Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Lagu yang Sengaja Ditulis untuk Menyindir Artis Lain
Kendrick Lamar (facebook.com/Kendrick Lamar)
  • Kendrick Lamar merilis “Meet The Grahams” pada 2024 dalam perseteruannya dengan Drake, berisi surat-surat bernada gelap kepada keluarga Drake serta tuduhan tentang kehidupan pribadinya.
  • Paul Simon menjadikan dinamika hubungan rumitnya dengan Carrie Fisher sebagai inspirasi “Hearts and Bones”; Fisher mengaku menyukai lagu-lagu tersebut meski sebagian liriknya terasa menyakitkan.
  • Neil Young, Graham Nash, dan The Strokes memakai lagu untuk menyindir target politik maupun kritikus: George W. Bush, Donald Trump serta gerakan MAGA, dan reviewer musik Anthony Fantano.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Musik tidak selalu menjadi tempat untuk mencurahkan rasa cinta, patah hati, atau pengalaman pribadi. Bagi sejumlah musisi, lagu juga bisa menjadi senjata untuk menyampaikan kritik, kemarahan, bahkan sindiran kepada orang yang mereka anggap bermasalah. Tidak mengherankan jika beberapa lagu akhirnya terdengar jauh lebih pedas daripada sekadar kritik biasa.

Menariknya, target sindiran tersebut tidak selalu datang dari dunia musik. Ada lagu yang ditujukan kepada mantan pasangan, tokoh politik, hingga figur publik yang dianggap terlalu banyak bicara. Beberapa bahkan begitu terang-terangan sampai pendengar tidak perlu menjadi detektif untuk mengetahui siapa yang sedang disindir.

Berikut lima lagu pedas yang pernah digunakan musisi untuk melontarkan kritik kepada selebritas atau figur publik lain. Apakah kamu menyadarinya?

1. Kendrick Lamar – “Meet The Grahams”

Perseteruan Kendrick Lamar dan Drake menghasilkan sejumlah lagu diss yang kemudian menjadi pembicaraan besar di dunia musik. Salah satu yang paling brutal adalah “Meet The Grahams”, lagu yang dirilis Kendrick pada 2024 ketika perseteruan keduanya sedang memanas. Dibandingkan dengan “Not Like Us” yang lebih mudah dikenali sebagai lagu hit, “Meet The Grahams” terasa jauh lebih gelap dan personal.

Kendrick bahkan menyusun lagunya seperti serangkaian surat yang ditujukan kepada anggota keluarga Drake. Dalam lagu tersebut, Kendrick melontarkan berbagai tuduhan dan kritik tajam terhadap Drake serta kehidupan pribadinya. Ia berbicara kepada putra Drake, orang tua Drake, dan bahkan menyebut keberadaan seorang anak perempuan yang diklaim tidak diketahui publik pada saat itu.

2. Paul Simon – “Hearts and Bones”

Hubungan Paul Simon dan Carrie Fisher bisa dibilang jauh dari kata sederhana. Keduanya pernah berpacaran, bertunangan, berpisah, kembali bersama, menikah, hingga akhirnya bercerai. Dengan kehidupan asmara yang penuh lika-liku tersebut, tidak mengherankan jika hubungan mereka kemudian menjadi sumber inspirasi bagi sejumlah karya Simon.

“Hearts and Bones” menjadi salah satu lagu yang memperlihatkan bagaimana pengalaman pribadi mereka dituangkan ke dalam musik. Menariknya, Simon tidak selalu menggambarkan hubungan tersebut dengan cara manis. Ada sejumlah bagian yang terasa seperti sindiran atau kritik terhadap dinamika mereka, sehingga lagunya terdengar cukup personal.

Namun, Fisher justru pernah mengatakan bahwa dirinya menyukai lagu-lagu yang ditulis Simon tentang hubungan mereka, bahkan ketika ada bagian yang terasa menyakitkan atau menghina.

3. Neil Young – “Let’s Impeach the President”

Neil Young sudah lama dikenal sebagai musisi yang tidak takut memasukkan pandangan politik ke dalam karya-karyanya. Salah satu contoh paling gamblang adalah “Let’s Impeach the President”, lagu yang dirilis pada 2006 dan secara langsung menyasar pemerintahan George W. Bush. Dari judulnya saja, pendengar sudah bisa mengetahui bahwa Young tidak sedang berusaha menyampaikan kritik secara halus.

Lagu tersebut menjadi bentuk protesnya terhadap kebijakan dan kepemimpinan Bush. Yang membuat lagu ini semakin menarik adalah bahwa Young memang sengaja membuat musiknya terasa mengganggu. Ia bahkan menanggapi kritik terhadap melodi lagu yang dianggap buruk dengan mengatakan bahwa musik yang repetitif dan menyebalkan justru sesuai dengan tujuannya.

Dengan kata lain, rasa kesal yang muncul ketika mendengarkannya memang bagian dari konsep. Young seolah ingin membuat pendengar merasakan sedikit dari frustrasi politik yang menjadi dasar penulisan lagu tersebut.

4. Graham Nash – “Golden Idols”

Graham Nash juga menggunakan musik sebagai sarana untuk menyuarakan kegelisahan politiknya. Dalam “Golden Idols”, yang terdapat dalam album Now (2023), Nash menyampaikan kritik keras terhadap gerakan MAGA dan Donald Trump. Lagu tersebut memperlihatkan bahwa usia tidak membuat Nash kehilangan keberanian untuk membicarakan isu yang menurutnya penting.

Baginya, musik tetap menjadi salah satu cara untuk menyampaikan pendapat dan mempertanyakan arah politik negaranya. Nash memang memiliki sejarah panjang dalam membuat lagu yang berkaitan dengan persoalan sosial dan politik. Ia memandang kebebasan untuk mengkritik pemerintah sebagai bagian penting dari kehidupan demokratis.

Karena itu, “Golden Idols” bukan sekadar lagu yang menyerang seorang figur politik, tetapi juga menjadi bentuk kekhawatiran Nash terhadap kondisi masyarakat Amerika. Pesannya terasa lebih seperti seruan agar orang tidak takut menggunakan suara mereka ketika melihat sesuatu yang dianggap keliru.

5. The Strokes – “Lonely in the Future”

Tidak semua lagu sindiran harus diarahkan kepada politisi atau rival sesama musisi. The Strokes memberikan contoh yang cukup unik lewat “Lonely in the Future” ketika Julian Casablancas terdengar menyindir kritikus musik dan YouTuber Anthony Fantano. Bagi banyak pendengar, keputusan untuk memasukkan nama atau referensi kepada seorang reviewer musik terasa cukup tidak biasa untuk sebuah band rock sebesar The Strokes.

Apalagi, Fantano dikenal sebagai kritikus yang sering memberikan penilaian terbuka terhadap album-album musisi. Dalam lagu tersebut, Casablancas menyampaikan kalimat yang dianggap sebagai sindiran langsung terhadap Fantano dan cara sang reviewer membahas musik. Kritiknya terasa personal karena menyentuh persoalan kemampuan seseorang dalam memahami seni.

Dari perseteruan Kendrick Lamar dan Drake hingga kritik politik Neil Young dan Graham Nash, para musisi tersebut menunjukkan bahwa lagu bisa menjadi media untuk menyampaikan kemarahan dengan cara yang sangat kreatif. Dari kelima lagu tersebut, mana yang menurutmu paling pedas dan paling berani dalam menyindir targetnya?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article