Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

5 Penyebab Supergirl Melempem di Box Office, Sudah Nonton?

5 Penyebab Supergirl Melempem di Box Office, Sudah Nonton?
Supergirl (dok. Warner Bros. Pictures/Supergirl)
Intinya Sih
  • Supergirl (2026) gagal bersinar di box office karena ulasan kritikus dan penonton yang biasa saja, meski akting Milly Alcock dan Jason Momoa mendapat pujian.
  • Biaya produksi besar sekitar 170 juta dolar AS membuat tekanan finansial tinggi, sementara pendapatan awal film jauh dari target yang dibutuhkan untuk balik modal.
  • Popularitas Supergirl yang belum sekuat ikon DC lain serta kejenuhan publik terhadap film superhero membuat minat penonton menurun drastis.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Film superhero pernah menjadi jaminan sukses di bioskop. Selama bertahun-tahun, nama besar karakter komik saja sudah cukup untuk menarik jutaan penonton ke layar lebar. Namun, tren itu mulai berubah. Kini, penonton semakin selektif dan hanya mau datang ke bioskop jika sebuah film benar-benar menawarkan kualitas yang layak untuk ditonton.

Hal itulah yang tampaknya dialami Supergirl (2026). Meski membawa salah satu karakter ikonik DC dan dibintangi Milly Alcock, film ini justru mencatat performa box office yang jauh dari harapan.

Lantas, apa sebenarnya yang membuat Supergirl kesulitan menarik perhatian penonton? Berikut lima penyebab yang diduga menjadi faktor utama di balik kegagalannya.

1. Respons kritikus dan penonton kurang meyakinkan

Supergirl
Supergirl (dok. Warner Bros. Pictures/Supergirl)

Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi Supergirl adalah ulasan yang terbilang biasa saja. Banyak kritikus menilai film ini memiliki potensi besar, tetapi eksekusinya belum mampu memberikan pengalaman yang benar-benar memuaskan. Penilaian penonton juga tidak terlalu tinggi, sehingga antusiasme publik sejak akhir pekan pertama langsung menurun.

Di saat yang sama, bioskop juga dipenuhi pilihan film lain yang mendapat respons jauh lebih positif. Meski begitu, bukan berarti seluruh aspek film ini mengecewakan. Penampilan Milly Alcock sebagai Kara Zor-El justru banyak dipuji karena berhasil menghadirkan sosok Supergirl yang emosional sekaligus tangguh. Jason Momoa sebagai Lobo juga mencuri perhatian.

Sayangnya, akting para pemain dianggap belum cukup untuk menyelamatkan keseluruhan film. Akibatnya, promosi dari mulut ke mulut tidak berkembang dengan baik dan banyak calon penonton memilih menunggu filmnya hadir di layanan streaming.

2. Anggaran produksi terlalu besar

Supergirl
Supergirl (dok. Warner Bros. Pictures/Supergirl)

Masalah lain yang cukup krusial adalah besarnya biaya produksi. Dengan anggaran yang diperkirakan mencapai sekitar 170 juta dolar AS, Supergirl dituntut menghasilkan pendapatan yang sangat tinggi agar dianggap sukses. Untuk bisa balik modal sekaligus memberi keuntungan bagi studio, film seperti ini biasanya harus meraih pendapatan ratusan juta dolar di seluruh dunia.

Sayangnya, performa awalnya justru jauh dari target tersebut. Banyak pengamat menilai pendekatan yang lebih realistis mungkin akan menghasilkan risiko yang lebih kecil. Jika Supergirl dibuat dengan anggaran yang lebih moderat, tekanan terhadap performa box office tentu tidak sebesar sekarang.

Hal ini bukan berarti film superhero yang dipimpin karakter perempuan tidak layak mendapat investasi besar, tetapi kondisi pasar saat ini memang membuat studio harus lebih berhati-hati dalam menentukan besarnya biaya produksi.

3. Popularitas Supergirl belum selevel Superman atau Batman

Supergirl
Supergirl (dok. Warner Bros. Pictures/Supergirl)

Meski dikenal luas oleh penggemar DC, popularitas Supergirl masih belum bisa disamakan dengan Superman, Batman, atau Wonder Woman. Ketiga karakter tersebut telah puluhan tahun menjadi ikon budaya pop dan memiliki sejarah panjang di layar lebar. Sementara itu, Supergirl lebih sering dikenal melalui serial televisi atau kemunculannya sebagai karakter pendukung.

Selain itu, penonton juga baru saja melihat versi lain dari Supergirl lewat film The Flash pada 2023. Pergantian pemeran dan versi karakter dalam waktu yang relatif singkat membuat sebagian penonton belum memiliki keterikatan emosional dengan interpretasi terbaru ini.

Tanpa respons luar biasa dari kritikus maupun promosi yang sangat kuat, film ini akhirnya kesulitan menarik perhatian penonton kasual yang hanya datang ke bioskop untuk karakter-karakter terbesar.

4. DC masih sulit mendapat kepercayaan penonton

Supergirl
Supergirl (dok. Warner Bros. Pictures/Supergirl)

Selama bertahun-tahun, DC dikenal menghasilkan film yang kualitasnya naik turun. Ada film yang sukses besar, seperti The Dark Knight, Wonder Woman, dan Superman, tetapi tidak sedikit pula yang mengecewakan, seperti Justice League, Wonder Woman 1984, hingga The Flash. Inkonsistensi ini membuat banyak penonton menjadi lebih berhati-hati sebelum membeli tiket film DC terbaru.

Berbeda dengan Marvel yang sempat menikmati reputasi konsisten selama lebih dari satu dekade, DC belum pernah benar-benar membangun kepercayaan jangka panjang. Akibatnya, banyak orang memilih menunggu ulasan lebih dulu sebelum menonton. Ketika respons awal terhadap Supergirl ternyata biasa saja, keputusan untuk menunda menonton pun menjadi semakin mudah bagi sebagian besar calon penonton.

5. Film superhero tidak lagi menjadi tontonan wajib

Supergirl
Supergirl (dok. Warner Bros. Pictures/Supergirl)

Beberapa tahun lalu, hampir semua film superhero mampu menghasilkan pendapatan besar hanya berbekal nama karakternya. Kini situasinya sudah berubah drastis. Penonton mulai mengalami kejenuhan karena terlalu banyak film bertema superhero dirilis setiap tahun. Mereka kini lebih memilih film yang benar-benar menawarkan cerita menarik dibandingkan sekadar efek visual atau koneksi ke semesta sinematik.

Perubahan tren ini tidak hanya dirasakan DC, tetapi juga Marvel. Beberapa film superhero terbaru juga tampil di bawah ekspektasi meski berasal dari waralaba terkenal. Artinya, era ketika film superhero otomatis menjadi fenomena box office tampaknya telah berakhir. Supergirl menjadi salah satu contoh terbaru bahwa kualitas, promosi, dan daya tarik cerita kini jauh lebih menentukan dibandingkan sekadar nama besar karakter komiknya.

Performa Supergirl di box office menunjukkan bahwa membuat film superhero sukses kini jauh lebih sulit dibandingkan satu dekade lalu. Menurutmu, apakah Supergirl memang pantas gagal di box office atau justru film ini sebenarnya lebih baik daripada yang dibicarakan banyak orang?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Curated For You
Topics
Editorial Team
Naufal Al Rahman
EditorNaufal Al Rahman

Related Articles

See More