mulut juga dapat menyebabkan iritasi tenggorokan, terutama jika udara di kendaraan cenderung kering atau berdebu.

Pernapasan melalui mulut dapat membuat lapisan mukosa tenggorokan lebih mudah kehilangan kelembapan sehingga memicu rasa kering atau gatal. Ini menjelaskan mengapa sebagian orang merasa tenggorokannya tidak nyaman setelah tidur selama perjalanan panjang.

5. Kualitas tidur menurun

Bernapas melalui mulut juga dapat memengaruhi kualitas tidur.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pernapasan melalui hidung lebih efisien dalam mendukung fungsi pernapasan dan oksigenasi tubuh.

Selain itu, disebutkan juga bahwa pernapasan melalui mulut saat tidur sering berkaitan dengan gangguan tidur seperti sleep-disordered breathing, yaitu gangguan pernapasan saat tidur yang membuat napas menjadi tidak normal (paling sering berupa sleep apnea). Akibatnya, kamu mungkin tetap merasa lelah meskipun sudah tertidur selama perjalanan.

6. Mendengkur lebih mudah terjadi

Ilustrasi tidur di bus saat mudik.
ilustrasi tidur di bus saat mudik (pexels.com/@kenzero14)

Tidur dengan mulut terbuka dapat memperbesar kemungkinan mendengkur.

Ketika mulut terbuka, jaringan lunak di tenggorokan lebih mudah bergetar saat udara melewatinya. Getaran inilah yang menghasilkan suara dengkuran.

Mendengkur dapat menjadi tanda adanya gangguan pernapasan saat tidur, termasuk sleep apnea pada beberapa kasus.

Walaupun tidak semua orang yang mendengkur mengalami sleep apnea, tetapi kondisi ini tetap dapat mengganggu kualitas tidur.

7. Mempermudah masuknya kuman

Hidung sebenarnya memiliki sistem penyaringan alami yang membantu menangkap partikel debu, bakteri, dan virus. Ketika kamu bernapas melalui mulut, mekanisme penyaringan ini menjadi berkurang.

Menurut penelitian, hidung berperan penting dalam menyaring partikel udara sebelum mencapai saluran pernapasan bawah. Karena itu, bernapas melalui mulut dalam waktu lama dapat meningkatkan paparan terhadap partikel iritan atau mikroorganisme dari lingkungan.

Tidur selama perjalanan jauh memang dapat membantu mengurangi rasa lelah saat mudik. Namun, posisi tubuh yang kurang ideal sering membuat kamu tidur mangap. Kebiasaan ini bisa menyebabkan berbagai masalah, mulai dari mulut kering, bau mulut, sakit tenggorokan, hingga kualitas tidur yang kurang baik. Dalam beberapa kasus, bernapas lewat mulut juga dapat meningkatkan risiko gangguan tidur.

Menjaga posisi tidur yang lebih nyaman, pakai penyangga leher, dan tetap terhidrasi dapat membantu mengurangi kemungkinan tidur mangap selama perjalanan mudik.

Referensi

American Academy of Sleep Medicine. “Sleep and Breathing.” Diakses Maret 2026.

Scully, Crispian. 2004. “Dry Mouth (Xerostomia).” Dalam Oral and Maxillofacial Medicine: The Basis of Diagnosis and Treatment, diedit oleh R. J. Smith, 123–134. Edinburgh: Wright/Elsevier.

American Dental Association. “Saliva and Oral Health.” Diakses Maret 2026.

Gail Douglas, “Dental Caries: The Disease and Its Clinical Management (4th Edition),” BDJ 238, no. 10 (May 23, 2025): 763, https://doi.org/10.1038/s41415-025-8727-y.

National Institutes of Health. “Dry Mouth (Xerostomia).” Diakses Maret 2026.

Neil S. Cherniack, “Breathing Disorders During Sleep,” Hospital Practice 21, no. 2 (February 15, 1986): 81–104, https://doi.org/10.1080/21548331.1986.11706571.

National Heart, Lung, and Blood Institute. “Snoring and Sleep Apnea.” Diakses Maret 2026.

Ronald Eccles, “The Role of Nasal Congestion as a Defence Against Respiratory Viruses,” Clinical Otolaryngology 46, no. 1 (October 16, 2020): 4–8, https://doi.org/10.1111/coa.13658.

R Eccles, “A Role for the Nasal Cycle in Respiratory Defence,” European Respiratory Journal 9, no. 2 (February 1, 1996): 371–76, https://doi.org/10.1183/09031936.96.09020371.

S. Caleb Freeman, David A. Karp, and Chadi I. Kahwaji, “Physiology, Nasal,” StatPearls - NCBI Bookshelf, May 1, 2023, https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK526086/.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
Eka Amira Yasien
Nuruliar F
EditorNuruliar F
Follow Us

Latest in Health

See More