Pisang Goreng dan Studio Tanpa Jendela, Cerita Ahmad Abdul Meramu Lagu Baru

Jakarta, IDN Times - Di balik lagu “Setelah Sekian Lama” yang dirilis Ahmad Abdul September lalu, ada cerita menarik yang lahir dari balik pintu sebuah studio tanpa jendela di Bali. Di ruangan itu, ada jam dinding yang jarumnya mati di angka enam. Ahmad Abdul dan timnya sering kali kehilangan jejak waktu, masuk saat matahari tepat di atas kepala, lalu baru tersadar sudah tengah malam begitu melangkah keluar.
Meski begitu, Abdul tak pernah lupa menyantap pisang goreng saat meramu lagu barunya itu. Bukan pisang goreng premium atau yang bikin orang-orang rela antre berjam-jam untuk mendapatkannya. Itu hanya pisang goreng biasa yang dijual di dekat studionya. Sambil terkekeh, Abdul memuji rasa camilan yang selalu menemaninya merakit lirik demi lirik.
“Enak aja. Gak tahu kenapa selalu ada pisang goreng saat bikin lagu ini,” katanya saat berbincang di kantor IDN, Jakarta, Selasa (6/10/2026).
Ini cerita Abdul tentang momen menarik dari balik proses kreatif lagu barunya.
1. Menulis lagu berbahasa Indonesia jadi tantangan tersendiri bagi Ahmad Abdul

potret Ahmad Abdul di kantor IDN, Jakarta, Selasa (6/10/2026) (dok. IDN Times/Rani Asnurida) Lewat single “Setelah Sekian Lama” yang dirilis pada 24 September 2026, Ahmad Abdul mencoba mengeksplorasi penulisan lirik berbahasa Indonesia. Proses ini menjadi tantangan tersendiri baginya karena selama ini ia terbiasa menulis lagu dalam bahasa Inggris.
Menurut Abdul, bahasa Indonesia memiliki banyak pilihan kata yang perlu disesuaikan dengan melodi. Ia juga harus memastikan lirik yang ditulis terdengar natural dan gak terkesan cringe ketika dinyanyikan.
“Menurutku, bahasa Indonesia itu banyak banget pilihan katanya. Kalau misalkan salah, jadinya cringe,” ujarnya.
Meski begitu, Abdul menilai, menulis lagu dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris sama-sama memiliki tantangan. Untuk menemukan lirik yang tepat, ia biasanya menyanyikannya berulang kali. Jika dirasa kurang cocok dengan melodi, ia tak ragu mengganti pilihan kata atau beralih ke bahasa lain.
“Cuma kalau susah atau tidak, gampang yang mana, dua-duanya sulit. Jadi, lebih mencocokkan nada sama bahasanya. Ketika aku dapat nada, tapi kalau diucapkan dalam bahasa Indonesia tidak cocok, mungkin diganti bahasa Inggris. Begitu juga sebaliknya,” lanjutnya.
Menurutnya, hal ini juga yang membuat proses menciptakan lagu gak selalu berlangsung singkat. Abdul mengaku tak segan untuk mengubah atau menghapus lirik yang dirasa kurang cocok hingga menemukan pilihan kata yang pas dengan melodi.
2. Rekaman lagu Setelah Sekian Lama, Ahmad Abdul selalu ditemani pisang goreng

potret Ahmad Abdul di kantor IDN, Jakarta, Selasa (6/10/2026) (dok. IDN Times/Rani Asnurida) Dalam kesempatan tersebut, Abdul juga mengingat kembali proses kreatif di balik penggarapan lagu “Setelah Sekian Lama” yang turut diwarnai kebiasaan unik. Di tengah hectic-nya proses rekaman, ternyata ada satu camilan ikonik yang selalu menemaninya, yaitu pisang goreng.
“Kita menghabiskan waktu di studio, kan. Setiap hari rekaman selalu ada pisang goreng. Harus ada pisang goreng,” kata Ahmad Abdul sambil tersenyum kecil.
Dengan nada antusias, Abdul mengaku bahwa ia sangat menyukai camilan tersebut, meski menyadari bahwa gorengan juga bukan pilihan makanan yang selalu baik bagi seorang penyanyi. Namun, hal tersebut tak membuatnya berhenti menikmati pisang goreng selama proses rekaman.
“Suka banget. Sebenarnya tidak baik. Orang-orang pasti berpikir, ‘Kan, penyanyi tidak makan gorengan?’ Makan!”
Selain pisang goreng, ada juga hal lain yang membuat pengalaman rekaman Ahmad Abdul terkesan cukup unik. Penyanyi kelahiran Kupang, Nusa Tenggara Barat (NTB) tersebut mengungkapkan bahwa studio tempat mereka bekerja di Bali tidak memiliki jendela, sementara jam dindingnya sudah mati dan selalu menunjukkan pukul enam. Karena hal tersebut, ia dan rekan-rekannya pun sering gak sadar sudah berjam-jam berada di studio. Mereka bisa masuk saat siang hari, lalu baru menyadari waktu sudah malam ketika keluar.
“Jadi, kita benar-benar gak tahu jam berapa. Misalkan keluar jam 12 siang, ternyata sudah jam 12 malam,” tuturnya antusias.
3. Voice note jadi cara Ahmad Abdul menyimpan ide musik

potret Ahmad Abdul di kantor IDN, Jakarta, Selasa (6/10/2026) (dok. IDN Times/Rani Asnurida) Bagi Ahmad Abdul, inspirasi membuat lagu tidak selalu muncul ketika ia sedang berada di studio. Ia mengaku bisa mendapatkan ide secara spontan di berbagai situasi, termasuk saat sedang menyetir. Oleh karena itu, agar ide tersebut tidak berlalu begitu saja hingga akhirnya terlupakan, ia sebisa mungkin menyimpannya melalui voice note. Rekaman tersebut bisa berupa potongan melodi yang ia nyanyikan dengan humming maupun lirik yang tiba-tiba terlintas di pikirannya.
“Di mana saja bisa. Karena kalau lagi menyetir juga bisa. Jadi, lagu itu kalau aku, datangnya dari inspirasi yang tiba-tiba lewat saja kemudian dicatat melalui voice note langsung, entah itu humming atau lirik,” ungkap Abdul.
Karena kebiasaannya tersebut, Ahmad Abdul jadi memiliki banyak rekaman ide yang bisa didengarkan kembali ketika ingin mengembangkan lagu. Tapi di sisi lain, ia juga tak menampik bahwa banyaknya ide yang terkumpul kadang justru membuatnya bingung menentukan mana yang akan lebih dahulu diolah menjadi karya utuh. Hihihi~
“Banyak banget, sih. Saking banyaknya jadi bingung mau mengulik yang mana. Isinya cuma voice note saja, full song-nya tidak ada,” tutupnya.
Di balik proses kreatif dalam menciptakan lagu, Ahmad Abdul ternyata punya kebiasaan dan cerita unik sendiri yang mewarnai perjalanannya di industri musik.





















