IMGR 2026: Film Horor Pabrik Beririsan dengan Isu Sosial dan Ekonomi

Genre horor seakan menjadi zona nyaman bagi para filmmaker dan rumah produksi untuk meraup keuntungan. Hal ini tidak selalu negatif, karena banyak film horor berkualitas yang sudah dirilis.
Di sisi lain, film horor Indonesia hadir dengan identitas baru, yaitu blue-collar horror. Hal ini semakin dipertegas dengan film-film horor yang berlatarkan pabrik dan karakter utamanya adalah kelas pekerja.
1. Blue-collar horror menjadi identitas baru film horor Indonesia

Blue-collar horror menjadi identitas baru film horor Indonesia, seperti Zona Merah (2022), Hutang Nyawa (2023), Pabrik Gula (2024), Qodrat 2 (2025), Angkara Murka (2025), dan Perempuan Pembawa Sial (2025). Semua karakter utama serial dan film di atas adalah kelas pekerja yang mendapat perlakuan tidak adil, serta berlatarkan di sebuah pabrik.
Sebelumnya, karakter monster selalu diasosiasikan dengan hantu, tapi saat ini, para pengusaha memangsa pekerja, mesin yang tidak aman, tempat kerja toxic, dan beban psikologis tanpa henti menjadi definisi monster baru. Genre horor saat ini mampu mengaburkan batasan antara fiksi dan kenyataan.
2. Indonesia mengawinkan genre horor dengan isu sosial dan ekonomi

Film horor Indonesia saat ini beririsan erat dengan isu-isu sosial dan ekonomi yang sedang ramai diperbincangkan di Tanah Air. Tema-tema yang mudah ditemui di film-film horor saat ini tentang upah stagnan, eksploitasi tenaga kerja, jebakan utang, hingga pengabaian perlindungan bagi pekerja.
Maka tidak mengherankan kalau penonton merasakan ketakutan nyata tentang pekerjaan, ketidakadilan, dan perjuangan bertahan hidup saat menyaksikan film horor Indonesia. Film horor berlatarkan pabrik dianggap lebih mudah dipahami oleh penonton yang cenderung ingin mendapat hiburan yang memacu adrenalin dan membuat bulu kuduk berdiri.
3. Perbedaan cara pandang Milenial dan Gen Z terhadap film horor berlatarkan pabrik

Ada perbedaan cara pandang film horor berlatarkan pabrik antara Milenial dan Gen Z. Bagi Milenial, horor berlatarkan pabrik mengingatkan mereka dengan era reformasi pasca 1998, ketika PHK massal, penutupan pabrik, dan rekstrukturisasi ekonomi yang kacau meninggalkan luka mendalam.
Di sisi lain, Gen Z justru berbicara tentang kecemasan, seperti pemberontakan terhadap ketidaksetaraan, ketidakpastian ekonomi, dan hak perlindungan di dunia kerja yang tidak pasti. Uniknya, film horor berlatar pabrik menjadi mekanisme koping bagi mereka yang rentan dan merasa ditinggalkan.
Film horor berlatarkan pabrik tidak selalu bertujuan menakut-nakuti, tetapi mengungkap, menantang, dan menjadi saksi dari isu di sekitar kita. Terlebih lagi ketika isu-isu tersebut dibalut dengan mise en scene yang menghibur, memanjakan mata, dan berkualitas.
IDN menggelar Indonesia Summit 2025, sebuah konferensi independen yang khusus diselenggarakan untuk dan melibatkan generasi Milenial dan Gen Z di Tanah Air. Dengan tema "Theme: Thriving Beyond Turbulence Celebrating Indonesia's 80 years of purpose, progress, and possibility". IS 2025 bertujuan membentuk dan membangun masa depan Indonesia dengan menyatukan para pemimpin dan tokoh nasional dari seluruh nusantara.
IS 2025 diadakan pada 27 - 28 Agustus 2025 di Tribrata Dharmawansa, Jakarta. Dalam IS 2025, IDN juga meluncurkan Indonesia Millennial and Gen-Z Report 2026.
Survei ini dikerjakan oleh IDN Research Institute. Melalui survei ini, IDN menggali aspirasi dan DNA Milenial dan Gen Z, apa nilai-nilai yang mendasari tindakan mereka. Survei dilakukan pada Februari sampai April 2025 dengan studi metode campuran yang melibatkan 1.500 responden, dibagi rata antara Milenial dan Gen Z.
Survei ini menjangkau responden di 12 kota besar di Indonesia, antara lain Jabodetabek, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Denpasar, Medan, Palembang, Solo, Banjarmasin, Balikpapan, dan Makassar.