Kamila Andini: Indonesia Belum Jadi Top of Mind Film Asia

Kamila Andini ungkap film Indonesia belum menjadi pilihan utama dalam sinema Asia, termasuk Asia Tenggara, yang lebih mengenal karya dari Thailand dan Filipina.
Festival film internasional menjadi ruang bagi sineas Indonesia mencari pendanaan, memperkenalkan budaya serta cerita lokal, dan meningkatkan perhatian global terhadap film Indonesia.
Kamila Andini menyesuaikan versi film untuk festival atau bioskop; Empat Musim Pertiwi akan tayang perdana di Indonesia pada 8 Oktober 2026.
Kamila Andini kembali melebarkan sayapnya di Toronto International Film Festival 2026 lewat film Empat Musim Pertiwi (2026). Film tersebut mencuri perhatian sineas internasional, lantaran kembali menggandeng Putri Marino yang sempat berkerja sama dengan Kamila Andini lewat Gadis Kretek (2023).
Lewat wawancaranya bersama dengan Variety, Kamila Andini berkata bahwa film Indonesia belum menjadi top of mind di Asia Tenggara. Maka dari itu, festival film internasional menjadi wadah untuk memperkenalkan karya anak bangsa ke luar negeri. Simak kata Kamila Andini berikut ini, ya!
1. Kamila Andini sebut pentingnya Indonesia ikut festival film karena belum jadi top of mind, bahkan di Asia Tenggara

Film Yuni garapan Kamila Andini menyabet penghargaan Platform Prize di TIFF 2021 (Dok. Fourcolours Films) Menurut Kamila Andini, film Indonesia belum menjadi top of mind di pasar perfilman internasional. Bahkan di pasar Asia Tenggara, Indonesia masih kalah dari Thailand dan Filipina yang lebih dikenal global.
"Indonesia bukanlah negara yang langsung terlintas di benak siapa pun ketika berbicara tentang sinema Asia. Kita bahkan bukan yang pertama terlintas di benak di Asia Tenggara, karena Thailand dan Filipina lebih dikenal," ungkapnya.
Sebagai contoh, film How to Make Millions Before Grandma Dies yang tayang pada 15 Mei 2024 di Indonesia berhasil membuat 3 juta penonton ikut menangis. Film asal Thailand yang disutradarai oleh Pat Boonnitipat ini masuk shorlist atau 15 besar Best International Feature Film di Oscar ke-97.
2. Festival film jadi wadah untuk memperkenalkan film Indonesia ke luar negeri

potret Kamila Andini (instagram.com/kamilaandini) Maka dari itu, festival film internasional menjadi wadah bagi para sineas unjuk gigi di kancah global. Kamila Andini dan sineas Indonesia lain rutin membuat film yang memang diperuntukkan untuk berpartisipasi ke pasar internasional.
Bagi para sineas, terpilih untuk mengikuti project market festival film internasional tidak hanya untuk mendapat suntikan dana, tapi juga memperkenalkan cerita dan budaya Indonesia. Film yang berhasil menggelar world premiere atau memenangkan penghargaan di festival internasional pun akan semakin diperhitungkan. Hal ini turut membuka jalan bagi film dan sineas Indonesia lain untuk unjuk gigi.
3. Kamila Andini biasanya membuat versi film berbeda untuk festival dan bioskop komersil

Kamila Andini (Instagram.com/kamilandini) Namun, tidak semua film bisa tembus festival film lokal, maupun internasional. Kamila Andini sendiri memiliki strategi khusus saat memproduksi film khusus festival atau bioskop komersil.
Saat mengirimkan Yuni pada 2021, TIFF memberikan umpan balik bahwa film tersebut menghadirkan terlalu banyak karakter. Maka dari itu, ia memangkas beberapa karakter, serta mengerjakan ulang film Yuni yang berbeda dari versi festival. Di sisi lain, Sekala Niskala melaju dengan sukses di Toronto International Film Festival 2017 karena hanya memiliki sedikit karakter.
Khusus untuk Empat Musim di Pertiwi (2026), Kamila Andini tidak ingin menahan diri dengan memangkas karakter-karakternya. Meski begitu, film ini tetap relate karena visual orang Asia terkadang mirip dengan penonton Amerika Serikat.
Tidak hanya itu, Kamila Andini juga ingin penonton internasional lebih mengenal semangat dan kekompakan masyarakat Indonesia lewat film tersebut. Empat Musim di Pertiwi akan tayang perdana di bioskop Indonesia pada 8 Oktober 2026. Sudah siapkah kamu bertemu Pertiwi?





















