Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

6 Film Soft Sci-Fi yang Lebih Fokus pada Cerita daripada Teknologi

6 Film Soft Sci-Fi yang Lebih Fokus pada Cerita daripada Teknologi
Arrival (dok. Paramount Pictures/Arrival)
  • Soft sci-fi menempatkan teknologi sebagai pintu masuk untuk mengeksplorasi emosi, relasi, serta makna menjadi manusia, bukan sekadar memamerkan kecanggihan futuristis.
  • Never Let Me Go, After Yang, dan Her mengangkat masa depan untuk membahas takdir, kehilangan, serta kebutuhan manusia akan cinta dan pemahaman.
  • Ex Machina, Blade Runner 2049, dan Arrival menyoroti kesadaran, kebebasan, identitas, bahasa, serta cara manusia memahami waktu dan pengalaman hidup.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Kalau mendengar istilah sci-fi, yang terbayang biasanya adalah pesawat luar angkasa, robot canggih, perjalanan waktu, atau teknologi futuristis yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Padahal, ada cabang fiksi ilmiah yang justru tidak terlalu sibuk memamerkan kecanggihan teknologi, yakni soft sci-fi.

Kalau belum tahu, soft sci-fi lebih tertarik pada bagaimana sebuah penemuan atau konsep ilmiah memengaruhi manusia dan cara kita memandang dunia. Oleh karena itu, film soft sci-fi sering terasa lebih dekat dengan drama daripada film fiksi ilmiah konvensional. Teknologi atau konsep futuristisnya tetap penting, tetapi hanya menjadi pintu masuk untuk membahas makna menjadi manusia.

Kalau lebih suka film fiksi yang mengandalkan cerita kuat daripada ledakan dan aksi, enam film soft sci-fi berikut layak masuk daftar tontonan. Menarik semuanya!

  1. 1. Never Let Me Go (2010)

    Never Let Me Go
    Never Let Me Go (dok. Searchlight Pictures/Never Let Me Go)

    Sekilas, Never Let Me Go terlihat seperti drama tentang persahabatan dan masa remaja. Kathy, Tommy, dan Ruth tumbuh bersama di Hailsham, sebuah sekolah asrama yang tampak tenang dan ideal. Namun, perlahan mereka menyadari bahwa kehidupan mereka sudah ditentukan untuk sebuah tujuan medis yang tidak memberi mereka banyak pilihan.

    Unsur fiksi ilmiahnya memang tidak terlalu sering ditampilkan, tetapi justru konsekuensinya terasa dalam setiap hubungan dan keputusan para karakter. Diadaptasi dari novel karya Kazuo Ishiguro, film ini memilih pendekatan yang emosional. Alih-alih menjadikan premisnya sebagai cerita pemberontakan melawan sistem, Never Let Me Go mempertanyakan bagaimana manusia menghadapi kenyataan ketika masa depan sudah ditentukan.

  2. 2. After Yang (2021)

    After Yang
    After Yang (dok. A24/After Yang)

    Dalam After Yang, sebuah keluarga mengalami kehilangan setelah Yang, Android yang selama ini menjadi teman sekaligus pendamping bagi anak mereka, tiba-tiba rusak. Jake kemudian berusaha mencari cara untuk memperbaikinya. Namun, semakin ia menggali data dan memori Yang, semakin banyak hal yang baru ia sadari tentang sosok yang selama ini ada di dekat keluarganya.

    Sesuatu yang awalnya terlihat seperti masalah teknis perlahan berubah menjadi cerita tentang kehilangan dan proses memahami seseorang. Film karya Kogonada ini memang berlatar masa depan dengan teknologi seperti Android, manusia hasil kloning, dan sistem penyimpanan memori. Meski begitu, semua teknologi tersebut terasa seperti bagian biasa dari kehidupan sehari-hari, bukan sesuatu yang sengaja dipamerkan.

  3. 3. Her (2013)

    Her
    Her (dok. Warner Bros./Her)

    Her membawa penonton ke Los Angeles versi masa depan yang terasa nyaman, modern, dan hampir terlalu mudah untuk menjalani kehidupan. Theodore Twombly bekerja menulis surat pribadi untuk orang lain, tetapi justru kesulitan menghadapi kehancuran rumah tangganya sendiri. Semuanya berubah ketika ia menggunakan sistem operasi canggih bernama Samantha yang mampu memahami Theodore secara semakin mendalam.

    Hubungan mereka awalnya terdengar seperti konsep teknologi yang aneh, tetapi perlahan berubah menjadi kisah cinta yang terasa sangat nyata. Yang membuat Her menarik adalah bahwa film ini tidak terlalu sibuk menjelaskan bagaimana teknologi tersebut bekerja. Spike Jonze lebih tertarik pada pertanyaan tentang kebutuhan manusia untuk dicintai dan dipahami.

    Theodore merasa dekat dengan Samantha karena ia selalu mendengarkan dan mampu menyesuaikan diri dengan emosinya, tetapi perkembangan Samantha ternyata tidak bisa ia ikuti.

  4. 4. Ex Machina (2014)

    Ex Machina
    Ex Machina (dok. A24/Ex Machina)

    Ex Machina mengajak penonton masuk ke sebuah eksperimen kecerdasan buatan yang terasa sederhana, tetapi semakin lama semakin mencurigakan. Caleb, seorang programmer muda, mendapatkan kesempatan untuk mengunjungi rumah terpencil milik Nathan, CEO perusahaan tempatnya bekerja. Di sana, ia diminta menguji Ava, sebuah robot dengan kecerdasan buatan yang tampaknya mampu memiliki kesadaran.

    Namun, semakin banyak percakapan yang terjadi, semakin sulit bagi Caleb untuk mengetahui siapa sebenarnya yang sedang menguji siapa. Konsep Turing test menjadi salah satu fondasi film ini, tetapi inti ceritanya sebenarnya ada pada persoalan kekuasaan dan kebebasan. Ava bukan hanya mesin yang ingin membuktikan bahwa dirinya cerdas, melainkan sosok yang mulai memahami bagaimana manusia memperlakukannya.

  5. 5. Blade Runner 2049 (2017)

    Blade Runner 2049
    Blade Runner 2049 (dok. Warner Bros./Blade Runner 2049)

    Blade Runner 2049 menghadirkan dunia masa depan yang sangat maju, tetapi perhatian utamanya tetap ada pada satu pertanyaan sederhana, yakni apa artinya menjadi manusia? Officer K adalah seorang replicant yang bekerja sebagai blade runner dan bertugas memburu replicant lain yang dianggap melanggar aturan. Ketika menemukan sebuah rahasia besar, K mulai melakukan pencarian yang membuatnya mempertanyakan keberadaan dirinya sendiri.

    Perjalanannya akhirnya mempertemukannya dengan Rick Deckard, tokoh utama dari film Blade Runner sebelumnya. Dari segi visual, film ini jelas jauh dari kata sederhana. Kota futuristis, hologram raksasa, kendaraan terbang, dan teknologi reproduksi manusia memenuhi dunianya.

    Namun, semua kemegahan tersebut justru menjadi latar konflik K yang sangat personal. Ia ingin tahu apakah memorinya benar-benar miliknya, apakah perasaannya autentik, dan apakah keberadaannya memiliki arti khusus.

  6. 6. Arrival (2016)

    Arrival
    Arrival (dok. Paramount Pictures/Arrival)

    Dua belas pesawat luar angkasa tiba di berbagai lokasi di dunia dan membuat manusia bertanya-tanya tentang tujuan kedatangan makhluk asing tersebut. Dalam Arrival, pemerintah kemudian meminta ahli bahasa Louise Banks untuk mencoba berkomunikasi dengan para alien.

    Ketika sebagian pihak sibuk memikirkan apakah mereka datang dengan niat damai atau membawa ancaman, Louise justru memulai dari hal paling mendasar, yakni memahami bahasa mereka. Diadaptasi oleh Eric Heisserer dari cerita pendek Story of Your Life karya Ted Chiang, Arrival hampir tidak membutuhkan pertempuran besar untuk membuat penonton tegang.

    Cara para alien berkomunikasi bahkan membuat Louise mempertanyakan cara manusia sendiri memahami waktu dan pengalaman hidup. Dengan atmosfer yang tenang tetapi emosional, Arrival menjadi contoh kuat bahwa film fiksi ilmiah bisa memiliki skala besar tanpa kehilangan sisi personalnya.

    Pada akhirnya, keenam film tersebut menunjukkan bahwa soft sci-fi tidak harus mengandalkan teknologi spektakuler untuk membuat penonton terpukau. Jadi, kalau sedang mencari film sci-fi yang lebih mengutamakan cerita, emosi, dan pertanyaan filosofis daripada teknologi, film mana yang paling ingin mereka tonton lebih dulu?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More