Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Kontroversi Serial Harry Potter HBO, Diprediksi Gagal?

5 Kontroversi Serial Harry Potter HBO, Diprediksi Gagal?
cuplikan adegan dalam serial Harry Potter HBO (dok. HBO Entertainment/Harry Potter and the Philosopher's Stone)
Intinya Sih
  • Serial Harry Potter HBO Max dijadwalkan tayang Natal 2026, namun sejak trailer dirilis sudah menuai perdebatan dan kritik dari penggemar di media sosial.
  • Kontroversi muncul karena pemilihan pemeran Paapa Essiedu sebagai Severus Snape serta keterlibatan J.K. Rowling yang masih dianggap bermasalah oleh sebagian publik.
  • Banyak penggemar menilai reboot ini tidak perlu karena film aslinya sudah sukses, sementara sebagian lainnya lebih berharap pada spin-off seperti kisah Marauders.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Dalam industri Hollywood, sesuatu yang lama bisa disulap menjadi baru lagi. Hampir semua hal dalam dunia hiburan saat ini memang kebanyakan didasarkan pada atau merupakan daur ulang dari kekayaan intelektual yang sudah ada. Dalam artian, studio enggan menciptakan ide-ide baru, dan lebih memilih setia pada karya yang punya jaminan lebih baik untuk menghasilkan keuntungan. Namun, hal ini belum tentu berhasil.

Teaser trailer serial Harry Potter HBO Max yang berjudul Harry Potter and the Philosopher's Stone sudah rilis pada Kamis, (26/03/2026). Sampai artikel ini ditulis, trailer tersebut sudah ditonton lebih dari 8 juta orang. Adapun, showrunner Francesca Gardiner dan Mark Mylod, akan menjabat sebagai produser eksekutif dan sutradara. Serial ini digadang-gadang akan tayang pada Hari Natal 2026 mendatang.

Sayangnya, sejak pertama kali diumumkan dan bahkan ketika trailernya dirilis, serial Harry Potter ini justru diperdebatkan oleh netizen di media sosial. Apalagi dipilihnya Paapa Essiedu sebagai Severus Snape, yang dianggap rasis. Mengingat Essiedu adalah aktor berkulit hitam.

Kalau kamu perhatikan, ada beberapa kontroversi serial Harry Potter yang bertebaran. Penasaran? Mari kita bahas satu per satu, ya!

1. Film-film Harry Potter berhasil menyelesaikan tugasnya dengan sukses, jadi reboot-nya dianggap gak perlu

Harry Potter and the Sorcerer's Stone
Harry Potter and the Sorcerer's Stone (dok. Warner Bros. Pictures/Harry Potter and the Sorcerer's Stone)

Dalam sebuah wawancara dengan The Independent, Jared Harris—seorang aktor produktif yang dikenal karena penampilannya di Chernobyl, Mad Men, dan Morbius—memberikan pendapatnya tentang isu reboot Harry Potter. Jared Harris sendiri adalah anak dari mendiang Richard Harris, aktor yang memerankan Albus Dumbledore dalam film Harry Potter. Apa yang dibilang Harris ada benarnya juga.

Jarred Harris bilang kalau dia gak mau memerankan Dumbledore dalam serial Harry Potter baru jika ditawari. Harris menjawab dengan cukup blak-blakan. "Maksudku, kenapa harus melakukannya? Aku gak paham. Film-filmnya fantastis. Jadi biarkan saja."

Buku-buku karya Joanne Kathleen (J.K.) Rowling yang beredar pada 1997 ini menjadi buku terlaris internasional. Dari sinilah bukunya diadaptasi menjadi film yang berjudul Harry Potter and the Sorcerer's Stone (Philosopher's Stone) yang tayang di bioskop pada 2001. Meskipun film-filmnya gak sama persis seperti di bukunya, film-film Harry Potter sukses besar dan jadi waralaba.

Bagi kamu generasi yang menikmati film-film Harry Potter dan menjadi penggemar berat Harry Potter, film ini menjadi film yang gak bisa dilupakan dari ingatan. Bahkan ketika film terakhirnya dirilis pada 2011 silam. Jadi, film ini dianggap gak butuh reboot.

2. Pandangan J.K. Rowling yang kontroversial

J.K. Rowling
J.K. Rowling (commons.wikimedia.org/Daniel Ogren)

Beberapa tahun terakhir, J. K. Rowling menjadi sosok yang kontroversial. Ia mengungkapkan pandangannya tentang transgender yang dianggap berbahaya dan menjijikkan dengan kedok "feminisme." Rowling juga menegaskan kalau dia adalah pembela hak-hak perempuan.

J.K. Rowling mengungkapkan kalau nama pena "J.K." digunakannya agar terkesan lebih maskulin dan menarik bagi lebih banyak pembaca, terutama anak muda. Sama halnya dengan nama pena Rowling lainnya, Robert Galbraith. Bagi penggemar Harry Potter, pandangan Rowling inilah yang membuat serial Harry Potter kehilangan daya tariknya.

Sebagai pemilik dan pencipta segala hal tentang Harry Potter, J.K. Rowling pun dilibatkan dalam pembuatan ulang film tersebut, seperti halnya dengan franchise film aslinya. Ia dipilih menjadi produser eksekutif. Casey Bloys bahkan sengaja melibatkan Rowling dan membelanya dengan mengatakan, "Harry Potter adalah kisah yang sangat afirmatif dan positif tentang cinta dan penerimaan diri, dan wawasan Rowling akan sangat membantu dalam hal itu," seperti dilansir IndieWire.

3. Pemilihan pemeran yang kontroversial

Severus Snape dalam serial Harry Potter HBO
Severus Snape dalam serial Harry Potter HBO (dok. HBO Entertainment/Harry Potter and the Philosopher's Stone)

Tentu ada beberapa kekurangan dari film Harry Potter, tetapi satu hal tentang waralaba film itu yang dianggap paling sempurna adalah pemilihan pemerannya. Pertama, direktur casting film pertama, Susan Figgis, menemukan trio yang sempurna dalam diri Daniel Radcliffe, Rupert Grint, dan Emma Watson, yang memerankan Harry Potter, Ron Weasley, dan Hermione Granger sepanjang waralaba film tersebut. Ketiga anak ini pada akhirnya dicintai oleh jutaan orang di seluruh dunia. Mungkin juga termasuk kamu, kan?Di sisi lain, mereka tumbuh dewasa di layar dan terus memerankannya. Radcliffe, Grint, dan Watson sangat ideal untuk peran mereka, dan itu berlanjut hingga peran dewasa mereka dalam film Harry Potter.

Ada juga Dame Maggie Smith (sebagai profesor Transfigurasi Minerva McGonagall yang tegas tapi berhati besar), Alan Rickman (sebagai guru Ramuan Severus Snape yang dikenal sinis), Ralph Fiennes (sebagai Pangeran Kegelapan Voldemort), dan banyak aktor kawakan lainnya seperti Helena Bonham Carter, Kenneth Branagh, Gary Oldman, Julie Walters, Jim Broadbent, dan Imelda Staunton. Sayangnya, dalam serialnya, pemilihan peran justru sangat diperdebatkan, terutama dengan hadirnya Paapa Essiedu sebagai Severus Snape. Essiedu, yang dikenal dari Black Mirror dan I May Destroy You, hanya tampil sekilas dalam trailer serialnya, saat ia mengucapkan mantra di lorong gelap di Sekolah Sihir Hogwarts.

Bagi kamu yang mungkin pernah membaca buku atau menonton filmnya, pasti tahu kalau Severus Snape adalah karakter yang sangat penting dalam keseluruhan cerita. Ketika berita tersebar bahwa Paapa Essiedu akan memerankan Severus Snape dalam serial Harry Potter dan menggantikan mendiang Alan Rickman, yang meninggal pada tahun 2016—beberapa penggemar ngasih komentar yang gak pantas tentang pemilihan Essiedu. Mengingat dalam bukunya, Severus Snape digambarkan berkulit putih dan pucat. Gak hanya itu, Essiedu mengaku diancam mau dibunuh, lho.

4. Spin-off Harry Potter lebih ditunggu ketimbang reboot-nya

cuplikan adegan dalam serial Harry Potter HBO
cuplikan adegan dalam serial Harry Potter HBO (dok. HBO Entertainment/Harry Potter and the Philosopher's Stone)

Nah, bagaimana jika alih-alih membuat reboot dari film Harry Potter, kenapa gak dibuat prekuelnya saja, seperti cerita Marauders? Dalam buku dan film ketiga, Harry Potter and the Prisoner of Azkaban, kita tahu kalau mendiang ayah Harry, James Potter, dan sahabat-sahabatnya, Sirius Black, Remus Lupin, dan Peter Pettigrew—yang masing-masing diperankan oleh Gary Oldman, David Thewlis, dan Timothy Spall, terlibat dalam banyak masalah di sekolah. Mereka bukan hanya Animagus rahasia—karena James, Sirius, dan Peter bisa berubah menjadi rusa, anjing, dan tikus sesuka hati untuk menemani Remus, seorang manusia serigala, selama transformasinya setiap bulan—tetapi mereka juga menciptakan benda ajaib yang dikenal sebagai Peta Marauder yang melacak jejak orang-orang yang ada di Hogwarts. Kenapa gak dibuat serial tentang itu? Padahal itu jauh lebih ditunggu-tunggu.

5. Serial Harry Potter dianggap terlalu gelap

Namun, terlepas dari semua itu, mungkin kamu sepakat kalau serial Harry Potter HBO terlihat sangat gelap. Yap, maksudnya efek pencahayaannya. Bahkan pembawa acara Pop Culture Crisis, Brett Dasovic, yang antusias dengan serial reboot Harry Potter, mengakui kalau hal ini memang benar. Dalam sebuah unggahan di X, Dasovic bilang kalau pewarnaan di kastil, yaitu Sekolah Sihir Hogwarts, terasa seperti Harry Potter klasik. Efek warnanya terasa sangat modern dan menyedihkan.

Setidaknya, gaya visual yang lebih gelap dan suram ini memperkuat anggapan kalau serial ini lebih menargetkan generasi milenial daripada Generasi Z atau Alpha (alias generasi pencinta film berikutnya). Yap, mengingat dalam filmnya, efek pencahayaannya gak gelap-gelap banget. Kamu setuju gak, nih?

Banyak banget penggemar Harry Potter yang kangen dengan dunia sihir Harry dan kawan-kawannya. Film-filmnya mungkin sudah kamu tonton berkali-kali dan gak pernah bosan. Namun, dengan adanya serial Harry Potter HBO Max, kamu juga jadi penasaran apa yang akan ditampilkan dalam serial ini. Itu sebabnya banyak perdebatan yang akhirnya berujung pada kontroversi. Sabar dulu, deh. Serial Harry Potter HBO Max ini baru akan tayang pada Natal 2026 mendatang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Naufal Al Rahman
EditorNaufal Al Rahman
Follow Us

Latest in Hype

See More