potret Ahmad Abdul di kantor IDN, Jakarta, Selasa (6/10/2026) (dok. IDN Times/Rani Asnurida)
Nama Ahmad Abdul pernah begitu ramai dipuji setelah mengikuti Indonesian Idol 2018. Penampilannya membawakan “Lost Stars” milik Adam Levine saat audisi berhasil menarik perhatian juri dan penonton. Berbekal karakter vokalnya yang khas, Abdul pun berhasil melaju hingga babak grand final dan keluar sebagai runner-up.
Beberapa tahun berlalu sejak momen itu. Di ruang meeting kantor IDN, Abdul pun mengenang kembali perjalanan bermusiknya. Suasana perbincangan saat itu berlangsung cukup tenang ketika ia mengulas tahun-tahun yang dilewatinya setelah Indonesian Idol, termasuk masa ketika ia memutuskan untuk berkarier secara independen. Sesekali, matanya tampak berkaca-kaca saat mengenang bagian perjalanannya yang tidak mudah.
Selama berkarier secara independen, Abdul mengungkapkan bahwa ia tetap merilis lagu dan membuat konten seputar musik. Hanya saja, promosinya tidak sebesar ketika berada di bawah naungan label. Di samping itu, alih-alih festival, ia dari dulu memang lebih sering menerima tawaran manggung di acara privat hingga pernikahan.
“Jadi, sempat bergerak independen, rilis lagu tetap, tetap dengan bahasa Inggris, cuma mungkin promonya aja yang tidak segencar itu karena bergerak independen juga. Kalau konten juga sebelum-sebelumnya masih konten tentang musik juga. Kalau festival dari dulu memang jarang. Kebanyakan kalau nge-job itu kalau gak private event, wedding,” kata penyanyi kelahiran Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) tersebut.
Di tengah usahanya mempertahankan karier, Abdul mengakui bahwa ia memiliki sisi idealis, terutama dalam memilih orang-orang yang dipercaya untuk terlibat dalam proses kreatifnya. Namun, orang-orang tersebut tidak selalu bisa mendampinginya secara penuh sehingga ada banyak hal yang pada akhirnya harus ia kerjakan sendiri.
“Mungkin ada sisi idealis juga kali ya. Baik dari kontennya, kayak gitu-gitu. Jadi, tidak sepenuhnya percaya ke banyak orang. Jadi, ada orang-orang tertentu aja dan orang-orang tertentu ini belum terlalu punya waktu full di aku gitu. Jadi, kayak balik lagi ngerjain sendiri,” lanjutnya.
Seiring berjalannya waktu, kondisi tersebut pun menguras energinya hingga ia sempat mengalami burnout. Bagi Abdul, tantangan terbesarnya bukan semata-mata banyaknya pekerjaan, melainkan harus memikirkan semuanya seorang diri tanpa cukup ruang untuk berdiskusi. Pengalaman tersebut membuatnya menyadari bahwa kebebasan dalam bermusik tetap membutuhkan dukungan orang-orang yang bisa berjalan bersama.
“Karena semuanya sendiri jadi ngerasa berat aja. Kayak mendanai sendiri, terus pemikirannya sendiri juga, mau ke mana-mana sendiri jadi bingung. Sedangkan sekarang kalau misalkan punya rumah yang baru kan mereka yang membantu. Ada orang yang diajak untuk diskusi dan lain-lain.”
Setelah beberapa tahun berkarier secara independen, kini Ahmad Abdul pun resmi memulai babak baru bersama DRM. Ia merasa telah menemukan rumah baru yang bisa mendukungnya untuk terus berkarya dan mengembangkan perjalanan bermusiknya.