Uncle Muthu berjualan di warung makan miliknya. (youtube.com/Les' Copaque Production)
Sebelum membahas cara berjualan Uncle Muthu, perlu kamu ketahui bahwa Uncle Muthu adalah karakter yang diceritakan tidak memeluk agama Islam. Sebagai seseorang yang pekerjaan utamanya adalah menjual makanan, Uncle Muthu tetap menjalankan bisnisnya seperti biasa, walau di bulan Ramadan. Ia tidak membedakan waktu berjualan dan tetap buka seperti hari-hari biasa, yaitu mulai pagi hari.
Meski begitu, Uncle Muthu tetap memperhatikan siapa pembeli yang memesan di warung makannya. Hal ini terungkap dari penjelasan Uncle Muthu sendiri dalam episode “Pengalaman Puasa”. Di bulan Ramadan, Uncle Muthu akan menolak pesanan orang Melayu, Islam, dan orang puasa. Uncle Muthu tidak memperbolehkan orang-orang tersebut untuk makan di warung miliknya. Inilah yang membedakan cara jualannya dari hari-hari biasanya.
Jika melihat dari episode “Ragam Ramadhan”, apa yang diterapkan Uncle Muthu ternyata bukan peraturannya sendiri. Terdapat ketentuan dari pejabat agama di sana yang tidak memperbolehkan orang Islam berada di warung makan selama waktu berpuasa. Pemilik warung bisa ditangkap jika kedapatan membiarkan mereka makan di warung makan miliknya.
Sama-sama mempunyai bisnis kuliner, Mail dan Uncle Muthu kompak menerapkan cara jualan yang berbeda dari biasanya supaya tetap bisa berjualan selama bulan Ramadan. Jika Mail membedakan cara berjualan dari jam bukanya, Uncle Muthu membedakan cara berjualan dengan mengecualikan pembeli tertentu. Sayangnya, di episode “Pengalaman Puasa”, Uncle Muthu kedapatan pernah menerima pesanan orang tak puasa, nih!