Ahmad Abdul: Saya Cukup Idealis dalam Bermusik

- Ahmad Abdul mengaku idealis saat berkarier independen, membatasi kolaborator, mengurus pendanaan hingga arah kreatif sendiri, dan sempat mengalami burnout akibat minimnya ruang berdiskusi.
- Setelah lama merilis lagu berbahasa Inggris, Abdul kini lebih nyaman bernyanyi dan menciptakan karya berbahasa Indonesia, termasuk single “Setelah Sekian Lama”.
- Abdul resmi bergabung dengan DRM setelah beberapa tahun independen; ia merasa dukungan tim, jadwal kerja, diskusi, serta perhatian pada audio dan visual membuatnya lebih nyaman berkarya.
Jakarta, IDN Times - Perjalanan seorang musisi tidak selalu berjalan mulus. Di balik karya yang akhirnya didengar oleh banyak orang, ada proses panjang, bahkan idealisme yang dipertahankan. Hal tersebut juga dilalui oleh Ahmad Abdul, yang dalam beberapa tahun terakhir lebih memilih untuk melanjutkan karier bermusiknya secara independen.
Bagi pelantun lagu “Up to the Sky” ini, berkarier secara independen memberinya kebebasan untuk menentukan arah musik sesuai dengan idealismenya. Namun, di balik kebebasan itu, ada tanggung jawab besar yang harus ia pikul sendiri. Tidak hanya menciptakan lagu, Abdul juga harus memikirkan berbagai hal lain agar kariernya tetap berjalan. Pada akhirnya, ia pun tak menampik bahwa seiring waktu, menjalani semuanya seorang diri membuatnya menyadari bahwa memperjuangkan musik sesuai idealismenya sendiri juga berarti harus siap menghadapi lelahnya mengurus segala sesuatu tanpa banyak bantuan.
Pengalaman tersebut diceritakan langsung oleh Ahmad Abdul saat media visit ke kantor IDN, Jakarta, Selasa (6/10/2026). Ia mengenang perjuangannya selama berkarier secara independen dengan tenang, meski sesekali matanya tampak berkaca-kaca, mengingat perjalanannya yang gak selalu mudah. Tapi di sisi lain, terselip pula kelegaan di wajahnya karena kini ia telah menemukan rumah baru bersama label DRM.
1. Ahmad Abdul akui idealis dalam bermusik: Tidak sepenuhnya percaya ke banyak orang

potret Ahmad Abdul di kantor IDN, Jakarta, Selasa (6/10/2026) (dok. IDN Times/Rani Asnurida) Nama Ahmad Abdul pernah begitu ramai dipuji setelah mengikuti Indonesian Idol 2018. Penampilannya membawakan “Lost Stars” milik Adam Levine saat audisi berhasil menarik perhatian juri dan penonton. Berbekal karakter vokalnya yang khas, Abdul pun berhasil melaju hingga babak grand final dan keluar sebagai runner-up.
Beberapa tahun berlalu sejak momen itu. Di ruang meeting kantor IDN, Abdul pun mengenang kembali perjalanan bermusiknya. Suasana perbincangan saat itu berlangsung cukup tenang ketika ia mengulas tahun-tahun yang dilewatinya setelah Indonesian Idol, termasuk masa ketika ia memutuskan untuk berkarier secara independen. Sesekali, matanya tampak berkaca-kaca saat mengenang bagian perjalanannya yang tidak mudah.
Selama berkarier secara independen, Abdul mengungkapkan bahwa ia tetap merilis lagu dan membuat konten seputar musik. Hanya saja, promosinya tidak sebesar ketika berada di bawah naungan label. Di samping itu, alih-alih festival, ia dari dulu memang lebih sering menerima tawaran manggung di acara privat hingga pernikahan.
“Jadi, sempat bergerak independen, rilis lagu tetap, tetap dengan bahasa Inggris, cuma mungkin promonya aja yang tidak segencar itu karena bergerak independen juga. Kalau konten juga sebelum-sebelumnya masih konten tentang musik juga. Kalau festival dari dulu memang jarang. Kebanyakan kalau nge-job itu kalau gak private event, wedding,” kata penyanyi kelahiran Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) tersebut.
Di tengah usahanya mempertahankan karier, Abdul mengakui bahwa ia memiliki sisi idealis, terutama dalam memilih orang-orang yang dipercaya untuk terlibat dalam proses kreatifnya. Namun, orang-orang tersebut tidak selalu bisa mendampinginya secara penuh sehingga ada banyak hal yang pada akhirnya harus ia kerjakan sendiri.
“Mungkin ada sisi idealis juga kali ya. Baik dari kontennya, kayak gitu-gitu. Jadi, tidak sepenuhnya percaya ke banyak orang. Jadi, ada orang-orang tertentu aja dan orang-orang tertentu ini belum terlalu punya waktu full di aku gitu. Jadi, kayak balik lagi ngerjain sendiri,” lanjutnya.
Seiring berjalannya waktu, kondisi tersebut pun menguras energinya hingga ia sempat mengalami burnout. Bagi Abdul, tantangan terbesarnya bukan semata-mata banyaknya pekerjaan, melainkan harus memikirkan semuanya seorang diri tanpa cukup ruang untuk berdiskusi. Pengalaman tersebut membuatnya menyadari bahwa kebebasan dalam bermusik tetap membutuhkan dukungan orang-orang yang bisa berjalan bersama.
“Karena semuanya sendiri jadi ngerasa berat aja. Kayak mendanai sendiri, terus pemikirannya sendiri juga, mau ke mana-mana sendiri jadi bingung. Sedangkan sekarang kalau misalkan punya rumah yang baru kan mereka yang membantu. Ada orang yang diajak untuk diskusi dan lain-lain.”
Setelah beberapa tahun berkarier secara independen, kini Ahmad Abdul pun resmi memulai babak baru bersama DRM. Ia merasa telah menemukan rumah baru yang bisa mendukungnya untuk terus berkarya dan mengembangkan perjalanan bermusiknya.
2. Kini lebih nyaman bernyanyi dalam Bahasa Indonesia

potret Ahmad Abdul di kantor IDN, Jakarta, Selasa (6/10/2026) (dok. IDN Times/Rani Asnurida) Perjalanan Ahmad Abdul sebagai musisi bukan cuma tentang bertahan di industri musik, tapi juga tentang proses mengenali dirinya sendiri. Setelah bertahun-tahun berkarya, ia merasa ada perubahan dalam cara memandang musik, termasuk ketika memilih bahasa yang digunakan dalam lagu-lagunya. Jika sebelumnya ia lebih banyak merilis lagu berbahasa Inggris, kini bersama DRM, Abdul mulai merasa nyaman untuk bernyanyi dalam bahasa Indonesia lewat lagu “Setelah Sekian Lama.”
Baginya, perubahan itu tidak terjadi dalam semalam. Ada proses panjang yang membuatnya perlahan menemukan kecocokan dengan bahasa Indonesia. Abdul bahkan sempat merasa aneh ketika mendengar dirinya sendiri menyanyikan lagu berbahasa Indonesia karena merasa warna vokalnya masih terlalu kental dengan logat Bali.
Namun, seiring berjalannya waktu, pandangannya mulai berubah. Abdul merasa semakin nyaman membawakan lagu berbahasa Indonesia, hingga akhirnya berani menciptakan lagunya sendiri dengan bahasa tersebut. Ia pun melihat proses ini sebagai bagian dari pendewasaan musikalitasnya, namun bukan berarti meninggalkan karakter musik yang selama ini sudah melekat padanya.
“Berproses, pendewasaan musik. Jadi ngerasa lebih nyaman dan lebih enak aja didengar kalau nyanyi lagu bahasa Indonesia. Akhirnya berani untuk bikin lagu bahasa Indonesia sendiri juga. Kalau sebelumnya mungkin aku juga ngerasa lucu sih ngedengar aku nyanyi lagu Indo, kayak aneh banget. Kental banget Balinya. Makanya kayak sempat aku berpikir pas lagu ini jadi, ternyata butuh waktu delapan tahun bikin lagu yang sederhana, bisa diterima, indah, tanpa terkesan cringe. Jadi lebih kayak dia lahir sendiri.“
3. Kini merasa lebih nyaman bermusik di bawah naungan label

potret Ahmad Abdul di kantor IDN, Jakarta, Selasa (6/10/2026) (dok. IDN Times/Rani Asnurida) Saat itu, suasana media visit di ruang meeting kantor IDN pun perlahan terasa lebih hangat ketika Ahmad Abdul mulai menceritakan babak baru dalam perjalanan musiknya. Jika sebelumnya ia mengenang masa-masa sulit saat harus mengurus karier seorang diri, kali ini ada kelegaan yang tersirat di wajahnya ketika membahas keputusannya bergabung dengan DRM. Setelah beberapa tahun berjuang secara independen, ia merasa menemukan tempat baru untuk kembali fokus berkarya tanpa harus menanggung semuanya sendirian.
Menurut Abdul, berkarier secara independen maupun di bawah naungan label sama-sama memiliki kenyamanan tersendiri. Saat bergerak sendiri, ia bebas menentukan arah dan jadwal kerjanya. Namun, kebebasan itu terkadang justru membuatnya terlena. Namun, bersama label, Abdul memiliki jadwal dan tenggat waktu yang membantunya menjaga ritme kerja. Ada tim yang mengingatkannya untuk tetap produktif, tetapi juga memahami kapan ia perlu beristirahat. Baginya, dukungan semacam ini membuat keseimbangan antara pekerjaan dan waktu untuk diri sendiri lebih mudah dijaga.
“Dua-duanya nyaman. Tapi lebih nyaman di label sih. Karena ada yang menjaga aja. Jadi gak terlalu jauh. Kalau males ya jangan males banget. Kalau emang harus liburan, ya liburan, kalau kerja, ya kerja.”
Keputusan bergabung dengan DRM pun bukan sesuatu yang diambil secara terburu-buru. Sebelum menerima pendekatan dari label tersebut, Abdul terlebih dahulu memperhatikan cara mereka memperlakukan para artisnya. Dari situ lah, ia merasa DRM bisa menjadi rumah baru yang tepat untuk melanjutkan perjalanan musiknya.
Masih dengan gaya bicara yang tenang, tetapi tetap terasa emosional, Abdul mengakui bahwa sejauh ini, pengalamannya bersama DRM berjalan sesuai harapan. Ia merasa proses kerja mereka berjalan baik karena memiliki pemikiran yang searah dan ruang untuk berdiskusi dalam mengembangkan karya. Meski belum tahu bagaimana perjalanan ke depannya, Abdul mengaku senang karena kini rilisannya tidak hanya mengutamakan kualitas musik, tetapi juga memperhatikan aspek visual sehingga menghasilkan karya yang terasa lebih utuh.
“Sejauh ini semuanya berjalan dengan sangat baik. Sejalan juga. Kita semua punya pemikiran yang sejalan, diskusinya juga dapat, sampai akhirnya punya karya yang menurut aku whole package dari segi audio, visual, bagus.”
Dari ruang meeting kantor IDN hari itu, cerita Ahmad Abdul memperlihatkan bahwa perjalanan seorang musisi tidak selalu tentang seberapa sering namanya terdengar atau seberapa banyak panggung yang berhasil ia datangi. Ada proses panjang yang harus dilewati, termasuk masa ketika ia perlu mengandalkan dirinya sendiri untuk mempertahankan sesuatu yang ia cintai.




















