Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

PoV ⁠Liputan Prambanan Jazz Festival 2026, Beda Hari Beda Vibes!

PoV ⁠Liputan Prambanan Jazz Festival 2026, Beda Hari Beda Vibes!
momen nonton Prambanan Jazz Festival 2026 (IDN Times/Elizabeth Chiquita)
Intinya Sih
  • Prambanan Jazz Festival 2026 berlangsung tiga hari di pelataran Candi Prambanan, menghadirkan pengalaman unik dengan suasana magis dan tantangan logistik sejak persiapan hingga liputan selesai.
  • Hari kedua menjadi puncak emosi dengan penonton membludak, sinyal hilang, serta insiden sesak di area konser NIKI yang membuat banyak penonton nyaris pingsan namun tetap dijaga tim medis.
  • Hari terakhir menampilkan kolaborasi lintas generasi dari Fariz RM hingga The Rose, menutup festival dengan nuansa nostalgia dan energi muda meski masih ada masalah zonasi tempat duduk penonton.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Yogyakarta, IDN Times - Menghabiskan akhir pekan di Pelataran Candi Prambanan untuk gelaran Prambanan Jazz Festival (PJF) 2026 meninggalkan kesan yang mendalam sekaligus melelahkan. Selama tiga hari berturut-turut, saya merasakan emosi yang naik-turun, mulai dari kepanikan saat persiapan hingga euforia luar biasa di depan panggung.

Benar apa kata orang, penampilan tersebut terasa berbeda dari festival musik biasanya. Candi Prambanan memberikan vibe tersendiri yang membuatnya menjadi magis. Berikut adalah catatan perjalanan dan pengalaman saya selama tiga hari bergoyang di bawah bayang-bayang candi megah tersebut.

1. Persiapan serba tiba-tiba

konferensi pers Prambanan Jazz Festival 2026 pada Kamis (2/7/2026) (
konferensi pers Prambanan Jazz Festival 2026 pada Kamis (2/7/2026) (IDN Times/Elizabeth Chiquita)

Pengalaman PJF tahun ini dimulai dengan cukup grasak-grusuk. Saya baru mendapat kepastian tiket hanya beberapa jam sebelum keberangkatan ke Yogyakarta. Persiapan pun jadi super mepet. Salah satu elemen penting pada outfit saya, sebuah obi belt batik dari online shop, bahkan belum sampai karena estimasi pengiriman meleset sehari.

Sampai di Stasiun Yogyakarta pada Kamis (2/7/2026) pukul 14.30 WIB, drama berlanjut dengan sulitnya mendapatkan transportasi online menuju hotel. Alhasil, saya harus berpacu dengan waktu agar tidak terlambat mengikuti sesi press conference di area candi. Beruntung, semuanya masih bisa terkejar meski napas sudah hampir habis.

Di sana, saya berkenalan dengan sejumlah media lokal Yogyakarta. Berkat perkenalan itu, saya jadi mendapat tumpangan keluar area Candi Prambanan, mengingat transportasi daring tidak diperbolehkan untuk masuk ke sana.

2. Day 1: Suasana yang syahdu dan dingin

angkringan yang jadi konsumsi tim media di Prambanan Jazz Festival 2026
angkringan yang jadi konsumsi tim media di Prambanan Jazz Festival 2026 (IDN Times/Elizabeth Chiquita)

Hari pertama dibuka dengan pemandangan Candi Prambanan yang megah. Saya berangkat bersama beberapa media lain dari hotel menuju Candi Prambanan. Satu hal yang saya sadari, banyak pengunjung yang kebingungan mencari pintu masuk festival, karena jalurnya menyatu dengan gerbang utama wisata candi. Namun, begitu masuk ke area festival, suasana terasa sangat menyenangkan.

Di hari itu, saya sempat mencicipi konsumsi Angkringan Doremi yang disediakan tim promotor. Mereka menyediakan nasi kucing beserta sate pendampingnya yang bikin jadi kerasa banget vibes Jogja-nya.

Meskipun ramai, area panggung belum terasa terlalu menyesakkan. Nilai plus lainnya adalah cuaca Yogyakarta yang sangat bersahabat. Siangnya tidak terasa terik dan saat malam hari tiba, udaranya justru berubah menjadi sangat dingin hingga menusuk tulang. Di situ, saya baru selesai meliput pukul 23.45 WIB dan mengejar shuttle kembali menuju hotel.

3. Day 2: Hampir pingsan!

momen nonton Prambanan Jazz Festival 2026 (IDN Times/Elizabeth Chiquita)
momen nonton Prambanan Jazz Festival 2026 (IDN Times/Elizabeth Chiquita)

Hari kedua adalah puncak dari segala emosi. Cuaca terasa lebih hangat dan penonton jauh lebih membeludak. Masalah klasik perkonseran muncul di hari kedua. Sinyal ponsel benar-benar hilang dan wifi di media lounge tidak bisa diandalkan sama sekali. Saya pun mengalami kesulitan untuk mengirimkan video liputan atau artikel. Bahkan untuk bertukar pesan di WhatsApp saja, sinyalnya tidak mampu.

Namun, keberuntungan datang saat saya tak sengaja berpapasan dengan Leya Princy di tengah momen menonton penampilan Kunto Aji. Meski sedang di jam bebasnya, ia sangat ramah dan bersedia diajak membuat konten singkat.

"Aku ngejar Margie Segers, aku emang udah ngoleksi vinyl-nya," ungkap Leya saat diwawancarai pada Sabtu (4/7/2026).

Waktu berlalu, suasana konser yang seru berubah jadi mencekam saat memasuki sesi penampilan NIKI. Terjadi deadlock alias kemacetan parah antara penonton Kahitna yang baru keluar dengan penonton NIKI yang merangsek masuk. Alur masuk-keluar yang hanya satu dari kiri, membuat area tengah menjadi sangat sesak dan pengap.

Saya yang berada di depan FOH akhirnya terjebak tak bisa bergerak dan berakhir berkenalan dengan orang asing di kanan-kiri. Dari situ, saya dan teman-teman baru ini bisa saling menjaga ruang gerak dan tas masing-masing. Kami memastikan tetap menikmati konser sambil tertawa-tawa. Rasanya sudah berteman lama, padahal baru kenal di sana.

Di akhir penampilan NIKI, suasana semakin padat sampai banyak penonton yang nyaris pingsan. Tim medis harus bolak-balik membawa kursi roda di tengah kerumunan yang sangat rapat. Mereka juga didampingi para penjaga yang ikut membelah lautan manusia untuk membawa penonton yang lemas beristirahat sebentar di FOH. Salut untuk tim yang berusaha bergerak cepat di tengah lapangan yang penuh tantangan.

Jujur, saya jadi tidak bisa terlalu menikmati suara merdu NIKI, karena lebih fokus berjuang untuk tetap bernapas. Di liputan hari kedua ini, saya baru bisa sampai ke hotel pukul 01.00 WIB dini hari dan tak sempat hapus riasan saking lemasnya.

4. Day 3: Lebih lama di media lounge untuk recharge energi

momen nonton Prambanan Jazz Festival 2026 (IDN Times/Elizabeth Chiquita)
momen nonton Prambanan Jazz Festival 2026 (IDN Times/Elizabeth Chiquita)

Memasuki hari terakhir, saya lebih banyak menghabiskan waktu di media lounge untuk mengisi daya ponsel sekaligus memulihkan tenaga sembari menunggu penampilan Fariz RM. Dari kejauhan, suara dari Guyub Stage dan Rukun Stage terdengar saling bertabrakan.

Hari ketiga pun terasa berlalu begitu cepat. Satu per satu penampil naik dan turun panggung. Berbeda dari dua hari sebelumnya, penonton kali ini didominasi generasi milenial hingga yang lebih senior berkat kehadiran nama-nama, seperti Fariz RM, KLa Project, Jikustik, dan Ari Lasso. Di sisi lain, The Rose menghadirkan lautan penggemar muda. Pemandangan dua generasi yang menikmati festival di area yang sama menjadi salah satu hal yang menarik untuk disaksikan.

Saat The Rose akhirnya tampil, saya memilih menikmati seluruh penampilan mereka tanpa banyak berpindah tempat. Setelah konser usai, saya bersama rekan-rekan media berjalan santai menuju shuttle dengan perasaan lega. Namun, pekerjaan ternyata belum benar-benar selesai. Artikel masih harus ditulis, video masih harus diedit, dan seluruh materi liputan baru benar-benar rampung pada Senin sekitar pukul 03.00 WIB dini hari. Baru saat itulah saya merasa perjalanan meliput Prambanan Jazz Festival 2026 benar-benar berakhir.

5. Tempat duduk di area festival yang bikin bingung

momen nonton Prambanan Jazz Festival 2026
momen nonton Prambanan Jazz Festival 2026 (IDN Times/Elizabeth Chiquita)

Satu hal yang cukup mengganggu selama tiga hari adalah perilaku penonton yang kurang tertib soal zonasi. Meski sudah ada aturan jelas bahwa kursi lipat dan tikar hanya boleh digunakan di area "Leyeh-leyeh" dan "Bungah", banyak penonton nakal yang membukanya tepat di tengah jalan area Festival. Hal ini cukup mengganggu, karena kadang memenuhi area penonton.

Banyak yang bersikeras tidak mau melipat kursi mereka meski sudah menghalangi akses jalan orang lain. Disayangkan memang, karena menegur sesama penonton sering kali berujung pada rasa tidak enak, padahal kenyamanan bersama adalah kunci menikmati sebuah festival.

Itulah pengalaman seru sekaligus menantang saya di Prambanan Jazz Festival 2026. Meski penuh drama, memori menonton musik di latar situs warisan dunia tetap menjadi momen yang tak tergantikan. Sampai jumpa di PJF tahun depan, semoga dengan manajemen crowd yang lebih baik lagi!

Share Article
Curated For You
Topics
Editorial Team
Zahrotustianah
EditorZahrotustianah

Related Articles

See More