Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

7 Film Thriller yang Gambarkan Bahaya Relasi Parasosial

7 Film Thriller yang Gambarkan Bahaya Relasi Parasosial
We're All Going to the World's Fair (dok. Utopia/We're All Going to the World's Fair)

Pernahkah kamu merasa mengenal seseorang yang bahkan belum pernah kamu temui di dunia nyata? Biasanya sih ini berkenaan dengan idola atau orang yang kamu suka. Ternyata ada istilah untuk fenomena itu, parasosial namanya. Ia merujuk pada perasaan dan koneksi sepihak yang dirasakan seseorang pada sosok yang tidak merasakan hal sama dengannya.

Istilah parasosial ternyata diperkenalkan pertama kali oleh 2 ilmuwan bernama Donald Horton dan R. Richard Wohl lewat esai berjudul ‘Mass Communication and Para-Social Interaction: Observations on Intimacy at a Distance’ yang mereka publikasikan di jurnal Psychiatry pada 1956. Parasosial sudah bisa diamati sejak media masa jadi bagian integral dalam hidup manusia, terutama televisi pada era itu. Kehadirannya memungkinkan kita membangun koneksi personal dengan sosok yang tak pernah kita temui, misalnya aktor, musisi, politisi, pembawa acara, dan publik figur lainnya.

Dengan adanya media sosial, pilihan tokoh yang bisa kita ikuti sepak terjang kariernya makin meluas. Bahkan gak sedikit yang mempersilakan kita masuk ke area-area yang sebelumnya privat, seperti rumah, aktivitas di balik layar, bahkan relasinya dengan orang terdekat. Meski menawarkan engagement yang tinggi, batasan antara kehidupan privat si publik figur dengan penggemarnya jadi makin samar. Gak jarang yang melewati batas dan berefek fatal. Beberapa film berikut mencoba menggambarkan dampak fatal alias bahaya yang dimaksud.

1. All About Lily Chou Chou (2001)

All About Lily Chou Chou (dok. Film Movement/All About Lily Chou Chou)
All About Lily Chou Chou (dok. Film Movement/All About Lily Chou Chou)

All About Lily Chou Chou adalah film yang memakai perspektif dua remaja di Jepang. Meski tak saling berkaitan, keduanya punya satu kesamaan, yakni mengidentifikasi diri sebagai penggemar berat musisi bernama Lily Chou Chou. Meski terdengar seperti film coming of age, ceritanya cukup suram. Mereka membentuk koneksi yang beragam terhadap persona si idola dan menariknya, itu mencerminkan apa yang mereka hadapi di dunia nyata: perundungan dan alienasi.

2. Perfect Blue (1997)

Perfect Blue (dok. IFC Films/Perfect Blue)
Perfect Blue (dok. IFC Films/Perfect Blue)

Perfect Blue adalah contoh ekstrem hubungan parasosial yang terbentuk antara seorang idol perempuan dengan penggemarnya. Mima Kirigoe adalah penyanyi sukses yang kariernya menanjak gara-gara keterlibatannya di sebuah girl group. Namun, saat ia mengumumkan mundur dari grup untuk fokus berakting, banyak penggemar yang kecewa. Mima menemukan dirinya punya penguntit yang menerornya. Kombinasi antara teror penguntit dan jalan cerita film yang sedang digarapnya bikin Mima kesulitan membedakan mana realitas dan ilusi.

3. We’re All Going to the World’s Fair (2021)

We’re All Going to the World’s Fair (dok. Utopia/We’re All Going to the World’s Fair)
We’re All Going to the World’s Fair (dok. Utopia/We’re All Going to the World’s Fair)

Ini adalah film debut Jane Schoenbrun yang memotret kehidupan seorang remaja bernama Casey (Anna Cobb). Terisolasi dan kesepian, Casey menemukan dorongan untuk berinteraksi dengan manusia lain lewat internet. Satu hari, ia menemukan sayembara yang membuatnya merasa diapresiasi. Sayembara itu tepatnya sebuah tantangan mendokumentasikan perubahan fisik dan mentalnya setelah mengalami kejadian supranatural. Secara umum, film ini mencoba melihat seberapa besarnya pengaruh opini warganet terhadap keputusan kita.

4. Her (2013)

Her (dok. Annapurna Pictures/Her)
Her (dok. Annapurna Pictures/Her)

Her juga bisa dilihat sebagai bentuk relasi parasosial. Premisnya tentang seorang pria kesepian yang menjalin hubungan romantis dengan sosok maya yang dibuat dengan program kecerdasan buatan. Semua berjalan lancar sampai berbagai hal mengganggu terjadi, termasuk munculnya revelasi kalau ia bukan satu-satunya pasangan romantis si sosok maya itu.

5. Vertigo (1958)

Vertigo (dok. IFC Films/Vertigo)
Vertigo (dok. IFC Films/Vertigo)

Vertigo adalah film lawas garapan Alfred Hitchcock yang dibuat dengan pendekatan psikologi. Ia mengikuti Scottie (James Stewart), mantan pengacara dan polisi yang direkrut seseorang jadi detektif swasta. Ia diminta menyelidiki seorang perempuan. Namun, dalam prosesnya ia justru jatuh cinta pada target observasinya itu. Saat si target tewas, Scottie justru terjerembab dalam trauma dan halusinasi tak berkesudahan. Ia jadi terobsesi pada sosok perempuan lain yang menurutnya mengingatkannya pada sang mendiang.

6. He Loves Me, He Loves Me Not (2002)

He Loves Me, He Loves Me Not (dok. TF1 Films Production/He Loves Me, He Loves Me Not)
He Loves Me, He Loves Me Not (dok. TF1 Films Production/He Loves Me, He Loves Me Not)

Seperti Scottie, lakon di film ini, Angelique (Audrey Tautou) terobsesi pada seseorang yang sebenarnya tidak pernah balik menyukainya. Dikemas dalam format nonlinear, kita akan diajak mengikuti hubungan romantis Angelique dengan seorang pria yang sebenarnya sudah menikah. Meski dikritik banyak orang, Angelique tak ambil pusing. Bahkan pacar gelapnya rela meninggalkan sang istri untuk bersamanya. Namun, yang sebenarnya terjadi tidak sesederhana itu.

7. Swarm (2023)

Swarm (dok. Amazon Prime/Swarm)
Swarm (dok. Amazon Prime/Swarm)

Swarm sebenarnya adalah miniseri yang mendiskusikan hubungan parasosial dari perspektif Dre (Dominique Fishback), perempuan muda yang merupakan bagian dari klub penggemar seorang bintang pop. Namun, kekagumannya pada sang bintang ternyata mempengaruhi keputusan-keputusannya. Beberapa bahkan cukup fatal dan susah untuk diterima akal sehat. Miniseri ini dibuat Donald Glover dan Janine Nabers, dan sempat meraih beberapa nominasi Emmy.

Sesuai dengan teori yang ditulis Horton dan Wohl, relasi parasosial di film-film tadi umumnya menjangkiti orang-orang yang terisolasi dan kesepian. Sangat natural menurut dua ilmuwan tadi untuk mereka mencari penghiburan dan kenyamanan dari mana saja, termasuk lewat persona yang tak pernah mereka temui di dunia nyata.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Diana Hasna
EditorDiana Hasna
Follow Us

Latest in Hype

See More

8 Meme Anime tentang Makan Siang, Ada Banyak Drama!

06 Mar 2026, 23:13 WIBHype